Sunnah Wudhu dalam mengusap kepala Sekali ataukah tiga kali

Wudhu
Wudhu

An-Najah.net –

عَنْ عَبْدِ خَيْرٍ، قَالَ: أَتَانَا عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَقَدْ صَلَّى فَدَعَا بِطَهُورٍ، فَقُلْنَا مَا يَصْنَعُ بِالطَّهُورِ وَقَدْ صَلَّى مَا يُرِيدُ، إِلَّا لِيُعَلِّمَنَا، فَأُتِيَ بِإِنَاءٍ فِيهِ مَاءٌ وَطَسْتٍ «فَأَفْرَغَ مِنَ الْإِنَاءِ عَلَى يَمِينِهِ، فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثَلَاثًا، ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثَلَاثًا، فَمَضْمَضَ وَنَثَرَ مِنَ الْكَفِّ الَّذِي يَأْخُذُ فِيهِ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى ثَلَاثًا، وَغَسَلَ يَدَهُ الشِّمَالَ ثَلَاثًا، ثُمَّ جَعَلَ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ فَمَسَحَ بِرَأْسِهِ مَرَّةً وَاحِدَةً، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى ثَلَاثًا، وَرِجْلَهُ الشِّمَالَ ثَلَاثًا»، ثُمَّ قَالَ: «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَعْلَمَ وُضُوءَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ هَذَا»،.

Dari Abdu Khair berkata, “Ali RA datang kepada kami setelah selesai shalat. Lalu beliau minta diambilkan air wudhu‘. Kami pun bertanya, “Apa yang akan dilakukannya dengan air wudhu‘ itu padahal beliau sudah selesai shalat. Tidak ada yang beliau inginkan kecuali untuk mengajarkan kami. Kemudian didatangkanlah bejana kecil berisi air dan baskom. Lalu menuangkan air dari bejana tersebut ke tangan kanan beliau lalu mencuci kedua tangannya. Kemudian berkumur-kumur dan memasukkan air serta mengeluarkannya dari hidungnya, dan beliau melakukannya dengan telapak tangannya yang digunakannya untuk mengambil air. Kemudian membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh tangan kanannya tiga kali dan tangan kirinya tiga kali. Lalu memasukkan tangannya ke dalam bejana dan mengusap kepalanya satu sekali.  Lalu membasuh kaki kanannya tiga kali dan kaki kirinya tiga kali. Kemudian beliau berkata, “Barangsiapa yang ingin mengetahui wudhu‘ Rasulullah SAW, maka inilah dia.”

Takhrij Hadits

Hadits di atas adalah redaksi Imam Abu Daud dalam Sunannya pada Kitab Thaharah Bab Sifat Wudhu‘ Nabi SAW. Imam Ahmad dan Imam an-Nasa‘i juga meriwayatkannya.

Imam Abu Daud mendapatkan hadits ini dari gurunya yaitu Musaddad, dan Imam Ahmad dari ‘Affan, sedangkan Imam an-Nasa‘i dari Qutaibah. Musaddad, ‘Affan dan Qutaibah, mereka semua mendengar hadits ini secara langsung dari Abu ‘Awanah dari Khalid ibnu ‘Alqamah dari Abdu Khair dari sahabat Ali ibnu Abi Thalib radhiyallâhu ‘anhu.

Baca Juga : Hukum Shalat Jum’at bagi Perempuan

Khalid ibnu ‘Alqamah dan Abdu Khair adalah tabi‘in. Dan ‘Abdu Khair ibnu Yazid adalah seorang muhadhram, yaitu seorang tabi‘in yang hidup dan telah memeluk Islam pada masa Nabi SAW tapi tidak sempat berjumpa dengan Nabi. Kuniyahnya adalah Abu ‘Umarah, asalnya dari Yaman dari kabilah Hamdan. Dan masuk Islam bersama ayah dan ibunya ketika dia masih kecil di Yaman setelah datang utusan Nabi ke daerah tersebut. Domisili terakhirnya adalah di Kufah hidup bersama Ali dan menjadi orang dekatnya dan meriwayatkan banyak hadits dari Ali. Ikut bersama Ali dalam perang Shiffin dan terbunuh, dan terlibat duel dalam perang tersebut. Dan usianya sekitar 120 tahun. (Lihat, ath-Thabaqat al-Kubra Ibnu Sa‘ad, 6/221; at-Tarikh al-Kabir Imam Bukhari, 6/133).

Hadits ini shahih, karena ditinjau dari sanadnya adalah shahih. Seluruh rawinya adalah disepakati tsiqah, dan jalur periwayatannya adalah tersambung (tidak putus). Dan dari sisi matannya, tidak mengandung ‘illah dan syadz; karena tidak ada cacat pada matannya dan tidak bertentangan dengan riwayat-riwayat lainnya yang shahih. Maka dari itu disepakati keshahihannya oleh para ahlul hadits. Diantaranya dimasukkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Abi Daud.

Selain dari jalur Ali, hadits yang menerangkan tentang mengusap kepala cukup satu kali juga diriwayatkan oleh banyak sahabat Nabi. Diantaranya adalah Utsman, Salamah ibnul Akwa‘, Ibnu Abi Aufa, Anas, Ibnu Abbas, Rubayyi binti Mu‘awwidz dan Aisyah radhiyallâhu ‘anhum. Masing-masing riwayat tersebut saling menguatkan bahwa Nabi SAW dalam wudhu‘nya ketika mengusap kepala hanya sekali saja.

Baca Juga : Ciri Generasi Yang Buruk, Meninggalkan Shalat

Intisari Hadits

  1. Dibolehkan berwudhu‘ walaupun bukan untuk kepentingan shalat. Contohnya adalah untuk diajarkan kepada manusia.
  2. Disunnahkan membasuh wajah, kedua tangan dan kaki sebanyak tiga kali. Kecuali bagian kepala, hadits ini mengajarkan kepada kita cukup mengusapnya sekali saja, dan tidak boleh lebih. Caranya adalah mengusap dengan kedua tangannya dimulai dari ujung kepala terus sampai ke tengkuk lalu kembali lagi ke tempat yang diusap pertama kali.
  3. Tidak diperkenankan membasuh tangan yang kiri sebelum membasuh tangan yang kanan secara sempurna tiga kali. Begitu pula dalam membasuh kaki, didahulukan kaki yang kanan sebanyak tiga kali secara sempurna lalu kaki yang kiri sebanyak tiga kali.

Baca Juga : Berpuasa Tapi Tidak Shalat

Bolehkah Mengusap Kepala Lebih dari Sekali?

Dalam hal ini para ulama‘ fiqh berbeda pendapat. Sebagian menilai yang disunnahkan hanya sekali saja dan lebih dari itu tidak disunnahkan, karena tidak ada contohnya dari Nabi SAW. Dan sebagian lagi beranggapan bahwa mengusap kepala tiga kali adalah disunnahkan dan tidak lebih, sebagaimana anggota wudhu‘ lainnya.

Pendapat yang pertama adalah madzhab jumhur ulama‘, mengusap kepala cukup sekali saja.

Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Mereka berselisih dalam hal mengusap kepala tiga kali, apakah disunnahkan? Menurut jumhur itu tidak disunnahkan, seperti Malik, Abu Hanifah, dan Ahmad yang masyhur dalam madzhabnya. Sedangkan Syafi‘i dan Ahmad dalam salah satu pendapatnya mengatakan itu disunnahkan berdasarkan hadits shahih bahwa Nabi berwudhu‘ tiga kali tiga kali. Akan tetapi ini masih umum. Dan dalam Sunan Abi Daud disebutkan bahwasanya beliau mengusap kepalanya tiga kali; dan dikarenakan kepala adalah bagian dari anggota wudhu‘ maka dari itu disunnahkan pula tiga kali sebagaimana anggota wudhu‘ lainnya. Namun yang lebih benar adalah pendapat yang pertama dikarenakan hadits-hadits shahih dari Nabi SAW menjelaskan bahwasanya beliau mengusap kepalanya hanya sekali saja.“ (Lihat, Majmu‘ al-Fatawa, 21/125-126).

Imam Ibnu Qudamah al-Hambali berkata, “Dan tidak disunnahkan untuk mengusap kepala berkali-kali menurut pendapat yang shahih dalam madzhab kami. Dan ini adalah pendapat Abu Hanifah dan Malik. Dan juga diriwayatkan dari Ibnu Umar beserta anaknya yaitu Salim, an-Nakha‘i, Mujahid, Thalhah ibnu Musharrif dan al-Hakam. Dan Imam Tirmidzi mengatakan, bahwasanya banyak ahlul ilmi yang mengamalkan ini dari kalangan sahabat Rasulullah SAW dan generasi sesudahnya. Tapi ada pendapat lainnya dari Ahmad bahwasanya disunnahkan mengusap berkali-kali. Bisa jadi ini adalah pendapat al-Kharaqi karena dilihat dari ucapannya, “Tiga kali adalah afdhal.“ Sebagaimana dalam madzhab Syafi‘i, dan riwayat dari Anas. Ibnu Abdil Barr berkata, “Mereka mengatakan bahwa mengusap kepala hanya sekali saja.“ (Lihat, al-Mughni, 1/94).

Baca Juga : Kultum, Mengukur Kualitas Shalat Kita

Imam Abu Daud dalam Sunannya mengatakan, “Hadits-hadits shahih yang bersumberkan dari Utsman radhiyallâhu ‘anhu semuanya menunjukkan bahwa mengusap kepala hanya sekali saja. Ketika mereka para rawi menyebutkan wudhu‘ tiga kali. Maka pada saat menyebut mengusap kepala, mereka tidak menyebutkan jumlahnya sebagaimana pada anggota wudhu‘ lainnya.“

Imam al-Baihaqi selaku ulama‘ hadits yang kental pembelaannya kepada Imam Syafi‘i berkata, “Menurut riwayat yang shahih dari dua penulis Kitab Shahih yaitu dari Humran (mantan budak Utsman) menunjukkan bahwa yang lebih dari sekali itu hanya pada anggota wudhu‘ selain kepala. Adapun kepala diusapnya hanya sekali saja. Sedangkan hadits yang menyebut untuk mengusap kepala lebih dari satu kali jalurnya adalah gharib (nyeleneh). Baik itu berasal dari Utsman, Ali, ataupun Anas ibnu Malik. Seluruhnya menyelisihi riwayat-riwayat yang dibawakan oleh para rawi yang lebih tsiqah dan dhabith sehingga tidak layak untuk dijadikan hujjah oleh para pakar hadits. Meskipun madzhab kami Syafi‘i berargumentasi dengannya.“ (Lihat, as-Sunan al-Kubra, 1/102).

Pendapat kedua adalah madzhab Syafi‘i dan sebagian ulama‘ Hambali, Daud azh-Zhahiri dan Ibnu Hazm, adalah disunnahkan mengusap kepala tiga kali.

Baca Juga : Menjama’ shalat karena hujan

Imam Nawawi berkata, “Dalam masalah mengusap kepala berkali-kali, menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab kami adalah disunnahkan mengusap kepala tiga kali. Demikian dinyatakan oleh Imam Syafi‘i dalam kitab-kitab beliau, dan diputuskan oleh mayoritas pengikutnya. Sebagaimana anggota wudhu‘ lainnya, disunnahkan membasuhnya adalah tiga kali. Ini juga madzhabnya Daud, dan satu pendapat dari Imam Ahmad. Dan disebutkan oleh Ibnul Mundzir, bahwa ini adalah pendapat Anas ibnu Malik, Said ibnu Jubair, Atho‘, Zadzan, dan Maisarah radhiyallâhu ‘anhum.

Dan Ibnul Mundzir serta ulama-ulama kami juga menyebutkan, bahwa Ibnu Sirin berpendapat untuk mengusap kepala dua kali. Tapi mayoritas ulama‘ hanya menyunnahkan satu kali usapan saja. Demikian disebutkan oleh Imam Tirmidzi dan yang lainnya dari mayoritas ulama‘. Dan Ibnul Mundzir mengatakan, diantara yang berpendapat demikian adalah Abdullah bin Umar, Thalhah bin Musharrif, al-Hakam, Hammad, an-Nakhai‘i, Mujahid, Salim bin Abdillah, Hasan Bashri, para pengikut ro‘yun, Ahmad dan Abu Tsaur radhiyallâhu ‘anhum. Dan juga disebutkan oleh orang-orang selain Ibnul Mundzir. Dan ini adalah madzhab Malik, Abu Hanifah dan kedua sahabatnya, Sufyan ats-Tsauri dan Ishaq ibnu Rahaweh. Dan pendapat ini lebih dipilih oleh Ibnul Mundzir.“ (Lihat, al-Majmu‘, 1/432).

Imam Syafi‘i berkata, “Lebih baiknya adalah mengambil air dengan kedua tangannya. Lalu diusapkan ke kepalanya secara bersamaan dengan kedua tangannya dimulai dari ujung kepala terus sampai ke tengkuk lalu kembali lagi ke tempat yang diusap pertama kali. Demikian yang diriwayatkan dari Nabi SAW membasuhnya. Dan aku menyukai apabila membasuh kepalanya itu sebanyak tiga kali. Dan sekali saja sudah dianggap cukup.“ (Lihat, al-Umm, 1/42, 43).

Baca Juga : Indahnya Shalat Tahajut Rasulullah Saw

Kesimpulannya, bagi yang menilai hadits mengusap kepala dua atau tiga kali adalah shahih, maka mengusap kepala dua kali atau afdhalnya tiga kali adalah disunnahkan. Diantara ulama‘ yang menshahihkannya adalah Imam Ibnu Shalah, Imam Nawawi dan Syaikh al-Albani. Karena dianggap sebagai ziyadah tsiqah. Akan tetapi jika dipandang hadits-hadits tersebut adalah dhaif, maka tidak ada sunnahnya mengusap kepala lebih dari sekali, dan cukup sekali saja. Karena hadits-hadits tersebut dianggap gharib dan syadz (menyendiri) oleh banyak pakar hadits seperti Imam Baihaqi dan Imam Syaukani menyelisihi hadits-hadits shahih yang mengajarkan untuk mengusap kepala cukup sekali, dan para perawinya adalah lebih tsiqah dan kuat. Wallaahu a‘lam.

Sumber : Majalah An-najah Edisi 156 Rubrik Fiqih Ibadah

Penulis : Abu Asiyah Zarkasyi

Editor : Anwar