Spirit Ummu Ibrahim, Mahar Untuk Bidadari

Perang sabil
Perang sabil
Perang sabil
Perang sabil

An-Najah.net – Dibalik kehebatan orang hebat ternyata ada peran seorang ibu. Sosok ibu merupakan pendidik pertama dan paling utama. Ditanganlah dicetak anak-anak sehingga lahirlah para mujahid yang siap menjunjung tinggi kalimat Allah Swt.

Dahulu ada sebuah kisah di Basrah. Ada seorang wanita bernama Ummu Ibrahim Al Hashimiyah. Ketika itu musuh menyerang salah satu kota Islam. Sehingga orang-orang tergerak untuk melawan.

Abdul Wahid Bin Zaid Al Basri menyampaikan pidato mendorong perlawanan, dan diantara pendengarnya adalah Ummu Ibrahim. Diantara hal-hal yang disampaikan Abdul Wahid adalah Al Hurr (Bidadari Surga).

Ummu Ibrahim berdiri dan berkata kepada Abdul Wahid, “Engkau tahu anakku, Ibrahim. Engkau pun tahu betapa mulianya bila menikahkannya dengan gadis Basra. Namun saya suka dengan bidadari yang engkau ceritakan tadi dan bermaksud ingin menikahkan anakku dengannya. Bisakah aku menjelaskannya kepadaku sekali lagi?”

Abdul Wahid kemudian membacakan puisi dalam mendeskripsikan Bidadari Surga. Ummu Ibrahim mengatakan, “Saya ingin Ibrahim menikahi gadis itu. Saya akan membayar 10.000 dinar sebagai mas kawinnya. Bawalah anak saya bergabung dalam tentara ini. Dia mungkin meninggal sebagai syuhada dan kelak bisa mendoakanku kelak di hari kiamat”.

Dibalik Anak Shalih, Ada Ibu Shalihah

Abdul Wahid mengatakan, “Jika engkau melakukannya itu adalah kebahagian yang besar untukmu dan Ibrahim”. Dia kemudian memanggil anaknya dari para hadirin. Ibrahim berdiri dan berkata, “Ya, Ibuku”.

Dia berkata, “Apakah kamu senang menikahi gadis itu dengan syarat memberikan jiwamu kepada Allah?” Ibrahim berkata, “Ya, saya sangat senang”.

Dia berkata, “Ya Allah, engkaulah saksi bahwa saya telah menikahkan Ibrahim dengan bidadari surga dengan syarat ia mengobarkan jiwanya dalam mencari ridha-Mu.” Lalu, dia pergi dan kembali membawa 10.000 dinar dan memberikannya kepada Abdul Wahid.

Ummu Ibrahim berkata : “Ini mas kawinnya. Ambil dan gunakan untuk menyediakan logistik bagi para mujahid di jalan Allah.”

Dia kemudian membelikan anaknya kuda yang bagus dan mempersenjatainya. Ketika para tentara mulai berbaris, Ibrahim keluar dengan membaca Al Qur’an :

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh.(Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kalian lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (Qs. At-Taubah ayat 111)

Ketika Ummu Ibrahim menemui anaknya dan berwasiat, “Hati-hati dan semoga tidak ada kekurangan untukmu. Jika kurang mintalah kepada Allah.” Kemudian ia memeluk, menciumnya, dan berkata: “Semoga Allah tidak mempertemukan kita lagi, Kecuali pada hari kiamat (disurga kelak).”

Kesyahidan Ibrahim Dalam Bumi Jihad

Abdul Wahid mengatakan, “Kami telah mencapai wilayah musuh dan para tentara siap untuk berperang.” Ibrahim berada di garis depan dan dia membunuh banyak musuh. Setelah berlangsung sekian lama, ia kelelahan dan musuh pun membunuhnya.

Dalam perjalanan pulang, saya mengatakan kepada para tentara untuk tidak memberitahu Ummu Ibrahim kalau anaknya telah mati sebagai syuhada, kecuali saya sendiri yang akan mengatakan padanya.

Ketika memasuki, basra, Ummu Ibrahim bertemu denganku dan berkata: “Apakah Allah menerima hadiahku sehingga aku bisa merayakannya, atau hadiah itu ditolak sehingga diriku harus menangis?”

Saya berkata, “Allah menerima hadiah darimu dan Ibrahim meninggal sebagai syuhada”.

Dia kemudian bersujud untuk berterima kasih kepada Allah dan berkata, “Terima kasih ya Allah telah menerima hadiahku”.

Hari berikutnya, Ummu ibrahim datang kepadaku di Masjid dan berkata, “Bergembiralah!” Saya berkata, “Ada kabar baik apa wahai Ummu Ibrahim?”

Dia mengatakan, “Saya melihat Ibrahim semalam dalam mimpi. Dia berada di sebuah taman yang indah berpakaian hijau, duduk di singgasana yang terbuat dari mutiara dan ia memakai mahkota di kepalanya. Ibrahim berkata kepada diriku, “Bergembiralah duhai ibuku!. Saya telah menikah dengan pengantinku!”

Penulis : Abu Khalid

Sumber : Abdullah bin Abdurahman, Golden Stories Kisah Menakjubkan dari orang biasa hingga orang hebat.

Editor : Anwar