Sunnah Rabbaniyah dan Bencana Alam di Akhir Zaman

Peristiwa Gempa Bumi
Peristiwa Gempa Bumi

An-Najah.net –

فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ خَسْفٌ وَمَسْخٌ وَقَذْفٌ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَا رَسُولَ اللهِ وَمَتَى ذَاكَ قَالَ إِذَا ظَهَرَتْ الْقَيْنَاتُ وَالْمَعَازِفُ وَشُرِبَتْ الْخُمُورُ

“Akan terjadi di akhir zaman penenggelaman bumi, hujan batu, dan pengubahan rupa.Maka ada seseorang dari kaum muslimin yang bertanya, “kapankah peristiwa itu akan terjadi wahai Rasulullah?Beliau menjawab, “Apabila musik dan biduanita telah merajalela dan khamr telah dianggap halal.HR. Tirmidzi (2212)

 Banyak orang yakin bahwa bencana alam, gempa bumi, banjir bandang, ancaman hujan asteroid dan beragam musibah lain murni peristiwa alam semata. Jika demikian, sesungguhnya fenomena ini merupakan kerusakan yang parah dari sisi akidah.

Bagaimana tidak, bukankah ini sebuah bentuk penolakan halus akan peran qadha dan qadar yang telah tetapkan? Bukankah ini sebagai bentuk pengingkaran seseorang kepada nubuat  dan isyarat qur’aniyah yang melazimkan adanya azab bagi orang-orang durhaka?

Seorang muslim menyadari bahwa semua musibah yang menimpa manusia merupakan ketentuan Allah yang disebabkan oleh tingkah polah manusia. Para salafus shalih dari generasi sahabat dan setelahnya selalu mengaitkan seluruh bencana dan musibah yang menimpa manusia dengan kekufuran dan kezaliman yang diperbuat oleh manusia.

Baca Juga : Musibah Sarana Ujian Keimanan

Hal ini sejalan dengan apa yang difirmankan Allah SWT:

ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ اللهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيد

“(azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak Menganiaya hamba-hamba-Nya.”(QS. Ali Imran: 182)

Inilah yang dipahami oleh Umar binKhattab ketika beliau mengetahui adanya gempa kecil yang terjadi di kota Madinah. Maka beliau segera mengingatkan kepada para sahabat bahwa gempa ini terjadi karena kemaksiatan yang dilakukan sebagian penduduk Madinah.

Sebaliknya, kenikmatan dan kesejahteraan hidup manusia juga tergantung dengan kadar ketakwaan mereka. Besar dan kecilnya keberkahan hidup manusia didasarkan pada barometer amal shalih yang mereka perbuat. Allah berfirman yang artinya:

“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)

Maka, merupakan sebuah kejahatan berfikir yang dilakukan oleh manusia jika mereka menafikan peran Allah dalam semua musibah dan bencana yang menimpa manusia.Apalagi jika hanya semata menyandarkan pada faktor alam semata. Tidak jauh berbeda halnya dengan apa yang hari ini ramai dibicarakan oleh manusia.

Hujan asteroid, jatuhnya kepingan-kepingan material langit, badai batu, gempa tektonik, gelombang tsunami dan semua efeknya, akan terjadi ketika puncak kemaksiatan berupa fenomena artis, musik dan minuman keras sudah menjamur. Inilah hakikat sesungguhnya sebagaimana yang dijelaskan dalam riwayat di atas.

Bagi seorang mukmin, membaca riwayat di atas sebenarnya sudah cukup untuk memahami hubungan yang erat antara fenomena bencana akhir zaman dengan tiga poros kejahatan manusia (artis, musik dan minuman keras).

Rasulullah SAW menyebutkan bahwa bencana massal itu terjadi apabila telah muncul sebab-sebabnya. Dalam hal ini beliau menjelaskan sebab-sebab itu dengan ungkapan ظَهَرَتْ الْقَيْنَاتُ وَالْمَعَازِفُ وَشُرِبَتْ الْخُمُورُ

“Apabila musik dan biduanita telah merajalela dan khamr telah dianggap halal.”

Kalimat dzaharat secara leterlick memang bermakna muncul, nampak, merajalela, atau tersebar. Namun ada makna lain yang lebih tepat untuk menggambarkan makna dzaharat, yaitu ‘unggul, menang, mengalahkan atau kalimat semisal’. Hal ini menunjukkan bahwa akan datang satu masa dimana para artis, manusia musik, dan pecandu khamer akan menjadi manusia yang unggul, terkenal, menang, dan tenar.

Komunitas itu akan menjadi barometer peradaban manusia. Para artis, bintang film, aktor, selebritis, pemusik, pemain sinetron, cover boy/girl, akan menjadi tolok ukur kesuksesan dan keberhasilan seseorang. Mereka akan menjadi pusat berita, poros gosip, sumber rezeki, tambang harta dan puncak idaman setiap orang. Gaya hidup mereka, cara berpakaian, jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi, HP dan semua sarana teknologi yang digunakan, kendaraan yang ditumpangi, model rumah yang didesain, dan semua atribut mereka (tas, sepatu, jam tangan, kalung, cincin, topi, dan lain-lain) akan menjadi buruan setiap orang.

Mereka benar-benar telah menjelma sebagai nabi baru, bahkan tuhan baru yang menggeser kedudukan Allah dan Rasul-Nya. Cerita tentang perselingkuhan mereka lebih asik untuk dikaji daripada membaca Al-Qur’an dan hadits, menghapal nama-nama mereka, nama pasanganselingkuhannya, bahkan nama anjing dan pembantunya lebih disukai oleh kebanyakan manusia daripada menghapal nama para sahabat dan anak-anaknya.

Lebih dari 50 persen berita di koran, TV, dunia maya dan media lain dipenuhi dengan gosip-gosip mereka. Bahkan yang paling parah, dalam standar beribadahpun kaum muslimin lebih menjadikan mereka sebagai acuan. Seorang artis yang baru saja bertaubat lalu menjadi da’i / ustadz selebritis lebih disukai dari pada para ulama yang jujur. Fatwa-fatwa dai karbitan ini lebih manjur daripada fatwa para ulama yang ikhlas.

Adapun keberadaan komunitas para pemusik dan pecandu khamer, keduanya merupakan pelengkap dunia hiburan yang menjadi penyempurna dunia artis. Para artis bisa dipastikan sangat akrab dengan musik dan minuman keras, apapun nama dan bentuknya. Terlepas orang setuju atau tidak, tapi inilah realita yang terjadi. Komunitas artis dengan musik dan minuman keras ibarat manusia dengan ruhnya, ibarat suami dan istri, sulit untuk dipisahkan!

Bilakah zaman yang digambarkan nabi itu telah mewujud sekarang ini? Wallahua’lambishshawab, semoga Allah menyelamatkan kita dari segala bentuk bencana dan musibah. Jikapun takdir itu tidak bisa dihindarkan, semoga Allah tetap memberi kita khusnulkhatimah.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 134 Rubrik Catatan Akhir Zaman

Ditulis : Abu Fatiah Al adnani

Editor : Anwar