Jelajah Dari Sunda Kelapa Hingga Jakarta

Fatahillah, Sunda kelapa
Ilustrasi Fatahillah, Sunda kelapa
Fatahillah, Sunda kelapa
Ilustrasi Fatahillah, Sunda kelapa

An-Najah.net – Apalah artinya nama kota Jakarta tanpa Islam? Penamaan kota Jakarta sebagai kota metropolitan memiliki sejarah yang panjang. Agama Islam ini memiliki peran yang besar dalam penamaan kota ini. Dalam Islam nama itu mengandung sebuah doa, jadi memberi nama tidak boleh asal-asalan.

Dahulu, kota ini dikenal dengan nama Sunda Kelapa. Ia merupakan kota pelabuhan di bawah kerajaan Pajajaran. Pusat pemerintahan Kerajaan Hindu ini  berada di wilayah Pakuan (sekarang Bogor, Jawab Barat).

Namun, dalam perjalanannya kerajaan ini bekerja sama dengan Portugis untuk menghadang laju dakwah Islam di Tanah Jawa. Bahkan Pajajaran mengizinkan Portugis membangun benteng di Sunda Kelapa. Padahal bangsa Portugis merupakan bangsa penjajah yang ketika itu baru menjajah Malaka.

Fakta ini sudah cukup untuk menjelaskan siapa yang menjadi kaki tangan asing untuk memberikan peluang penjajahan di negeri ini. Berbeda dengan umat Islam yang menjadi pelindung nusantara dari penjajahan. Ketika penjajah datang menyerang,  umat Islam senantiasa ada untuk melakukan perlawanan.

Jayakarta, Kota Kemenangan

Tahun 1522, Kerajaan Pajajaran dengan Portugis mengadakan perjanjian militer dan ekonomi. Perjanjian itu selanjutnya dikenal sebagai perjanjian Pandrao (Padrong).

Kerajaan Islam Demak melihat manuver tersebut sebagai ancaman. Inilah alasan mengapa Demak berusaha mengusir penjajah Portugis dari tanah Jawa.

Futuhat (Pembebasan) Sunda Kelapa dipimpin oleh Fatahillah. Sebagai seorang panglima perang yang kaya pengalaman dalam medan jihad. Ia menghadirkan asbabun nashr (sebab-sebab kemenangan), ia menggunakan pasukan yang terlatih sejumlah perwiranya merupakan veteran pasukan Pati Unus yang memiliki pengalaman perang laut. Bagaimana mereka menghadapi kapal-kapal Portugis di Malaka tempo dulu.

Tepatnya 22 Juni 1527, Fatahillah berhasil menaklukkan Sunda Kelapa. Perjuangan ini tidaklah mudah, akan tetapi dengan mengorbankan harta, jiwa bahkan nyawa dikerahkan untuk mengusir Portugsi ini. Akhirnya menghasilkan buah kemenangan.

Untuk menandai kemenangan ini, Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi “Jayakarta” yang berarti kemenangan yang sempurna. Fatahillah terinspirasi dari ayat “Fathan mubina” yang berarti kemenangan. Sejak kemenangan itu, Fatahillah dijadikan penguasa Jayakarta yang berkedudukan sebagai adipati atau raja yang berada di bawah naungan kerajaan Demak.

Setelah Portugis hengkang dari Nusantara, ternyata tidak menyurutkan negara kolonial Eropa lain untuk datang ke tempat ini. Umumnya karena ketenaran tanah subur dan kaya rempah ini di dataran Eropa sehingga siapapun yang memiliki kesempatan untuk datang berniaga akan segera mengunjunginya.

Negeri ini ibarat seperti makanan yang menarik banyak orang untuk segera memakannya. Hal ini pula yang membuat Belanda mempunyai hasyrat yang kuat untuk menaklukkan negeri ini.

Dengan belajar pengalaman kegagalan dari Portugis, Belanda menyusun strategi baru masuk ke wilayah ini dengan baik, walaupun punya maksud jahat ingin menjarah negeri ini seperti Portugis. Cuma caranya yang berbeda.

Kemudian untuk menghindari persaingan antar perusahaan Belanda sendiri, parlemen Belanda mengusulkan agar semua perusahaan yang akan berangkat ke Indonesia digabungkan. Akhirnya pada bulan Maret 1602 didirikan VOC (Vereenigde Oost Indische Compognie).

Selain berdagang, oleh pemerintah Belanda VOC diberikan kewenangan untuk mengangkat personilnya dengan sumpah setia seperti militer untuk melakukan peperangan, membangun benteng-benteng dan mengadakan perjanjian-perjanjian di seluruh Asia. Untuk kepentingan itu, setiap kapal VOC dipersenjatai secara lengkap layaknya sebuah kapal perang. Kewenangan ini dikenal sebagai “Hak Oktroi”.

Kebijakan ini diambil setelah mempelajari apa yang terjadi pada para pendahulu mereka, Portugis dan Spanyol. Kedua kerajaan ini hanya bisa mendapatkan barang-barang dagangan melalui jalan kekerasan dan perang. Penaklukkan wilayah menjadi salah satu cara agar dapat membuat kapal-kapal mereka terisi penuh muatan bahan dagang yang bisa dijual di Eropa. Cara itu pula yang ditempuh VOC.

Jalan perang dan kekerasan adalah strategi yang tetap dipertahankan JP. Coen sepanjang kekuasaannya hingga akhirnya 12 Maret 1619, Kota Jayakarta berhasil dikuasai. Kemudian disinilah JP. Coen merubah kota Jayakarta menjadi “Batavia”.

Bermula dari kota baru ini dijadikan pusat kegiatan VOC. Batavia menjadi tempat berpijak yang kuat untuk menguatkan penjajahan di negeri ini. Dari tempat ini pula dijalankan semua misi penaklukkan ke seluruh penjuru nusantara untuk mendapatkan monopoli atas komoditas-komoditas nusantara.

Selain mengejar keuntungan ekonomis dan ikut membangun imperium Belanda. VOC juga mempunyai tugas untuk menyebarkan agama Kristen dan mengkritenkan penduduk pribumi.

Jakarta Sekarang

Di masa Pendudukan Jepang (1942 -1945), nama Batavia diubah menjadi Jakarta. Jakarta saat ini menjadi ibu kota negara Indonesia. Kota ini sama memiliki nilai strategis baik dari segi politik dan ekonomi bagi negeri ini.

Sejarah terus berulang secara hakekatnya walaupun pelakunya berbeda. Sejak dahulu sampai sekarang ada pihak-pihak asing atau aseng yang ingin menguasai kota ini. Kota ini representatif bagi kota-kota yang lain.

Fakta sejarah sudah mengajarkan kepada umat Islam. Ketika kota Jayakarta berubah nama menjadi Batavia. Kekuasaan ketika itu di tangan penguasa penjajah kafir Belanda. Maka terjadilah pengusiran, penangkapan, dan pembunuhan terhadap pribumi terjadi di kota ini.

Sebagai umat Islam yang cerdas sudah seharusnya bisa mengambil pelajaran dari perjalanan kota ini. Tugas umat Islam ini adalah melanjutkan perjuangan dakwah dan islamisasi negeri ini. Jangan sampai menyakiti hati penjuang-pejuang pendahulunya dengan menjual kota ini hanya untuk mengikuti kepentingan asing, aseng dan asong.

Sumber : Majalah An-Najah edisi 133 rubrik Jelajah halaman 28

Penulis : Anwar

Editor : Abu Mazaya