Sorotan Pergerakan “Salafiyun” dalam Perkara Taqlid dan Ta’ashub

taklid
taklid

An-Najah.net -An-Najah.net – “Barang siapa berpegang teguh dengan menaati para “ulama salafiyun”, mereka itulah yang selamat. Barang siapa memusuhi mereka, maka dialah orang yang tersesat.” (Ali Hasan Al-Halabi)

Ada sebuah pertanyaan yang mengganjal dalam benak kita, manakala melihat kiprah gerakan “Salafiyun” di medan dakwah. Vonis-vonis keras kepada personal muslim atau kelompok Islam yang berada di luar arus mereka. Pengkultusan kepada para syuyukh (jamak dari syekh) di kalangan mereka sehingga mereka tidak menerima bila syuyukh mereka dikritisi.

Benarkah ini cerminan interaksi sosial ala ahlussunah terhadap ahlu bid’ah? Ataukah ada sesuatu yang salah? lnilah sorotan pergerakan “Salafiyun” dalam Perkara Taqlid dan Ta’ashub.

Fanatisme Buta

Bila diperhatikan, sebenarnya sikap ini bukanlah sebuah kebetulan belaka. Sikap ini lahir dari sikap hizbiyyah mereka. Mereka terima dari para syuyukh mereka sendiri.

Baca juga: Ukhuwah Islamiyah, Bersatu Menuju Ridho Allah SWT

Betapa tidak, sejak awal belajar, seorang muslim yang bergabung dengan kelompok ini sudah didoktrin untuk menerima suatu dogma, “Bahwa kebenaran itu mempunyai tanda-tanda pengenal dan menara penerang, yang berwujud ajaran yang diterima dari kelompok mereka saja!”

ltulah yang diajarkan oleh syuyukh mereka. Di antaranya Syekh Ali Hasan AI Halabi Al Atsari. Seorang syekh panutan mereka yang mengaku sebagai Syekh salafiyyin ketiga. Kemudian Syekh Muhammad Nashirudin Al-Albani dan Syekh Muhammad Ibrahim Syaqrah.

Ali Hasan Al-Halabi menyatakan ijma’ “ulama” tentang kedudukan tiga syuyukh “Salafiyun” di atas, dengan mengatakan, “Para ulama kami yang agung itu, merekalah bintang-bintang pemberi petunjuk dan meteor yang tinggi, barang siapa berpegang teguh dengan menaati mereka. Mereka itulah yang selamat. Barang siapa memusuhi mereka, maka dialah orang yang tersesat.” (At Tahdziru Min Fitnati Takfir, hal. 39)

Baca juga: Khutbah Jumat ; Masuk Neraka Karena Taklid

Jika ini yang dikatakan oleh syekh panutan mereka, lantas bagaimana dengan para pengikut mereka? Statemen ini perlu mendapat catatan:

Pertama: ljma’ menurut para ulama adalah kesepakatan seluruh ulama mujtahid (bukan hanya para syuyukh “Salafiyun”) setelah wafatnya Rasulullah Saw, dalam suatu masa tertentu, atas suatu persoalan tertentu. Yang dimaksud dengan kesepakatan adalah tidak adanya pendapat yang menyelisihi, meski dari seseorang ulama pun.

Kedua: Pernyataan “Bahwa siapa yang bergabung dengan Syekh “fulan” dan membelanya benar atau salah, berarti diaIah kelompok yang paling benar. Sedangkan siapa yang mengkritik dan tidak bergabung dengan Syekh “fulan” dialah kelompok yang salah dan sesat.” Pernyataan tersebut merupakan sebuah hizbiyah dan taqlid buta yang terlarang, bukan sikap ahlussunnah.

Baca juga: Manhaj Salaf, Jalan Perjuangan Ibnu Taimiyah

Ahlusunnah Atau Ahli Bidah?

Lebih menariknya perkataan syekh Islam lbnu Taimiyah yang menuturkan, “Barang siapa berpedoman kepada Rasulullah Saw, kemudian manusia mengikutinya dan sejalan dengannya maka dia adalah seorang ahlusunnah. Namun apabila manusia menyelisihinya berarti ia adalah ahlu bidah dan firqah. Sebagaimana terdapat kelompok pengikut para ulama ahlu kalam dan kelompok lainnya yang termasuk ahlu bidah, dholal, dan tafaruq (pemecah belah persatuan Umat). (Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, jilid 3, hal. 216)

Subhanallah, pernyataan Syekh Islam lbnu Taimiyah ini telah menyingkap dengan jelas, siapa sebenarnya gerakan ”Salafiyun” ini.

Belum lagi pernyataan Imam Abdurahman lbnu Jauzi yang memaparkan, “Ketahuilah sesungguhnya mayoritas para ahlu bidah itu; dalam hati mereka ada ta’dzim (mengagungkan, mengkultuskan) seseorang (syekh, dll).

Mereka mengikuti perkataannya tanpa mentadaburi apa yang dikatakan. Sehingga kesesatan yang terjadi. Seharusnya yang diperhatikan adalah konten yang dikatakan, bukan kepada siapa yang mengatakan.

Baca juga: Bijak Dalam Perkara Bidah

Harits bin Hauth pernah berkata kepada Ali bin Abi Thalib “Apakah Anda menduga bahwa kami mengira Thalhah dan Zubair berada di atas kebatilan?” Maka Ali menjawab, “Wahai Harits, engkau ini terkena talbis (kerancuan). Sesungguhnya kebenaran tidak diketahui dari orang-orangnya. Ketahuilah kebenaran, maka engkau akan mengetahui pengikut kebenaran.” (Ibnu Al-Jauzi, Talbisu Iblis hal. 101)

Sesungguhnya gerakan “Salafiyun” telah mendapat peringatan, kritikan dan nasehat dari para ulama. Perselisihan-perselisihan mereka terhadap aqidah Ahlussunah wal Jama’ah sudah jelas. Namun, yang disayangkan sebagian dari mereka tetap bersikeras di atas pemahaman yang kurang tepat tersebut. Bahkan, semakin keras dan menyerang kelompok-kelompok umat Islam di luar mereka.

Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita di jalan yang benar. Mendoakan saudara-saudara kita semoga mereka mendapatkan petunjuk dari Allah Ta’ala, untuk kembali ke jalan yang benar. Amin. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber            : Majalah An-Najah edisi 58, hal. 8-9

Penulis             : Abdullah

Editor               : Ibnu Alatas