Sistem Demokrasi Versus Syariat Ilahi

Sistem Demokrasi Versus Syariat Ilahi
Sistem Demokrasi Versus Syariat Ilahi

An-Najah.net – Kaum muslimin tidak akan mungkin mencapai tujuan mereka atau merealisasikan satu pun dari tujuan-tujuan Islam melalui jalan demokrasi atau sistem demokrasi, kecuali menggantinya dengan syariat Islam yang hakiki.

Syariat Ilahi Harga Mati

Islam adalah din Allah Ta’ala yang disyariatkan untuk hamba-Nya. Sebagai din rabbani, yang mempunyai tujuan-tujuan dan sarana-sarana yang khusus yang bersumber dari Allah Ta’ala. Tujuan-tujuan Islam tidak mungkin diraih kecuali melalui sarana-sarana syar’i yang diterangkan dalam Al Qur’an dan as sunah.

Baca juga: Syariat Ilahi Harga Mati

Tujuan syar’i mana pun yang dicari tidak melalui sarana yang syar’i yang benar, maka cara tersebut merupakan sebuah kesesatan dan menyimpang dari kebenaran. Berarti juga melaksanakan ketaatan tidak sesuai dengan yang disunahkan dan disyariatkan.

Minimal status hukumnya adalah bidah yang sesat. Sementara Allah Ta’ala tidak akan menerima ibadah dari hamba-Nya kecuali bila dilaksanakan sesuai cara yang telah diperintahkan dan disyariatkan kepada mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia menyekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabb-nya”. (QS. Al-Kahfi: 110)

Juga firman-Nya yang berbunyi,

“…dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-An’am: 153)

Menempuh Jalan Setan

Tidak diragukan lagi bahwa demokrasi adalah jalan setan yang memecah belah manusia dan menjauhkan mereka dari jalan Allah Ta’ala yang lurus. Barang siapa menempuh jalan demokrasi dan menempuh sarana-sarana demokrasi berarti telah menempuh jalan setan. Bagaimana mungkin orang yang menempuh jalan setan akan bisa mencapai pantai kemenangan dan keamanan dengan bahtera Islam ?

Baca juga: Masih Percaya Demokrasi!‎

Cara untuk meraih kehidupan Islami yang baru (tegaknya syariat Islam) harus dengan cara yang ditetapkan dan terangkan syariat Islam, tidak diserahkan kepada hawa nafsu dan akal manusia tanpa ada penjelasan dari Allah Ta’ala dan Rasulullah Saw. Maka, berkomitmenlah dengan jalan syariat tersebut, tak seorang pun boleh menyelisihi cara yang telah disunahkan dan disyariatkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Islam Agama Yang Sempurna

Bila ada ungkapan, “Syariat Islam itu belum lengkap dan sempurna karena ada beberapa perkara yang belum dijelaskan” maka, ungkapan tersebut telah menyelisihi nash-nash syariat yang menyebutkan din Islam telah sempurna, tak ada sebuah perkara pun yang dicintai dan diridhai Allah Ta’ala kecuali telah disebutkan dan dijelaskan Allah Ta’ala, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu.” (Q.S: Al-Maidah: 3)

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnah-nya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa’: 59)

Imam Ibnu Qayyim dalam I’lamul Muwaqi’in mengatakan,” Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu”, (menggunakan lafal nakirah ‘indifinitief’) dengan konteks syarat yang umum mencakup segala hal urusan din yang diperselisihkan, baik urusan yang besar maupun kecil, yang jelas maupun masih samar-samar.

Baca juga: Pilar-Pilar Hukum Daulah Islamiyah

Dari ayat ini, manusia bersepakat (ijma’ ulama) bahwa mengembalikan persoalan kepada Allah Ta’ala maknanya adalah mengembalikan kepada Al Qur’an, sedang mengembalikan persoalan kepada Rasulullah Saw artinya mengembalikan kepada pribadi beliau saat beliau masih hidup, dan kepada sunah beliau setelah beliau meninggal.” (Ibnu Qayyim dalam I’lamul Muwaqi’in, cet. 1, jilid 1, hal. 49)

Dalam riwayat yang sahih, beliau Rasulullah Saw juga bersabda,

مَا تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا أَمَرَكُمُ اللَّهُ بِهِ إِلَّا وَقَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ , وَلَا تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا نَهَاكُمُ اللَّهُ عَنْهُ إِلَّا وَقَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ

Tidak ada satu hal pun yang mendekatkan diri kalian kepada Allah kecuali telah aku perintahkan kepada kalian, dan tidak ada hal pun yang menjauhkan diri kalian dari Allah dan mendekatkan kepada neraka, kecuali aku telah melarang kalian melakukannya.” (HR. Baihaqi: 427)

Cukuplah syariat Allah Ta’ala dan Rasul-Nya sebagai pengatur seluk beluk kehidupan manusia. Dari bangun tidur sampai tidur kembali. Tiada syariat yang sempurna kecuali syariat Islam. Karena syariat Ilahi harga mati. Wallahu Ta’ala ‘Alam

 

Penulis            : Ibnu Jihad

Editor              : Ibnu Alatas