Sinergi dan Singkronisasi Dalam Amal Iqamatuddin

Puzzel illustration
Puzzel illustration

An-Najah.net – Beramal jamaai di zaman ini seperti menggambar satu lukisan. Dibutuhkan beragam bergam warna dalam membentuk pola dan goresan. Lukisan dengan satu warna saja tekesan monoton. Ketika puluhan atau ratusan warna dikombinasikan bersama, hasilnya adalah lukisan yang terkesan ‘hidup’ dan ‘bernyawa’. Bahkan, bisa menjadi karya seni yang nilainya miliaran.

Seperti itulah proses menegakkan agama atau iqomatuddin. Diperluan beragam talenta untuk mengisi ruang-ruang amal Islami yang masih banyak kosong. Terlalu banyak PR dan pekerjaan yang mustahil dipikul satu orang atau satu ormas tertentu. Apalagi di saat Islam mendapatkan banyak serangan dari luar. Baik fisik maupun pemikiran. Kendati demikian, kita patut berbangga hati. Semangat untuk kembali kepada Islam mulai bersemi.

Baca Juga : Sunnatullah Kemenangan Dalam Iqamatuddin

Istilah-istilah yang dulu hanya dibicarakan dalam majelis halaqah menjadi populer. Terminologi hijrah, syariat Islam, khilafah, umat hingga jihad menjadi kajian sehari-hari. Apakah ini merupakan fenomena kebangkitan Islam? Kita berharap demikian. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu kita renungkan agar semangat ini bukan gerakan sesaat yang menguap begitu saja.

Pertama, berjamaah merupakan satu hajat dasar manusia.

Bentuk ideal komunias muslim ialah terhimpun dalam satu jamaatul muslimin di bawah satu kepemimpinan yang syar’i. Syariat Islam ditegakkan. Sang amir menjalankan tanggung jawab dalam  memenuhi hajat hidup masyarakat banyak. Baik rakyat yang muslim maupun kafir nonmuslim dilindungi menurut hak masing-masing.

Ini bukan mimpi atau nostalgia masa lalu. Keberhasilan Islammenjadi penguasa dunia di masa lalu cukup menjadi bukti bahwa Islamrelevan untuk ditegakkan hingga akhir zaman.

Umat katolik bisa dijadikan pembanding. Meskipun terpisah oleh batas negara, namun satu dalam kepemimpnan Paus. Begitu pula pengikut Syiah, memiliki pemimpin yang disebut wilayatulfaqih. Kedudukannya lebih tinggi dari presiden sekalipun.

Berkomunitas merupakan satu hajat dasar manusia. Terikat dalam satu struktur sosial. Ada pemimpin dan ada anggota. Inilah mengapa Islam mengatur masalah kepemimpinan dan berjamaah. Jika umat mengabaikan aturan Islam ini, maka hajat tersebut akan diatur oleh kelompok di luar Islam.

Baca Juga : Iltizam Kepada Jama’ah, Karakter Salaf

Kedua, kepemimpinan dan berjamaah merupakan bagian integral Islam

Islam tidak terbatas dalam ajaran akidah dan ibadah belaka. Rasulullah SAW bahkan menghubungkan antara tauhid dengan berjamaah;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ

Dari Abu Hurairah yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Allah ridha (suka) kalian melakukan tiga hal dan membenci kalian melakukan tiga hal. Ridha jika kalian beribadah hanya kepadanya tanpa menyekutukan dengan apapun. Memegang teguh kali Allah bersama-sama tanpa berpecah belah. Allah membenci jika kalian bergosip, banyak bertanya dan memboroskan harta.” (HR. Muslim)

Memegang erat tali Allah disebut dengan i’tisaham. Kata ini diambil dari akar kata ishmah yang artinya perlindungan. Jadi memegang ajaran Islam tidak seperti menggenggam sesuatu. Namun seperti memegang tali yang akan menyelamatkan dari bencana. Jika tali itu dilepas ia akan jatuh dan binasa.

Di masa fitnah akhir zaman, jalan keselamatan ada dalam berjamaah. Sebagaimana nasehat Rasulullah SAW kepada Hudzaifahbin Yamansaat muncul banyak orang yang menyeru manusia ke pintu neraka jahannam:

تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا

“Pegang teguh jamaatul muslimin dan imam mereka.”

“Jika kaum muslimin tidak memiliki jamaah dan pemimpin,” tanya Hudzaifah.

Rasulullah menjawab, “Maka jauhi semua firqah-firqah tersebut.” (HR. Bukhari)

Umar bin khattab berkata, “Wahai bangsa Arab. Islamtidak tegak tanpa berjamaah. Tiada jamaah kecuali dengan kepemimpinan. Tiada kepemimpinan kecuali dengan kepatuhan.”

Baca Juga : Kebersamaan dalam Perjuangan

Ketiga, saat jamaatul muslimin belum terwujud

Inilah kondisi yang dialami umat Islam pasca runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Umat Islam dipecah dalam negara-negara kecil yang terpisah satu sama lain. Menurut DR hakim Mathiri, ketika jamaatul muslimin belum terwujud, bukan berarti syariat ini ditinggalkan. Sebagaimana kaidah fiqih berbunyi. Ma la yudrakukulluhu la yutrakujulluhu. Apa yang tidak bisa dilakukan seutuhnya, tidak boleh ditinggalkan sama sekali.

Dalam beriqomatuddin, umat Islam melakukannya dengan dua cara;

Pertama, fardiyyah atau individual. Masing-masing menggunakan cara sendiri-sendiri menurut potensi yang dimiliki. Ada yang berdakwah lisan dan tulisan. Banyak pula yang berkiprah lewat harta, dan lainnya.

Kedua, berjamaah, berharokah atau lewat organisasi. Beberapa orang melebur dalam satu kelompok yang fokus dalam satu amal tertentu. Seperti lembaga pendidikan, organisasi kemanusiaan, lembaga amil zakat, hingga tim hisbah amar makruh nahi mungkar.

Banyaknya gerakan Islam atau harokah Islamapakah bencana atau berkah yang patut disyukuri. Bisa dua-duanya, tergantung siapa yang menjalankannya. Akan menjadi menjadi bencana jika saling bersaing dan menjatuhkan. Namun akan menjadi berkah jika saling memahami, saling taawun dan melakukan singkronisasi lewat networking.

Networking akan menyatukan harokah-harokah tersebut. Perbedaan struktural dan bidang amal bukan kendala lagi. Masing-masing bekerja di bidangnya dan dalam lingkup organisasinya secara terpadu. Walau bukan satu di bawah satu komando kepemimpinan.

Baca Juga : Mempertegas Makna Ukhuwah Islamiyah

Allah berfirman yang artinya:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2)

Evolusi selanjutnya dari ikatan networking ini ialah membentuk majelis syura. Satu badan yang menjadi rujukan saat terjadi perselisihan. Di tingkat akar rumput gesekan sering terjadi. Kasus Suriah menjadi bukti pentingnya majelis syura ini. Perselisihan antar harokah dan kelompok selesai di tingkat majelis syura. Masing-masing ridha dengan keputusan alim yang menjadi qadhi atau hakimnya.

Taawun dan majelis syura ini meski bukan solusi total, paling tidak menjadi batu loncatan untuk menuju jamaatul muslimin. Ketika jamaah belum terwujud secara formal, paling tidak fungsinya tidak boleh ditinggalkan. Wallahu a’lam.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 157 Rubrik Tema Utama

Editor : Anwar