Strategi Dua Lengan: Fokus Syam dan Yaman! (Membaca Kompas Perlawanan Global al-Qaeda)

Mujahidin Jabhah Nushroh. Salah satu faksi jihad yang dikendalikan oleh al-Qaeda
Mujahidin Jabhah Nushroh. Salah satu faksi jihad yang dikendalikan oleh al-Qaeda

Oleh Ust. Yusuf Abdillah SPdi, M.Ag

 

An-Najah.net- Gerakan jihad harus mulai fokus dan tuntas di daerah Syam dan Yaman sebagai embrio untuk melahirkan khilafah Islamiyah.  Yang dimaksud fokus adalah mengerahkan sebagian besar potensi yang dimiliki untuk masuk kedua wilayah tersebut. Kiprah di tempat lain seperti Iraq, Somalia dan Mali difungsikan sebagai daerah penyangga sekaligus sebagai madrasah latihan bagi SDM yang akan diterjunkan di kedua daerah tersebut.

Sementara tuntas adalah perencanaan komprehensif yang tidak terhenti pada persiapan peperangan. Lebih dari itu, adanya kemampuan untuk mengelola wilayah yang dikuasainya seperti menyediakan kebutuhan pokok penduduk setempat seperti keamanan, bahan pangan, air dan sumber daya atau energi dalam taraf minimal. Karena dengan penyediaan taraf hidup tersebut  menjadikan penduduk bersimpati dan menaruh kepercayaan yang akhirnya menjadikan investasi citra positif gerakan jihad di tengah-tengah masyarakat.

Maka, strategi umum gerakan jihad harus tertumpu pada mobilisasi dan pemusatan kekuatan-kekuatan jihad di dua wilayah tersebut. Demikian ungkapan Abdullah bin Muhammad, ahli strategi Al Qaeda dalam teorinya yang cukup terkenal ‘Strategi Dua Lengan’. Strategi tersebut rencananya akan dipaparkan dihadapan Syaikh Usamah bin Ladin, namun belum sampai pemaparan tersebut, Syaikh telah syahid dalam serangan AS di Pakistan.

Teori dua lengan tersebut berdasar pengamatannya terhadap fenomena yang terjadi di negara-negara Timur Tengah. Atau populer dengan sebuatan Arab Spring –revolusi Arab-. Menurutnya terjadinya chaos –kekacauan- adalah peluang bagi gerakan jihad. Maka Arab Spring menjadi menarik untuk dikaji dan dikaitkan dengan strategi global gerakan Islam dalam rangka mendirikan Khilafah Islamiyah.

Ada dua alasan yang melatarbelakangi. Pertama; kekuatan dan kontrol Amerika Serikat terhadap dunia semakin melemah. Hal ini seiring dengan terkurasnya energi untuk menjalankan mesin-mesin perang di berbagai Negara. Mesir menjadi contoh, bahwa rakyat mampu mendekte Amerika Serikat untuk tidak memaksakan pemimpin pilihannya. Kedua; prahara politik yang mengarah kepada chaos sedang terjadi di berbagai Negara Timur Tengah.

Buah dari Arab Spring adalah lenyapnya satu-satunya sistem yang kuat di Negara tersebut. Kemudian terjadinya ‘keseimbangan kekuatan’ di antara komponen-komponen yang ada, baik dari sisa-sisa rezim, tentara, oposisi tradisional, pemuda revolusi, partai-partai Islam, kaum sekuleris maupun komponen-komponen lainnya.

Ketika komponen-komponen tersebut gagal mencapai kesepakatan untuk membentuk pemerintahan baru karena faktor karakteristik sosial yang berbeda, maka chaos mulai menyelimuti mereka. Disinilah, Abdullah bin Muhammad menyebutnya dengan istilah ‘al faudha al ‘arimah’ (chaos). Karena itu, menurutnya kawasan Arab sedang menuju fase konflik internal dan regional yang panjang.

Sifat dari konflik tersebut adalah mengorbankan keamanan dan kehidupan. Dampaknya, banyaknya terjadi pengungsian-pengungsian sebagaimana terjadi di Palestina, kelaparan sebagaimana di Somalia dan pembantaian sebagaimana terjadi di Balkan.

Sementara, masyarakat internasional tidak mampu mengatasi chaos tersebut. Mereka juga gagal memberikan pengaruh . Keruntuhan rezim dan berlarutnya konflik internal yang terjadi di masing-masing Negara menyebabkan lenyapnya semua peran yang sebelumnya mereka mainkan, baik dalam skala internasional maupun regional.

Mengapa Harus Syam dan Yaman?

Menurut ahli Strategi Al Qaeda ini, Syam dan Yaman memiliki beberapa faktor strategis sebagai tempat lahirnya embrio khilafah Islamiyah, baik secara geografis maupun demografis. Pertama; Dua wilayah tersebut merupakan daerah vital jantung kota dunia Islam. Kedua; Dua tempat tersebut juga dapat digunakan untuk memotivasi public kaum muslimin. Ketiga; Kedua tempat tersebut adalah memiliki daerah pertahanan yang baik dari kondisi alamnya. Keempat: Dua tempat tersebut memiliki sumber air dan makanan yang mampu menempatkan para jihadis dalam posisi aman dalam hal ketahanan pangan.

Yaman berdekatan dengan daerah yang memiliki pengaruh religius.Secara territorial, Yaman terhubung dengan Hijaz yang didalamnya terdapat dua kota bersejarah bagi umat Islam, Makkah dan Madinah. Sementara Yerusalem berada di wilayah Syam yang mencakup Suriah, Yordania, Lebanon dan Palestina serta Bukit Sinai.

Dari sisi penduduknya, penduduk Syam dan Yaman merupakan orang-orang yang paling banyak berpartisipasi dalam jihad. Mayoritas pelaku jihad di Afghanistan berasal dari Yaman. Demikian pula jihad di Iraq orang-orang dari wilayah Syam juga ikut berpartisipasi.

Dari sisi Nubuwah, negeri Syam dan Yaman adalah negeri yang terdapat dalam nubuwat Rasulullah. Dari Abdullah bin Hawalah, Rasulullah SAW bersabda; “Kamu akan menemukan pasukan-pasukan perang; pasukan dari Syam, Iraq dan Yaman.”. Abdullah berkata, “Aku berdiri lalu berkata, ‘Pilihkan untukku ya Rasulullah’.” Beliau menjawab; “Pilihlah yang di Syam, maka barangsiapa menolak, hendaknya bergabung yang di Yaman.Dan ijinkan dia menghadapi konsekuensi penolakannya, Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Agung menjamin untukku Syam dan penduduknya.”.

Imam Bukhari juga meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi SAW bersabda: “Ya Allah, berkahilah untuk kami Syam kami; ya Allah, berkahilah untuk kami Yaman kami”.

Imam Ath Thabari juga meriwayatkan di dalam Al Kabir dari Abu Umamah ra. Ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Allah menempatkan Syam di depanku dan Yaman di belakangku dan berkata kepadaku, ‘Wahai Muhammad, Aku letakkan di depanmu ghanimah dan rezeki; dan di belakangmu sebuah tambahan (kekuatan)”.

Dari sisi karakteristik manusia, masyarakat Syam dan Yaman termasuk karakter militer. Disiplin dan sangat cocok untuk peperangan. Karena itu, sepanjang sejarah, tentara sejati adalah tentara Syam, dan tentara bantuannya adalah dari Yaman. Dengan karakteristik tersebut, kedua daerah tersebut sangat cocok dan penting untuk dimulainya pengakan khilafah Islamiyah.

Abdullah bin Muhammad menyebutkan embrio lahirnya khilafah di dua tempat tersebut untuk memperbesar peluang sukses. Hal ini didasari agar kedua wilayah tersebut bekerja seperti dua lengan yang bisa saling menutupi satu sama lain dan mencegah pemusatan penekanan militer dalam bentuk apapun yang menarget salah satu wilayah. Menurutnya, kesuksesan di wilayah Syam tergantung pada tekanan musuh yang dilakukan di wilayah Yaman, begitu pula sebaliknya.

Nampaknya, fenomena Arab Spring menjadi peluang perlawanan global terhadap Amerika dan Sekutunya, disaat semakin lemah cengkeraman mereka terhadap Negara-negara bonekanya. Strategi yang dipaparkan oleh Abdullah bin Muhammad tersebut cukup menarik, selain didasari nubuwat, juga rasional dan berdasar fenomena yang terjadi di Timur Tengah. Akankah strategi tersebut mampu meruntuhkan Amerika dan sekutunya, sebagai mana Soviet di Afghanistan?. (Dinukil dari Majalah An-Najah Edisi Spesial, -Edisi, 97 Rabiul Awwal 1435H -)