Sorotan Pergerakan “Salafiyun” Yang Mengatasnamakan “Wahabi”

Wahabi setengah hati
Wahabi setengah hati

An-Najah.net – Wahabi setengah hati. Ada sebuah pertanyaan yang mengganjal dalam benak kita, manakala melihat kiprah gerakan “salafiyun” di medan dakwah. Vonis-vonis keras kepada personal muslim atau kelompok Islam yang berada di luar arus mereka. Pengkultusan kepada para syuyukh (jama’ dari syekh) di kalangan mereka sehingga mereka tidak menerima bila syuyukh mereka dikritisi.

Baca juga: Sorotan Pergerakan “Salafiyun” dalam Perkara Taqlid dan Ta’ashub

Benarkah ini cerminan interaksi sosial ala ahlussunah terhadap ahlu bidah? Ataukah ada sesuatu yang salah? inilah sorotan pergerakan “Salafiyun” yang mengatasnamakan “Wahabi”.

Mengapa saya memakai tanda kutip untuk Wahabi? Karena secara istilah pemakaian kata Wahabi yang dinisbahkan kepada Syekh Muhammad bin Abdul Wahab tidaklah tepat. Lebih bertendensi politis dan persepsi negatif. Padahal, kalau mau jujur menisbahkan bukan kepada Abdul Wahab, tetapi kepada pemilik nama itu sendiri yaitu Muhammad, karena nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abdul Wahab At-Tamimi An-Najdi.

Wahabi Setengah Hati

Yang agak unik, para pengklaim ’salafiyun’ ini mengaku sebagai orang yang menebarkan dakwah tauhid, pewaris ideologi dan akidah Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Realitanya, sungguh jauh pengakuan mereka dari sosok dan akidah Syekh Muhammad bin Abdul Wahab.

Salah satu buktinya, mereka mengatakan penguasa yang berhukum kepada selain hukum Allah Ta’ala disebut ‘Amirul Mukminin’ yang konsekuensinya harus ditaati. Adapun membangkang dari mereka adalah khowarij dan bughot, darahnya halal ditumpahkan.

Baca juga: Berbagai Fitnah Di Akhir Zaman

Timbul pertanyaan di benak kita, apakah demikian akidah Syekh Muhammad bin Abdul Wahab? Tidak, jauh sekali. Justru Syekh Muhammad bin Abdul Wahab menegaskan salah satu gembong thaghut yang wajib diingkari dan dimusuhi adalah pemimpin yang menerapkan hukum selain hukum Allah Ta’ala.

Syekh berkata, “Gembong thaghut ada lima… Kedua: Setiap pemimpin yang zalim, yang mengganti syariat Allah Ta’ala. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (an-Nisa’:60). (Mu’allafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, hal.337)

Ingkar Kepada Thaghut Syarat Sah Keimanan

Jika Syekh mengatakan, mengingkari thaghut bagian dari kesempurnaan Islam. Bahkan dalam beberapa pernyataan Iain, beliau menjadikan ingkar kepada thaghut adalah bagian dari syarat sah iman seseorang (termasuk dalam hal ini adalah penguasa yang memusuhi syariat Islam).

Tapi di sisi Iain, justru “Salafiyun” yang mengklaim dirinya sebagai pewaris tunggal tongkat dakwah tauhid Syekh Muhammad, mewajibkan taat kepada pemimpin yang tidak berhukum kepada hukum Allah Ta’ala, menerapkan hukum thaghut dan sekuler. Bahkan, menghalalkan darah orang yang mencoba meluruskan penguasa tadi.

Baca juga: Mereka Memang Thaghut

Syekh Muhammad bin Abdul Wahab, berkata, “Bahkan din Islam tidak sah, kecuali dengan ber-bara’ (berlepas diri) dari mereka -yaitu para thaghut yang di ibadahi selain Allah Ta’ala serta mengkafirkan mereka, sebagaimana firman AIIah Ta’ala lalu beliau menyebutkan surat Al Baqarah: 256”.

Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita di jalan yang benar. Mendoakan saudara-saudara kita semoga mereka mendapatkan petunjuk dari Allah Ta’ala, untuk kembali ke jalan yang benar. Amin. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber            : Majalah An-Najah edisi 58, hal. 9

Penulis             : Abdullah

Editor               : Ibnu Alatas