Spirit Aksi 212, Cinta Perdamaian dan Amat Toleran

Islam cinta damai
Islam cinta damai

An-Najah.net – 2 Desember 2018 Aksi Bela Islam Jilid 2. Konglomerat mana yang mampu membayar belasan juta umat berkumpul?

Kekuatan politik mana yang mampu gerakkan belasan juta umat bayar tiket sendiri menuju Jakarta?

Parpol mana yang mampu gerakkan ribuan emak-emak beramai-ramai menyiapkan makanan dan minuman secara gratis untuk saudaranya?

Inspirasi apa yang mampu gerakkan usia lanjut dan kaum difable (keterbatasan diri) hanya bertongkat dan merangkak menuju monas?

Baca juga: Tiap Jiwa Mempunyai Cerita, Hingga Ibrah pun Terpetik Karenannya

Kami di bersemangat dan bersatu karena kalimat “لا إله إلا الله محمد رسول الله” Yang mampu menyatukan kami hanyalah kekuatan Allah Ta’ala!

Terinspirasi Puisi Gus Mus “Mustofa Bisri”

Kau ini bagaimana? Kau bilang yang datang 212 tak kan banyak peminatnya, saat yang datang membludak kau bilang buih saja.

Kau ini bagaimana? Kau katakan reuni 212 itu radikal, tapi kau sendiri mengancam tak pakai akal. Kau suruh kami hargai beragam, kau sendiri main ancam.

Kau ini bagaimana? Kau bilang bebas berpendapat, aku datang 212 kau tuduh aku dibayar, aku tak datang 212 kau klaim persatuan sudah bubar.

Kau ini bagaimana? Kau suruh aku untuk percaya dan yakin padamu, tapi Monas dan jalan-jalan penuh manusia kau bilang hanya hadir 40 ribu.

Baca juga: Munafik, Pemuja Hukum Thoghut

Kau ini bagaimana? Aku angkat merah putih kau curigai, aku angkat kalimat tauhid kau tuduh aku tak cinta negeri, aku tak angkat apa pun kau bilang nuraniku sudah mati.

Kau ini bagaimana? Kau bilang Indonesia mau dipecah-belah, tapi melihat persatuan umat di 212 engkau marah, terhadap para penjajah negeri malah engkau ramah.

Kau ini bagaimana? Bendera tauhid kau bilang bendera HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), diberi hadis kau bilang ini hadis lemah sekali, diberi yang shahih kau bilang khat di masa Rasul bukan yang ini.

Kau ini bagaimana? Khat bendera aku ganti, kau bilang kenapa harus warnanya hitam begini, aku buat warna-warni kau bilang aku ini bentuk inkonsistensi.

Kau ini bagaimana? Kalau engkau yang bicara buruk bilang tabayun saja, tapi kalau kau menghina aku kau bilang itu sudah sepantasnya.

Kau ini bagaimana? Kau bilang pendapat orang harus dihargai, aku buat mimbar penyampaian pendapat, engkau persekusi engkau halangi.

Kau ini bagaimana? Kau tuduh orang makar, kau yang main bakar, kau bilang orang radikal tapi logikamu tak masuk di akal.

Kau ini bagaimana? Kau bilang jangan politisasi agama, tapi di pesantren-pesantren kau cari suara, kau tolak perda syariah, pas kampanye tiba-tiba pakaian Muslimah.

Kau ini bagaimana? Atau aku harus bagaimana? Kau masih manusia?

Kami Pasukan Lebah!

Tak percuma saya dimaki-maki gara-gara sering posting tentang Reuni, kalau yang hadir jutaan seperti ini.

Ibu saya juga pasti bangga, walau difitnah teramat nista oleh mereka yang tak suka Reuni 212. Tapi ingat, getaran 212 menjalar ke seluruh plosok negeri Indonesia.

Yang bilang peserta aksi dibayar 100 K, harus segera menjilat ludahnya sendiri karena Konglomerat mana yang rela menghabiskan triliunan untuk mengongkosi jutaan peserta aksi.

Baca juga: Waspadai, Muslim Munafik

Aksi ini sesungguhnya diisi oleh para penjaga negeri, muslim sejati yang teramat cinta NKRI. Yang bilang aksi ini akan rusuh, kotor, merusak bahkan ricuh berebut nasi bungkus. Silah kan dan kami undang kalian semua datang reuni 212 tahun depan untuk menyaksikan sendiri. Merasakan sendiri, bagaimana Kami semua berlomba untuk saling menjaga kebersihan. Berusaha untuk tidak merusak taman, saling tolong menolong antara seluruh peserta aksi.

Indahnya Ukhuwah Islami, inilah Islam cinta perdamaian dan amat toleran. Kami semua pasukan hamba Allah Ta’ala yang rela berkorban demi agama dan bangsa. Kami ibarat hewan lebah, hidupnya bermanfaat, tidak mengganggu apalagi merusak. Tapi ingat, kalau kami diusik, kami berusaha melawannya, tanpa pandang bulu, akan kami berikan sengatan terkuat ! Allahu Akbar ! Wallahu Ta’ala ‘Alam

Penulis             : Ibnu Jihad

Editor               : Ibnu Alatas