Sorotan Pergerakan “Salafiyun” dalam Menihilkan Jihad

salafiyun menihilkan perkara jihad
salafiyun menihilkan perkara jihad

An-Najah.net – Syekh Muhammad Ibrahim Syaqrah berfatwa, “Jihad paling utama hari ini (saat kita dalam kelemahan seperti sekarang ini) adalah menahan diri dari berjihad.” (Hiya AsSalafiyatu Nisbatan wa Aqidatan wa Manhajan)

Ada sebuah pertanyaan yang mengganjal dalam benak kita, manakala melihat kiprah gerakan “Salafiyun” di medan dakwah. Vonis-vonis keras kepada personal muslim atau kelompok Islam yang berada di luar arus mereka. Pengkultusan kepada para syuyukh (jama’ dari syekh) di kalangan mereka sehingga mereka tidak menerima bila syuyukh mereka dikritisi.

Baca juga: Khutbah Jumat ; Masuk Neraka Karena Taklid

Benarkah ini cerminan interaksi sosial ala ahlussunah terhadap ahlu bidah? Ataukah ada sesuatu yang salah? inilah sorotan pergerakan “Salafiyun” dalam menihilkan perkara jihad.

Ta’hil (menihilkan) jihad, itulah salah satu sikap “Salafiyun” yang mendakwahkan dirinya sebagai kelompok paling ahlussunnah. Bahkan, berani membidahkan kelompok yang tidak sejalur dengan mereka.

Padahal jelas, salah satu sifat ulama Thaifah Manshurah adalah Jihad fie sabilillah, berperang di jalan Allah Ta’ala untuk meninggikan kalimatullah. Bahkan, asbabul wurud hadits tentang Thaifah Manshurah pun berasal dari adanya sebagian sahabat Rasulullah Saw yang menyatakan jihad sudah selesai.

Berjihad Sampai Akhir Zaman

Jihad merupakan sifat tak terlepaskan dari generasi salaf as-shalih, dan jihad akan senantiasa berlanjut sampai umat Islam bertempur melawan Dajjal. Para ulama juga telah bersepakat bahwa manakala musuh menduduki salah satu negeri Islam, jihad menjadi fardu ain.

Baca juga: Fitnatul Akbar Ketika Meninggalkan Jihad

Negeri Islam pertama yang lepas ke tangan tentara salib adalah Andalusia (Spanyol), tahun 1492 M. Sampai hari ini, Andalusia tetap menjadi Negara Nasrani maka jihad membebaskannya fardu ain atas seluruh umat Islam yang mampu.

Bahkan, negeri Palestina yang hanya beberapa ratus kilometer dari pusat lahirnya gerakan “Salafiyun”, telah jatuh ke tangan Inggris sejak 1917 M, Ialu ditegakkan Negara Israel tahun 1948 M. Apalagi Yarusalem sekarang menjadi ibu kota Israel, yang di dalamnya terdapat masjid Al-Aqsho. Sampai saat ini, jihad untuk membebaskan Palestina belum tuntas, maka jihad untuk membebaskan Palestina menjadi fardu ain.

Benarkah Ahlussunnah?

Namun yang memilukan fatwa Syekh Muhammad Ibrahim Syaqrah, yang bermukim hanya beberapa ratus kilometer dari bumi Palestina.

“Silahkan Anda meneliti ayat-ayat yang datang untuk melengkapi dan menjelaskan ayat yang memerintahkan untuk mempersiapkan kekuatan (QS. Al Anfal: 60), maka Anda akan mengetahui bahwa jihad yang paling utama hari ini (saat kita dalam kelemahan seperti sekarang ini) adalah menahan diri dari berjihad.” (Hiya AsSalafiyatu Nisbatan wa Aqidatan wa Manhajan hal. 204)

Padahal, menurut para ulama, i’dad dalam ayat ini (QS. AI Anfal: 60) adalah i’dad menurut kemampuan (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anul Adzim, cet II, jilid 4, hal 82).

Ibnu Taimiyah juga menyatakan bahwa dalam perang defensif (mempertahankan diri) seperti manakala musuh menyerang negeri umat Islam, umat Islam tidak boleh mundur dari medan perang sekalipun musuh berkali-kali lipat dari jumlah umat Islam. Musuh dihadapi dengan kemampuan apa yang ada (Ibnu Taimiyah, Fatawa Al-Kubra jilid 1, hal. 236).

Baca juga: Mengedepankan Ukhuwah Islamiyah, Satu Upaya Mendamaikan Ahlu Sunnah di Nusantara

Jika mereka beralasan jihad harus menunggu perintah Amirul mukminin, maka sungguh ajaib pernyataan mereka. Amir mana yang mereka maksud? Jika Amir yang dimaksud adalah penguasa-penguasa sekuler hari ini, sungguh membingungkan.

Bukankah penguasa-penguasa sekuler hari ini, justru menjadi kaki tangan Yahudi, entah sadar atau tidak. Mungkin masyayikh “Salafiyun” lupa akan pernyataan Imam Ibnu Qudamah dalam AI-Mughni yang mengatakan, “Maka jikalau Imam tidak ada, jihad tidak boleh ditunda, sebab dengan menunda jihad maslahatnya hilang. Jika berjihad tanpa imam dan mendapatkan ganimah (harta rampasan perang), maka ganimah itu dibagikan oleh orang yang ahli sesuai dengan tuntunan syariat.” (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 8, hal. 353,)

lnilah gambaran sekilas pemikiran gerakan Murjiah ekstrim, yang hari ini dengan bangga menggelari dirinya sebagai gerakan Salafiyyah. Mereka menganggap penyelewengan mereka dari Aqidah Ahlussunah wal Jama’ah sebuah Darkara remeh, padahal di sisi Allah Ta’ala itu sebuah perkara yang besar. WalIahu Ta’ala ‘Alam

Sumber            : Majalah An-Najah edisi 58, hal. 9-10

Penulis             : Abdullah

Editor               : Ibnu Alatas