Sunnatullah Kemenangan dalam Iqamatuddin

dampak konflik suriah
dampak konflik suriah
dampak konflik suriah
dampak konflik suriah

An-Najah.net – Bila kesimpulan ini benar, jihad modern harus menyelesaikan terlebih dulu tantangan pemikiran Khawarij sebagai ‘halang-rintang’ yang mesti dilawati sebelum mencapai garis kemenangan. Tantangan ini harus diselesaikan secara simultan bersamaan dengan menghadapi musuh-musuh eksternal yang kian berat. Inilah harga kemenangan, harus sangat ideal: kuat dalam melawan musuh luar, dan tuntas dalam mengobati masalah internal.

Fakta ini membuka mata kita. Ternyata ada sunnatullah kemenangan yang luput kita sadari. Bahwa ‘kemenangan Islam di akhir zaman nanti hanya akan terjadi setelah umat Islam mampu menuntaskan semua daftar masalah baik eksternal maupun internal’. Oleh karenanya, berangkat dari sunnatullah tersebut, lahir sunnatullah berikutnya: ‘tidak ada kemenangan sebelum semua daftar masalah diberikan untuk dikerjakan’.

Paling kita berkutat pada pertanyaan: mana masalah yang harus diselesaikan sebelum kemenangan dan mana masalah yang diselesaikan pasca kemenangan. Kita sebelumnya menyangka, modal meraih kemenangan cukup dengan mengatasi permusuhan Yahudi, Nasrani dan Musyrikin. Rupanya itu baru sebagian masalah, masih banyak daftar masalah yang harus diselesaikan. Satu demi satu muncul. Masalah yang sudah disadari umat Islam: Yahudi, Nasrani, kaum Musyrikin. Masalah yang baru disadari sebagai masalah: Syi’ah, Khawarij, Murjiah, Mu’tazilah, aliran-aliran sesat lain, Munafiqin, konflik antar kelompok, ghuluw dalam berislam, fanatisme kelompok dan seterusnya.

Tidak semuanya bisa diselesaikan dengan tajamnya pedang alias jihad. Konflik ISIS dengan faksi-faksi jihad yang lain justru harus menahan tangan dari menggunakan pedang, karena korban akan kian banyak berjatuhan. Obatnya adalah duduk berunding, bertahkim kepada ulama, dan saling menjaga ukhuwah sesama mujahidin. Obat ilmu lebih mujarab dibanding obat senjata.

Memang benar, musuh-musuh berupa Yahudi, Nasrani, Musyrikin dan Syi’ah lebih mujarab dengan senjata, tapi itupun mesti dirangkai dengan kemahiran taktik dan strategi. Tajamnya pedang semata tak menjamin kemenangan.

Dengan demikian, kemenangan Islam di akhir zaman adalah kemenangan final, kemenangan  setelah melewati proses yang amat rumit, melelahkan. Kombinasi tajamnya pedang, tajamnya ilmu, kelenturan diplomasi, racikan taktik-strategi, sabarnya mujahidin, tulusnya ulama, loyalnya umat dan sejumlah rangkaian lain yang sangat kompleks. Semua kerumitan ini harus diselesaikan umat Islam tanpa bimbingan seorang Nabi. La haula wala quwwata illa billah…

Dengan memahami sunnatullah ini, kita jadi sadar ada hikmah di balik sekian lama umat Islam mengarungi perjalanan jihad, belum juga mencapai garis finis: kemenangan tuntas dan kemerdekaan penuh untuk Islam dan umat Islam. Silih berganti kafilah jihad berlalu. Agaknya daftar musuh baik yang eksternal maupun internal belum semuanya dikeluarkan oleh Allah SWT, masih disimpan menunggu momentum yang tepat, seiring kesiapan umat. Semakin lengkap daftar musuh/masalah dan semakin pandai menyelesaikan masalah tersebut menjadi indikasi dekatnya kemenangan, dengan ijin Allah. wallahulmusta’an.

Sumber : Majalah An-najah Edisi 103 Rubrik Kolom

Penulis : Abu Zahid

Editor : Anwar