Shalat Sang Pembeda

Shalat sang pembeda

An-Najah.net – Generasi muda harapan bangsa. Terdengar kumandang iqamah, Jamaah shalat mengatur shaf. “Sawuu shufuufakum fainna taswiyata shufuf min tamaamissholaah.” (Luruskanlah shaf karena lurusnya shaf merupakan bagian dari kesempurnaan shalat)”, komando imam agar merapikan shaf, menoleh sebentar ke arah makmum kemudian bertakbir” Allahu Akbar”.

Kebiasaan Yang Buruk

Sekelompok anak yang sudah berada di halaman masjid sejak azan terlantun, belum juga tergerak masuk masjid untuk bergabung dengan jamaah shalat. Mereka tetap asyik mengobrol. Tanpa beban dan rasa bersalah.

Baca juga: Generasi Rabbani, Generasi Reformis

Rakaat pertama telah berlalu, rakaat kedua selesai, hingga duduk tahiyat awal. Ketika jamaah shalat memasuki rakaat ketiga atau yang terakhir karena jamaah itu sedang melaksanakan shalat maghrib, barulah sekelompok anak itu masuk, mengenakan sarung, merapikan diri dan ikut berjajar ”heboh”.

Dengan terburu-buru, sebagian mereka menyusul untuk “menyamakan kedudukan” rakaat jamaah Iain. Sebagian Iain ada yang menambah shalat setelah imam mengucap salam.

Aneh tapi nyata. Prihatin? YA! Mengapa? Karena, kejadian itu tidak hanya dua tiga kali ditemui, tapi hampir setiap kali shalat berjamaah di masjid yang dihadiri oleh anak-anak itu. Mereka pun bukan Iagi anak-anak balita yang masih mendapat keringanan. Mereka, anak-anak yang telah baligh. Mukalaf. Sebagian mereka, bahkan ada juga yang bersekolah di sekolah berlabel Islam. Anehnya lagi, di antara jamaah itu ada para ayah anak-anak tersebut.

Amanah Ilahi

Lantas timbul Pertanyaan, bagaimana itu bisa terjadi berulang? Siapa yang salah? Siapa yang harus bertanggung jawab?

Tanggung jawab terbesar, tentulah di pundak orang tua. Memantau keseharian anak dan kegiatan yang mereka lakukan, mengarahkannya dengan baik dan benar dengan penuh kesabaran. Terutama masalah SHALAT! Karena shalat adalah amal utama dan sang pembeda.

Baca juga: Ciri Generasi Yang Buruk, Meninggalkan Shalat

Lingkungan pun dapat memberi pengaruh. Bila para jama’ah dewasa yang hadir sepakat mengingatkan anak-anak itu, baik dengan katakata atau tindakan. Lambat laun, anak-anak itu akan mengerti bahwa apa yang mereka lakukan mengganggu dan salah!

Ingatlah saudaraku, anak keturunan kita adalah amanah dari Allah Ta’ala, dan kelak di akhirat akan dipertanggungjawabkan. Bagaimana kita mendidiknya, sudah betulkah pendidikan yang kita ajarkan, apakah saling menasehati dalam amar ma’ruf nahi munkar, dan lain sebagainya. Yang mana semuanya akan disoal dan dipertanggungjawabkan.

Maka, langkah menuju masjid sembari membisik doa hingga sampainya, kaki kanan menapak altar baitullah dan mengucap “Allahumaftahlii abwaaba rahmatik” tak lupa menghatur sembah pada-Nya dua rakaat, tahiyyatul masjid dan menguntai mutiara pujian serta permohonan pada sang maha pemberi hingga imam shalat hadir mengawal jamaah. ltulah yang seyogyanya dilakukan seorang yang berniat suci menghadiri jamaah shalat di masjid.

Shalat Barometer Kehidupan

Shalat adalah ukuran baik dan buruknya amal. Melalaikannya bisa dibilang melalaikan atas perintah Allah Ta’ala dan kewajibannya sebagai seorang hamba.

Maka, tanamkanlah selalu urgensi shalat pada diri anak agar ia tak lupa, meremehkan dan melalaikannya. Sebagaimana Firman Allah Ta’ala, yang berbunyi;

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Adz-Zariat: 55-56). Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber            : Majalah An-Najah, edisi 95, hal. 47

Penulis             : Abdullah

Editor               : Ibnu Alatas