Kunci

Syahadat, Bukan Sekedar Ucapan

An-Najah.net – Dalam kitab Shahihain diceritakan, ketika Rasulullah mengutus Sahabat Mu’adz bin Jabal ke Yaman sebagai juru dakwah.

Beliau bersabda ”Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), hendaklah pertama kali yang kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat Laa ilaaha lllallah.

Jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan shalat lima waktu dalam sehari semalam.

Jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya dari kalangan mereka dan diberikan pada orang-orang fakir.

Jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, jauhkanlah dirimu dari harta pilihan mereka dan takutlah kamu dari doanya orang-orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada tabir penghalang antara doannya dengan Allah’. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam kisah Mu’adz bin Jabal ini terdapat inspirasi bagi umat islam tentang prioritas dalam berdakwah. Pertama kali yang diperintahkan Rasulullah SAW ialah mengajak mad’u (obyek dakwah) untuk mengucapkan kalimat syahadat tauhid. Baru kemudian kewajiban-kewajiban yang lainnya.

Kalimat syahadat ibarat pintu gerbang masuk agama Islam. Siapapun yang ingin masuk agama ini harus terlebih dahulu mengikrarkannya, memahami isinya dan mengerjakan konsekuensinya dan menghindari pembatal-pembatalnya.

Tanpa memahami makna dan konsekuensinya, ucapan yang diikrarkan seseorang akan menjadi perkataan yang tidak bermakna.

Dua kalimat ini bukanlah sekadar ucapan Sebab kalaulah sekadar ucapan, tidak ada pembeda antara seorang munafik dan ora beriman.

Akan setara kedudukan Abdullah bin Ubay, seorang pemimpin munahqin dengan Abu Bakar As Shidiq seorang pemimpin kaum mukminin karena keduanya mengucap syahadat yang sama.

Abdullah bin Ubay mengucapkan syahadat hanya ucapan lisan semata, sementara hari dan amal perbuatannya tidak mencerminkan orang beriman.

Berbeda dengan Abu Bakar As Shidiq paham betul akan makna syahadat kemudian dirinya juga senantiasa mengamalkan akan konsekuensinya serta menjauhi pembatal-pembatalnya.

Makna Laa ilaaha illallah. Biasanya kebanyakan orang mengartikan Laa ilaaha illallah dengan “Tidak ada Tuhan selain Allah”. Atau ada juga yang menafsirkan dengan ‘Tidak ada sesembahan kecuali Allah.

Pengertian seperti ini tidak tepat, karena pada kenyataannya banyak yang menyembai tuhan-tuhan selain Allah.

Sebenarnya makna yang tepat menunl ulama salaf adalah ‘Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dan dilbadahi kecuali Allah”. inilah tafsir yang benar menurut para salaful ummah.

Laa ilaaha menahkkar hak penyembahan dari selain Allah, siapa pun orangnya. Sedangkan illallah adalah penetapan hak Allah semata untuk disembah.

Syahadat Kunci Surga

Wahab bin Munabbih, seorang ulama tabi’in pernah ditanya,”Bukankah Laa Ilaaha lllallah itu adalah kunci surga?” Beliau menjawab, “Benar”.

Namun, setiap kunci itu pasti punya gerigi. Jika kamu memasukinya dengan kunci yang memiliki gerigi, pintu tersebut akan terbuka.

Jika tidak demikian, pintu tersebut tidak akan terbuka.” Beliau mengisyaratkan bahwa gerigi tersebut adalah syarat-syarat kalimat laa ilaha illallah. (Abdur Razaq bin Muhsin Al Badr, FiqhulAd’iyyah wal Adzkar/179-180).

Syahadat merupakan rukun islam yang pertama. Seperti shalat sebagai rukun islam kedua. Dalam shalat itu ada syarat-syaratnya seperti mengetahui waktu masuknya waktu, suci dari hadats besar dan kecil, menutup aurat, dan menghadap kiblat.

Pun demikian, dua kalimat syahadat itu ada pula syarat-syaratnya yang harus diketahui orang yang mengucapkannya. Agar syahadatnya lebih bermakna dan tidak sekadar ucapan semata.

Menurut Dr. Shalih bin Fauzan syaratsyarat Laa ilaaha lllallah itu ada tujuh macam.

Pertama, Mengetahui maknanya yang meniadakan kejahilan.

Kedua, Yakin yang meniadakan keragu-raguan.

Ketiga, Menerima yang meniadakan sikap menentang.

Keempat, Patuh yang meniadakan sikap menginggalkan.

Kelima, Jujur yang meniadakan dusta.

Keenam, ikhlas yang meniadakan syirik dan riya’.

Ketujuh, Cinta yang meniadakan benci.

Adapun syarat-syarat Syahadat Muhammad Rasulullah terdapat enam macam. Pertama, mengakui kerasulan beliau dan secara batin meyakininya di dalam hati. Kedua, Mengucapkan pengakuannya itu dengan terang-terangan. Ketiga, Mengikuti beliau dengan cara mengamalkan kebenaran yang dibawanya dan meninggalkan yang dilarang olehnya.

Keempat, Membenarkan apa saja yang diberitahukan oleh beliau yang berupa perkara-perkara ghaib baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Kelima, Mencintai beliau melebihi kecintaan terhadap dirinya

sendiri harta, anak, orang tua, dan seluruh manusia. Keenam, Mendahulukan sabda beliau atas semua pendapat dan ucapan orang lain, serta mengamalkan sunnahnya. (Shalih bin Fauzan, Kitab Tauhid Jilid 1, hal 78 82)

Syahadat perlu pembuktian

lbnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan Tauhid itu bukan sekadar pengakuan seorang hamba bahwa tiada pencipta kecuali Allah, dan Allah adalah Rabb dan pemilik segala sesuatu, sebagaimana para penyembah berhala juga mengakui hal itu, tapi mereka tetap musyrik.

Murid ibnu Taimiyah ini menegaskan bahwa tauhid itu mencakup cinta kepada Allah, tunduk kepadanya, merendahkan diri di hadapannya, memurnikan ibadah dengan sepenuhnya dalam rangka menaatinya. memurnikan ibadah kepadanya, dan mengehendaki wajahnya yang maha tinggi.

Melalui ucapan dan amal perbuatan, menolak dan memberi, cinta dan membenci dan mewujudkan sesuatu yang membetenginya dari beberapa faktor yang menjerumuskan seseorang dalam kemaksiatan dan larut didalamnya. (Muhammad Said Al Qahthani, Al Wala wal Bara, hlm; 54)

Banyak orang yang mengucapkan syahadat tauhid dan syahadat rasul, Namun mereka tidak memahami apa makna syahadat itu.

Bahkan mereka mengaku cinta kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW tetapi tidak berguna pengakuan itu jika tidak diikuti dengan bukti.

Berkata seorang penyair Arab. ”Setiap orang mengaku kekasih Laila. Sayang, Laila tidak pernah membenarkan pengakuan mereka?

Kebenaran Syahadat akan terbukti jika seseorang benar-benar beribadah hanya kepada Allah dengan cara yang diajarkan Rasulullah Saw Hal itu terbukti dalam segala sisi kehidupan beliau, baik dalam akidah, ibadah, muamalah, siyasah maupun akhlaknya.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 127 Rubrik Tema Utama

Penulis : Abu Khalid

Editor : Helmi Alfian

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.