Sifat dan Karakter Wali Syaitan dalam Islam

Wali Syaitan, Fir'aun

An-Najah.net – Dalam surat al-Fatihah dijelaskan setidaknya ada dua syarat pokok agar bisa menempuh shirotol mustaqim. Jalan lurus, yang senantiasa diminta oleh seorang muslim minimal tujuh belas kali dalam sehari. Kedua syarat tersebut adalah;

Pertama: Mengkaji akidah, akhlak, ibadah dan karakter orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah SWT (أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ), kemudian meneladani mereka dalam kebaikan, pada seluruh sisi kehidupan, dan semaksimal kemampuan seorang hamba. Mereka inilah wali Allah SWT.

Kedua: Mengkaji akidah, akhlak, ibadah dan karakter orang-orang yang dilaknat oleh Allah SWT, yaitu wali setan (غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ). Lalu menjauhkan diri, keluarga dan keluarga dari ciri khas wali setan ini.

Perjalanan menuju shirotol mustaqim tidak akan lurus, hingga kedua syarat ini terpenuhi. Seseorang yang mengetahui ciri khas wali Allah SWT, namun tidak mengetahui ciri khas wali setan, berpotensi terjerembab dalam perangkap-perangkap wali setan.

Inilah alasan sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman untuk selalu antusias menanyakan perkara-perkara yang buruk kepada Rasulullah SAW. Beliau khawatir terjerembab dalam keburukan tersebut. Beliau berkata;

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِيْ

“Dulu, para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan. Adapun saya, bertanya kepada beliau SAW tentang keburukan. Saya khawatir, ia menimpaku.” (HR. Bukhari)

Ini juga yang menjadi rahasia para sahabat menjadi generasi yang terbaik umat ini. Menurut Ibnul Qayyim al-Jauziyah RHM; Dahulu kala para sahabat adalah orang-orang yang hidup di alam jahiliyah, sehingga mereka paham betul ideologi dan karakter jahiliyah. Ketika Islam datang, mereka pun paham ideology dan karakter Islam. Sehingga mereka bisa membedakan keduanya dengan baik. (al-Fawa’id: 108)

Allah SWT berfirman;

وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآياتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرمين

“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.”. (Qs. Al-An’am: 55)

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah menjelaskan, “Allah SWT telah menerangkan jalan orang-orang beriman dan jalan orang-orang mujrimin (pendosa) secara terperinci. Allah SWT, juga telah memerinci perbuatan, akibat, wali serta sebab-sebab mereka diberi hidayah dan disesatkan oleh Allah SWT.  Orang yang mengetahui Allah, Rasul-Nya dan kitab-Nya telah mengetahui karakter (jalan) orang-orang yang baik secara terperinci, dan jalan orang-orang yang buruk secara terperinci juga.” (al-Fawa’id: 108)

Karakter Wali Syaitan

Di sinilah urgensi mempelajari wali setan. Sebab mereka adalah musuh terdepan orang-orang beriman. Setiap usaha dan upayanya ditujukan untuk menghalangi seorang hamba dari shirotol mustaqim. Inilah misi utama Iblis, nenek moyang setan. Sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an;

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

“Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,” (Qs. Al-A’rof: 16)

Orang-orang kafir yang tidak memeluk agama Islam adalah manusia teratas dalam level wali setan. Usaha mereka sejalan dengan Iblis laknatullah alaihi. Allah SWT membongkar rahasia mereka dalam firman-Nya;

 

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan.” (Qs. 8:36)

Selain orang-orang kafir asli, terdapat orang-orang munafik dan para pendosa yang sadar atau tidak sadar menjadi wali serta loyalis setan. Mereka ini bisa diindikasikan dengan beberapa kriteria yang melekat padanya.

Diantara kriteria tersebut adalah;

Pertama: Berjihad dan berjuang di jalan thaghut.

Jika wali Allah SWT berjuang dan mempersembahkan jiwa-raganya demi Allah, dan untuk kemulian Islam. Berbeda dengan wali setan, mereka berjihad, berdakwah dan beramal shaleh di jalan thaghut (selain Allah dan selain sistem-Nya) dan dengan tujuan selain ridha Allah; meninggikan panji kesyirikan, kekufuran, nasionalisme dan sejenisnya.

Allah berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah wali-wali setan. Sesungguhnya tipu daya setan sangatlah lemah.” (Qs. An-Nisa’: 76)

Kedua: Cinta dan taat kepada syaithan, ingkar kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Jika orang beriman memberikan ketaatan muthlak kepada Allah SWT. Sebagai bukti kecintaan mereka kepada Allah SWT. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah  dalam Al Furqon Baina Auliya’ir Rohman wa Auliya’us Syaithon mengatakan,

“Bukan termasuk wali Alloh melainkan orang yang beriman kepada Rasulullah SAW, beriman dengan apa yang dibawanya, dan mengikuti secara lahir dan batin. Barangsiapa yang mengaku mencintai Allah dan wali-Nya, namun tidak mengikuti beliau maka tidak termasuk wali Allah bahkan jika dia menyelisihinya maka termasuk musuh Allah dan wali setan. Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.(Qs. Ali Imron : 31)

Kecintaan terhadap dunia, membuatnya menghalang-halangi manusia dari jalan Allah SWT:

الَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ

“(Yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.” (Qs. Ibrahim:3)

Ketiga: Berhukum Kepada Thaghut, Melawan Hukum Allah SWT

Bukti iman seseorang adalah pasrah dan tunduk secara totalitas kepada syari’at dan hukum Islam. sebab, iman terletak dalam hati, pembuktiannya dengan ketulusan diatur oleh syari’at-Nya. Berbeda dengan wali-wali setan, mereka berhukum kepada thaghut (selain Islam, aturan-aturan yang bertentangan dengan syari’at), dan selalu menghalang-halangi terealisasinya syari’at Islam.

Allah SWT befirman;

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut. Padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu.

Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (Qs. An-Nisa’: 60-61)

Keempat: Sangat Cinta Dunia, mengabaikan akherat.

Cinta dunia dan cinta akherat tidak akan bersatu dalam jiwa seseorang. Keduanya bertolak belakang. Jika cinta dunia bersemayam di hatinya, maka cinta akherat akan terusir dari hatinya. Cinta akherat, akan menjadikan tujuan seseorang selalu untuk Allah SWT. Sementara cinta dunia, akan memalingkannya dari tujuan ini.

Allah SWT mengingatkan para hamba-Nya untuk mewaspadai dunia dalam banyak ayat. Sebab ia akan memalingkannya dari mencari ridha Allah SWT. Allah berfirman;

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.

Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Qs. Al-Hadid: 20)

Pun Rasulullah SAW telah mewanti-wanti umatnya untuk mewaspadai dunia. Sebab ia bisa merenggut iman. Beliau mengingatkan;

فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا، كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، وَتُلْهِيَكُمْ كَمَا أَلْهَتْهُمْ

“Demi Allah, bukan kefakiran yang aku takutkan terhadap kalian, tapi yang aku takutkan terhadap kalian adalah; bila dunia dibukakan untuk kalian, sehingga kalian saling berlomba mendapatkannya, sebagaimana umat sebelum kalian saling berlomba di dalamnya, lalu dunia itu membinasakan kalian sebagaimana dunia itu telah membinasakan mereka.” (HR. Bukhari)

Sehingga wali-wali Allah SWT senantiasa mewaspadai dunia. Tidak mengambilnya, kecuali untuk memperkuat ibadah kepada Allah SWT. Berbeda dengan wali setan; tujuan utamanya adalah dunia. Inilah yang menyebabkan mereka berani melanggar perintah-larangan Allah SWT.

Allah mengisahkan mereka;

“Akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.

Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai. Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi.” (Qs. An-Nahl: 106-109)

Inilah beberapa karakter khas wali setan. Semoga kita bisa menjadi wali Allah SWT. Dan terselamatkan dari tipu daya wali setan.*

Penulis : Akram Syahid

Sumber : Majalah An-najah Edisi 138 Rubrik Tema Utama

Editor : Abu Mazaya