Skenario Hitam Rusia-AS di Menit-menit Terakhir Revolusi Suriah

obama-putin(an-najah.net) – Orang yang menyaksikan apa yang terjadi di dunia politik pasti bertanya-tanya. Dan akan lebih penasaran lagi bila memperhatikan beberapa peristiwa yang satu sama lain hampir bersamaan. Terutama yang berkaitan dengan peran antara Timur dan Barat dalam krisis Suriah, yaitu antara Rusia dan Cina di satu sisi dan Amerika Serikat dan Eropa di sisi lain.

Hal ini tampak jelas dalam sandiwara Dewan Keamanan dan ketidakmampuan dunia untuk menghentikan pertumpahan darah di Suriah, dalam hal ini Dewan Keamanan PBB dengan dalih hak veto. Hal ini tidak terjadi dalam agresi di Irak atau intervensi di Bosnia dan Kosovo.

Tiba-tiba saja, mereka langsung menggunakan isu senjata kimia, yang siap digunakan oleh rezim Bashar. Setiap pihak resmi atau pemimpin langsung menyatakan keprihatinan dan kekhawatiran penggunaan senjata kimia. Pihak lain siap campur tangan untuk mencegah rezim Suriah dari penggunaan senjata terhadap rakyatnya sendiri—seolah-olah penggunaan senjata mematikan lainnya diperbolehkan dan dapat diterima. Media mulai berbicara tentang rencana dan manuver di Yordania, pasukan Israel dan Amerika dilatih untuk siap mengendalikan senjata kimia dalam hitungan menit setelah lokasi ditemukan, selain film provokatif di beberapa media.

Entah kebetulan tetapi sebenarnya bukan kebetulan atau memang kebetulan, muncullah banyak pernyataan yang hampir bersamaan terkait isu tersebut, berikut di antaranya:

  1. (11/12/2012) Presiden AS Barack Obama, menyatakan pengakuan AS terhadap Koalisi Nasional bagi pasukan oposisi dan revolusi sebagai wakil yang sah bagi rakyat Suriah.
  2. (13/12/2012) Para peserta pertemuan “Kolega-Kolega Suriah” di Marrakech, yang mewakili 114 negara juga mengakui Koalisi Nasional tersebut sebagai satu-satunya wakil sah bagi rakyat Suriah.
  3. (07/12/2012) The Daily Telegraph mengutip sebuah laporan intelijen AS yang diperkirakan bahwa rezim Assad akan tumbang dalam delapan hingga sepuluh pekan, setelah Tentara Pembebasan meraih banyak kemenangan di lapangan.
  4. (7/12/2012) Robert Ford, duta besar AS untuk Suriah mengatakan, “Hari-hari rezim Assad yang berkuasa tinggal sebentar lagi, terutama setelah pertempuran di sekitar ibukota Damaskus semakin meningkat.”
  5. (6/12/2012) Ketua Parlemen Irak, Usamah Nujaifi menyebut, “Jatuhnya rezim Assad dalam beberapa pekan kedepan.” Ia menghimbau kepada para “pemberontak” Suriah untuk “bersikap bijaksana kepada anak-anak dari sekte Alawite. Ia juga menambahkan, “Banyak data yang menunjukkan bahwa banyak hal akan berubah di Suriah dalam beberapa pekan ke depan.”
  6. (12/12/2012) Surat kabar Rusia “Kommersant”, menyebutkan bahwa Rusia tidak setuju dengan langkah AS yang akan meyakinkan Assad untuk mengundurkan diri. Kata laporan itu, “Rusia tidak bermaksud untuk membujuk Presiden Suriah mundur secara sukarela” dan bahwa “Moskow yakin bahwa Assad tidak akan keluar secara sukarela.” Menteri Luar Negeri AS Clinton mengatakan kepada Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, dalam pertemuan baru-baru ini di Dublin bahwa pemerintah Assad akan jatuh cepat atau lambat, dan bahwa jika tidak ada pemerintahan transisi kemungkinan Suriah jatuh dalam kekacauan, kekerasan dan perselisihan sektarian.
  7. (10/12/2012) Surat kabar Amerika Serikat, The Christian Science Monitor menyebutkan bahwa Suriah sekarang dikepung oleh pihak oposisi di ibukota Damaskus, yang menunjukkan bahwa hari-hari Presiden Suriah Bashar Assad tidak akan lama lagi.
  8. (13/12/2012) Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Mikhail Bogdanov, mengatakan hari Kamis bahwa rezim Suriah kehilangan kendali negara. Kemungkinan kemenangan oposisi tidak bisa diremehkan. Saluran “Russia Today”, mengutip ungkapan Bogdanov dalam pidato di ruang sosial Rusia “Fakta yang ada harus diperhatikan… sistem dan pemerintah Suriah kehilangan kontrol negara lebih dan lebih.”
  9. (16/12/2012) Namun, para pakar menyebut, jatuhnya rezim Assad tidak segera terjadi, laporan surat kabar Al-Hayat.

Kebalikan dari itu semua, Amerika Serikat mengambil langkah yang sulit dimengerti – pada waktu itu – dengan memasukkan Jabhah Nusrah, salah satu kekuatan perlawanan, ke dalam jaringan teroris internasional, yang diikuti oleh laporan intelijen Israel tentang semakin dekatnya kemenangan Jabhah Nusrah karena menggunakan senjata kimia.

Intelijen Israel dalam laporannya menyebutkan bahwa “jika Assad gagal mencegah para pejuang Al-Qaidah untuk memasuki gudang penyimpan bahan kimia di Safirah, lalu mereka berhasil menggunakan senjata kimia untuk pertama kalinya, saat itulah Amerika Serikat terpaksa melakukan serangan udara—bukan kepada tentara Assad, melainkan kepada para pemberontak yang memerangi Assad. Karena, jika Al-Qaidah berhasil mengendalikan gudang senjata kimia, mereka pasti melepaskan rudal dengan hulu ledak kimia terhadap pusat-pusat rezim Assad di Damaskus. Jaatuhnya Safirah ke tangan Al-Qaidah akan mengubah perang sipil Suriah menjadi roket perang kimia”

Untuk melengkapi semua peringatan di atas, perangkat Bashar mengeluarkan pernyataan tentang potensi pelepasan senjata kimia ke daerah pemukiman oleh “kelompok teroris”.

Angle lain tidak kalah penting, adalah laporan serentak yang menyatakan bahwa sejumlah besar

Wilayah Pantai Suriah
Wilayah Pantai Suriah

pemimpin Alawite melarikan diri bersama keluarga mereka ke wilayah Pantai Suriah.[1] Ahmad Jibril dikabarkan berpindah dari kamp pengungsi Yarmuk ke Thurthus. Berita sebelumnya menyebutkan kemungkinan untuk membuka cabang Bank Sentral Suriah di wilayah Pantai, dan rehabilitasi bandara pertanian di Thurthus menjadi bandara sipil. Nizar Ismail Musa, Gubernur Thurthus, 20/9/2012, telah menyiapkan segalanya untuk menyambut Basyar dan beberapa elit parta Ba’ats, dan setelah itu skenario pun diterapkan.

Ada apa dengan semua itu?

Beberapa poin berikut bisa menjadi jawabannya:

  1. Dunia yang “beradab” ini telah tinggal diam dan membiarkan rakyat Suriah yang menghadapi mesin pembunuh dan kriminalitas sendirian. Ini adalah poin penting bagi Barat.
  2. Rusia dan Amerika Serikat, termasuk Israel tidak akan membiarkan kehancuran Suriah sebagai negara, bangsa, dan institusi lepas dari kepentingan mereka.
  3. Memperpanjang revolusi Suriah akan membawa kehancuran lebih, dan melemahnya negara selama bertahun-tahun.
  4. Amerika Serikat dan Rusia saling bertukar peran untuk mendahului keputusan PBB, dan untuk membenarkan kurangnya dukungan terhadap rakyat Suriah.
  5. Intervensi hanya akan berlangsung pada menit terakhir krisis Suriah untuk mencegah kemenangan rakyat atas penguasa, dan untuk menjaga situasi dalam posisi kebuntuan, persis yang terjadi di Bosnia.
  6. Amerika harus mencari pembenaran untuk intervensi pada menit terakhir tersebut.
  7. Untuk itu, harus ada dua partai “resmi” yang bertarung pasca revolusi. Dan ini tidak akan ada sebelum pengakuan Koalisi Nasional.
  8. Rezim Bashar nantinya akan menjadi sistem formal, sedangkan Koalisi Nasional adalah perwakilan yang sah tapi tidak sendirian.
  9. Setelah kekalahan beruntun, Bashar dan kekuatan utamanya akan bertahan di wilayah pantai untuk mengatur rencananya. Hal ini telah diulas dalam analisis panjang berjudul Pilihan Terakhir Assad.[2]
  10. Pilihan Bashar ini bergulir secara dramatis. Bashar akan menggunakan senjata kimia dari wilayah Pantai untuk menyelamatkan sisa-sisa wilayahnya, setelah terjepit, dan mungkin menuduh semua kelompok bersenjata sebagai teroris. Bagaimana pun roti kekuasaan itu tidak bisa dibagi-bagi oleh rencana dan konspirasi untuk menghancurkan Suriah.

Akan ada lagi implementasi skenario buah dari kesepakatan Rusia dan Amerika Serikat, selain Bashar Assad, yang telah menyiapkan alasan dan pembenaran selama dua pekan terakhir!

Intervensi militer internasional secara langsung akan memasuki Suriah, bukan dalam rangka membela rakyat Suriah, melainkan membasmi “para pemberontak” agar mereka tidak sampai mencapai kemenangan total atas tiran Suriah.

Majid Ali Abdul Jabbar mengomentari skenario ini dengan ungkapan, “Migrasi Alawite ke wilayah Pantai yang dibarengi dengan kesiapan militer Barat, dan ancaman untuk melakukan intervensi ketika perang menggunakan bahan kimia, adalah upaya untuk memisahkan antara para pihak dan perlindungan negara Alawite!”

Dengan demikian, semua yang terjadi tadi bukanlah suatu kebetulan atau bertepatan. Semua pernyataan, laporan, pernyataan  sikap, pengakuan, dan dimasukkannya Jabhah Nusrah ke daftar terorisme, semuanya berada di bawah skenario dan persiapan yang matang!

Itulah keinginan mereka. Itulah rencana mereka. Itulah bantuan mereka untuk menyelamatkan rezim Bashar.

Akan tetapi, kita percaya bahwa rakyat Suriah yang telah mencetak episode terbaik dalam pengorbanan dan tekad untuk mendapatkan kebebasan, tidak akan pernah menerima revolusi yang diaborsi. Kita yakin bahwa bukan hanya intervensi militer di Suriah untuk melindungi Israel, setelah gagal melindungi rezim Suriah, bahkan jika rakyat Suriah harus melakukan revolusi baru melawan penjajah baru, mereka siap mengorbankan harta dan nyawa. Wallahu musta’an.

Editor: Agus
___________________
[1] Pantai Suriah yang terletak di bagian barat laut dari wilayah Suriah dan merupakan kegubernuran Thurthus di selatan dan Latakia di utara.
[2] http://www.drhamami.net/lasthope.pdf