Siapa Usung Media Jihad di Indonesia?

Image result for jihad media

An-Najah.net  Sesaat setelah menara kembar WTC rontok oleh serangan Muhammad Ata dan kawan-kawan pada 9 September 2001, hiruk pikuk media luar biasa. Barangkali yang terbayang dalam benak kita seputar pemberitaan identifikasi dan jumlah korban, selain penayangan pesawat menabrak gedung sasaran yang disiarkan berulang-ulang. Namun, di luar itu ada kegiatan media yang—diakui atau tidak—bakal mengubah peta dunia setelah itu.

Seperti pernyataan NBC News yang menyarankan tindakan militer seharusnya diambil Bush untuk membalas serangan ini. Sementara CNN memberikan penegasan dalam setiap breakingnews-nya dengan judul “Attack on America,” atau slogan-slogan agresif dalam setiap pemberitaannya.

Media menjadi mesin propaganda perang yang dipimpin oleh Bush, sekaligus alat untuk mempengaruhi persepsi publik AS. Ketika mulai muncul pertanyaan atas korban sipil yang berjatuhan saat invasi AS ke Iraq, media memainkan peran penting untuk terus menjaga memori korban perang sipil pada serangan 11 September. Walhasil, muncul persepsi bahwa jatuhnya korban sipil di Afghanistan dan Iraq adalah balasan atas korban sipil pada 11 September.Maka, tak berlebihan bila wajah dunia seperti hari ini adalah pulasan media.

Di awal-awal, AS dengan medianya menang dalam perang opini kontra terorisme. Dunia hanya tahu terorisme adalah kata lain dari “kebrutalan” yang dilakukan oleh sekelompok Islam—bukan oleh yang dilakukan oleh kelompok lain, padahal kadang lebih kejam. Namun, meski perlahan, bandul kemenangan itu mulai berubah.

Mungkin tidak diduga sebelumnya, Al-Qaidah dengan sangat efektif menggunakan internet sebagai media untuk menghantam balik Amerika dan sekutunya. Sedikit berbeda dengan gaya AS yang terus menerus meratapi peristiwa 11 September untuk mengobarkan semangat dendam dan perlawanan, media-media Al-Qaidah justru banyak memberikan porsi penyemangat ketimbang meratap. Yang lebih sering dimunculkan justru keberhasilan-keberhasilan operasi militer mereka dalam menyerang pasukan AS dan sekutunya.

Operasi tersebut direkam dengan kamera begitu detil dalam setiap adegan. Tak berselang lama, tayangannya muncul di internet. Bahkan tak hanya saat terjadinya suatu operasi. Dalam beberapa kali, media Al-Qaidah juga meliput bagaimana para mujahidin melakukan persiapan demi persiapan sebelum melakukan sebuah operasi. Sepertinya, ada maksud tertentu yang dikehendaki oleh Al-Qaidah dengan model pemberitaan seperti tersebut.

Pertama, teror mental terhadap setiap pasukan AS beserta keluarganya. Melihat kawannya hancur-lebur dihajar ranjau, atau gedung markasnya porak poranda oleh bom mobil setidaknya akan menimbulkan perasaan was-was dan tidak aman. Sementara internet menjadi kurir yang membawa pesan dan ancaman yang menelusup hingga ke setiap rumah di AS dan negara-negara sekutunya. Tentu saja rumah hunian keluarga serdadu yang sedang bertugas di lapangan.

Kedua, tayang seperti itu juga bisa mengobarkan semangat perlawanan kaum Muslimin lainnya yang terzalimi. Pompa moral seperti inilah yang membuat sebuah kaum tertindas tidak hanya puas meratap dan menangis. Aksi-aksi Al-Qaidah yang ditayangkan secara vulgar sedikit banyak akan memberikan inspirasi perlawanan. Teknik operasi: mulai dari pelatihan, survei hingga pelaksanaan dalam beberapa bagiannya dapat dipelajari dan ditiru (copas, copy-paste).

Teknik copas tersebut juga terjadi pada pemikiran-pemikiran Al-Qaidah. Artikel-artikel berisi pemikiran tokoh-tokoh Al-Qaidah membanjiri situs-situs mereka, membuat publik tahu mengapa dan atas dasar apa Al-Qaidah bertindak. Sementara itu, rangkaian kata demi kata yang terpampang di dunia maya itu pun akhirnya membentuk karakter dan pola pikir beberapa simpatisan Al-Qaidah. Sebuah pewarisan ideologi pun terjadi, menembus sekat-sekat imigrasi antar negara yang superketat, mengarungi ribuan mil lautan.

Inilah yang membuat Hillary Clinton ketir-ketir. Mantan Menlu AS Hillary Clinton mengatakan bahwa dia telah menciptakan unit baru pemerintah untuk membuat kontra propaganda jihadis di jejaring sosial. “Jika Al-Qaidah mengupload sebuah video yang mengatakan betapa buruknya Amerika, maka unit tersebut akan membalas dengan video yang menjelaskan betapa buruknya Al-Qaidah.” Clinton menambahkan bahwa pemerintah Amerika telah meninggalkan radio dan televisi. Celah ini akhirnya diisi oleh propaganda para jihadis.

Kehadiran internet membawa “madzhab” baru dalam seni olah (dan perang) informasi. Madzhab itu pula yang kemudian menciptakan sebuah genre baru dalam dunia media, yaitu media jihad. Usamah bin Ladin sendiri pernah mengatakan, “Pekerjaan media adalah separuh dari jihad.” Ungkapan itulah yang dinukil Abu Bashir Al-Wuhaisy rahimahullah, Amir Al-Qaidah Yaman kepada seorang pemuda bernama Shamir Khan. Pemuda ini di kemudian hari menciptakan majalah jihad digital yang cukup fenomenal, Inspire.

Meski demikian, lapangan jihad di sektor media ini masih minim personal. Dalam konteks Indonesia di mana lebih dominan benturan pemikiran dibanding fisik, keberadaan SDM yang bisa menyajikan ideologi jihad dalam bahasa yang mudah dipahami dan diterima oleh orang awam, sudah mendesak. Media-media yang ada cenderung berperan hanya sebagai penyambung lidah dari media jihad alami yang sudah ada. Seperti copy-paste video-video jihad, terjemah statemen-statemen tokoh dan organisasi jihad, dan sebagainya.

Belum banyak yang menyajikan tajuk rencana atau editorial khas media tersebut dalam mewacanakan jihad di Indonesia. Bahkan dialektika dalam beberapa media dan forum (mengaku) jihad di Indonesia seringkali kasar dan jauh dari etika Islami. Hanya perlu sedikit perbedaan pandangan saja untuk dapat memicu caci-maki. Seolah yang berbeda pendapat semuanya adalah musuh, tak ada orang awam yang memang perlu penjelasan secara bijak.

Semoga saja itu hanya bagian dari dinamika sebuah revolusi teknologi informasi. Seiring dengan berjalannya waktu, kita masih berharap datangnya generasi jihad media berikutnya di Indonesia yang tak hanya jago mematahkan argumen lawan, tetapi juga fasih memberi penjelasan kepada masyarakat awam. Penjelasan tentang apa, mengapa dan bagaimana harus berjihad, dengan bahasa yang logis, komunikatif dan dialektis.

Seranglah dengan syair, sesungguhnya seorang mukmin itu berjihad dengan diri, harta dan demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, berjihadlah dengan tangan kalian. Syair itu seperti serangan dengan panah. ” (HR. Ahmad)

Tony Syarqi, diinspirasi oleh Laporan Lembaga Kajian Syamina (http://syamina.org/syamina29-Peran-Penting-Media-dalam-Menyuarakan-Jihad.html)

Diambil dari Majalah lslam An-Najah Edisi 98, Januari 2014 rubrik Teropong

Editor: Sahlan.