Syarat Sah Diterimanya Udhiyyah

Ilustrasi Hewan Udhiyyah
Ilustrasi Hewan Udhiyyah
Ilustrasi Hewan Udhiyyah

An-najah.net – Udhiyyah termasuk syiar Islam yang sangat agung. Ibadah ini wajib dijalankan sebagaimana haji. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bahkan mengatakan hukumnya wajib bagi yang mampu. Jika dalam satu rumah ada yang meninggalkan syiar ini di saat memiliki kelebihan nafkah, berarti telah berdosa. Sebagaimana pendapat Imam Malik dalam pendapatnya yang kuat, Imam Abu Hanifah, Rabi’ah, Laits, Sufyan ats-Tsauri, dan al-Auza’i; dan salah satu pendapat Imam Ahmad. (Majmu’ Fatawa, 23/162-163).

Sedangkan ahli fiqih lain menyebut hukumnya tidak wajib, melainkan Sunnah Muakkad bagi yang mampu. Karena itu makruh bila tidak dikerjakan. Ini adalah pendapat jumhur sahabat dan tabiin seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Bilal, Abu Masud al-Badri, Said bin Musayyib, Atha’, Alqamah dan al-Aswad; dan menjadi madzhab Imam Imam Syafi’i, Ahmad dalam pendapatnya yang masyhur, dan Imam Malik dalam salah satu pendapatnya. Juga pendapat Abu Yusuf, Ibnul Mundzir, Daud az-Zahiri, Ishaq, Abu Tsaur, dan al-Muzanni. Imam Nawawi dan Ibnu Qudamah lebih memilih pendapat ini. (Al-Majmu’, 8/354-355; al-Mughni, 13/360).

Arti udhiyyah adalah hewan ternak yang disembelih pada tanggal 10 Dzulhijjah dan tiga hari sesudahnya; 11, 12 dan 13 Dzulhijjah dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Yaitu berupa unta, sapi/lembu dan kambing/domba dengan berbagai jenisnya. Ternak berupa kerbau  termasuk kategori lembu. (Kifâyat al-Akhyâr, hal. 629; Hasyiyah al-Bujairami ‘alal-Khathib, 5/239).

Menurut Imam al-Ashma’i, kata udhiyyah memiliki empat bahasa. Pertama, “udhiyyah” (jamaknya adhâhî). Kedua, “idhiyyah” (jamaknya adhâhî). Ketiga, “dhahiyyah” (jamaknya dhahâyâ). Keempat, “adhâh” (jamaknya adhâ). Maka dari itu disebut idul adha; hari raya kurban menurut kita. (Nailul-Authar, 5/133).

Waktunya dimulai dari selesai shalat idul adha bagi yang ikut shalat ied; dan bagi yang tidak ikut shalat seperti musafir atau tinggal di pedalaman tapi tidak hadir shalat idul adha, dihitung dari waktu dhuha. Jadi, memperkirakan waktu shalat dan khotbah ied sudah selesai. Waktu terakhir yaitu matahari terbenam di hari tasyrik ketiga atau tanggal 13 Dzulhijjah. (Ahkâm al-Udhiyyah wadz-Dzakâh Syaikh al-Utsaimin, hal. 20-21).

Dalam Shahih Muslim disebutkan, “Janganlah ada yang menyembelih hingga selesai shalat.” Rasulullah juga bersabda, “Seluruh hari tasyrik adalah hari menyembelih.” (Silsilah al-Ahâdits ash-Shahihah, 2476).

Syarat Sah Udhiyyah

  1. Harus dari binatang ternak yang telah ditentukan. Yaitu unta, sapi/lembu/kerbau, kambing atau domba. Tidak sah udhiyyah dengan hewan lain meski termasuk kategori ternak seperti ayam, bebek atau itik.
  2. Umur binatang mencapai batas yang ditentukan syariat. Sebagaimana dalam Shahih Muslim, “Janganlah kalian menyembelih kecuali musinnah, kecuali jika terasa sulit bagi kalian maka sembelihlah jadza’ah dari domba.”

Musinnah dari kambing domba adalah yang berumur satu tahun masuk tahun kedua; khusus kambing biasa/kambing jawa adalah yang berumur 2 tahun lebih. Dan musinnah dari unta adalah yang berumur 5 tahun, masuk tahun ke-6. Dan musinnah dari sapi adalah yang berumur 2 tahun, masuk tahun ke-3.

Adapun jadza’ah adalah domba yang usianya belum genap setahun, atau enam bulan lebih. Sedangkan unta, sapi/lembu dan kambing biasa haruslah musinnah bukan jadza’ah.Inilah pendapat kuat di kalangan fuqaha’; bahkan dikatakan ijma’ oleh Imam Nawawi. (Al-Majmu’, 8/366).

Tidak dibedakan antara betina dan jantan, apabila sudah mencapai umur yang dibenarkan. Ada yang mengatakan afdhalnya jantan, ada juga betina. Demikian dua pendapat dari Imam Syafi’i. Dan tidak ada khilaf (selisih pendapat) dalam masalah ini. (Al-Majmu’, 8/365; Kifâyat al-Akhyâr, hal. 631).

Unta, sapi/lembu/kerbau mencukupi 7 orang; sebagaimana dalam Shahih Muslim, “Kami menyembelih bersama Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam di Hudaibiyah dengan unta untuk 7 orang, dan sapi/lembu untuk 7 orang.” Sebagian ulama’ membolehkan unta untuk 10 orang. Dalam Shahih al-Bukhari ada hadits yang menguatkannya. Adapun kambing mencukupi untuk satu orang saja, dan juga untuk semua penghuni rumah. (Kifâyat al-Akhyâr, hal. 631).

  1. Bebas dari cacat. Sebagaimana dalam hadits, “Empat jenis hewan yang tidak dibolehkan dalam udhiyyah; yaitu jelas buta sebelah matanya, sakit yang jelas sakitnya, yang jelas bengkok pincangnya, dan yang lemah kurus yang tidak berisi dagingnya.” (Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, 886).

Dan ini sudah menjadi ijma’ ulama’. Adapun hewan yang terpotong telinga dan ekornya; jumhur ulama’ tidak memperbolehkannya. (Al-Majmu’, 8/379).

  1. Orang yang mengerjakan udhiyyah haruslah Muslim, merdeka, baligh, berakal dan mampu. Tidak sah udhiyyah orang kafir. Karena udhiyyah adalah ibadah yang tujuannya pendekatan diri kepada Allah dan membutuhkan niat. Sedangkan salah satu syarat niat adalah Muslim. (Lihat, Mughnil-Muhtâj, 4/377; Raudhat ath-Thâlibîn, 2/469; al-Asybâh wan-Nazhâ’ir, hal. 52).

Demikian juga juga tidak boleh menerima hewan udhiyyah dari orang kafir dan diwakilkan kepada orang Islam. Orang Islam haram untuk mengambilnya sebagai udhiyyah.

Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin berkata, “Tidak boleh mewakilkan/mewakili ahi kitab, meskipun sembelihan ahli kitab adalah halal. Akan tetapi karena udhiyyah ini sifatnya ibadah, maka tidak boleh mewakilkan/mewakili ahli kitab. Karena ahli kitab bukanlah golongan yang diajak ibadah dan taqarrub kepada Allah; karena mereka itu kafir dan tidak diterima amal ibadahnya. Namun kalau sekedar mempercayakan kepada ahli kitab untuk menyembelih saja dengan tujuan makan, itu dibolehkan.  Makanya tidak dibolehkan udhiyyah atau hewan sembelihan dari orang non Muslim, karena mereka bukan golongan yang boleh diajak ibadah. Jika untuk dirinya sendiri saja tidak sah, maka apa yang diberikan darinya kepada orang selain dirinya adalah tidak sah.” (Asy-Syarh al-Mumti’, 7/456).

Kecuali bila akadnya hibah (pemberian cuma-cuma) dan hadiah saja, ini boleh diterima; sebagaimana boleh menerima hadiah apapun yang mubah dari orang kafir dan musyrik. Rasulullah SAW pernah menerima hadiah dari Salman al-Farisi sebelum keislamannya, dari para raja dan kaum Yahudi; seperti wanita Yahudi yang telah menghadiahkan beliau daging kambing beracun.

Dalam masalah ini berlaku beberapa syarat.

Pertama, tidak ada unsur cinta kasih sayang kepada mereka. Kedua, bukan risywah (suap) dari jasa mereka, baik kedudukan, jabatan, atau kepentingan dunia lainnya. Ketiga, bukan benda-benda yang menggiring kepada kebatilan dan maksiyat, seperti salib, lilin natal atau alat-alat musik. Keempat, diharapkan ada maslahat sesudahnya agar dia menyukai Islam dan memeluknya. Kelima, diharapkan tidak ada kerusakan yang timbul dari akibat menerima/memberikan hadiah tersebut sehingga mereka lebih sombong dan menjatuhkan kaum muslimin. Keenam, tidak mengabaikan maslahat yang lebih kuat lagi mendesak terhadap saudaranya semuslim. (DR. Riyadh al-Musaimiri, saaid.net).

Dengan demikian, kebolehan memberikan dan menerima hadiah orang kafir non harbi adalah bersyarat seperti yang disebutkan. Ditambah apakah dia itu kafir dzimmi, dan apakah tergolong fakir atau miskin; atau masuk kerabatnya, tetangganya, ataukah ada tujuan buat melunakkan hatinya agar mau menerima Islam. Dan bila poin-poin ini tidak dijumpai, lebih baiknya untuk diberikan kepada orang Islam.

Imam Malik pernah ditanya tentang orang Islam yang menghadiahkan sebagian daging udhiyyahnya untuk kafir dzimmi yang menjadi tetangga mereka? Beliau menjawab, “Boleh.” Namun setelah itu beliau menarik pendapatnya dan mengatakan, “Tidak ada kebaikan yang bisa diambil.” Dan itu diucapkannya berulang-ulang kali. (Mawâhib al-Jalîl, 3/247).

  1. Tidak boleh menjual dagingnya, kulitnya, bulunya, atau bagian manapun. Karena itu adalah ibadah dan taqarrub kepada Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Siapa yang menjual kulit udhiyyahnya, maka tidak ada udhiyyah baginya.” (Shahih al-Jâmi’ ash-Shaghîr, 6118).

Tidak diperbolehkan membayar upah tukang jagal dari bagian hewan udhiyyah. Sebagaimana dikatakan oleh Ali ibnu Abi Thalib berkata, “Rasulullah SAW memerintahkan kepadaku untuk mengurus sembelihan untanya; dan agar menyedekahkan dagingnya, kulitnya, dan bulunya; serta tidak memberikan kepada tukang jagal darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam Shahih Muslim ditambahkan, “Kami memberinya upah dari harta kami.”

Dari hadits di atas, diambil kesimpulan.

Pertama, tugas panitia kurban sebagaimana tugas sahabat Ali pada hadits di atas. Yaitu menyedekahkan daging udhiyyah, kulitnya dan bulunya; dan tidak mengambil upah untuk tukang jagal darinya; dan upahnya diberikan dari harta mudhahhi selaku pemilik hewan kurban. Kecuali jika tukang jagal tersebut fakir/miskin, maka bagian-bagian tersebut boleh disedekahkan untuknya setelah dibayar upahnya. (Nailul-Authar, 5/158).

Kedua, selain disedekahkan, seorang mudhahhi juga boleh untuk memanfaatkan kulitnya sebagai sandal, sepatu, timba, tempat air atau lainnya. Dan boleh untuk dipinjamkan, tapi tidak boleh untuk disewakan.

Ketiga, kebolehan memakan/menghadiahkan dagingnya, dan memanfaatkan kulitnya adalah pada udhiyyah yang disunnahkan. Dan jika udhiyyahnya jatuh pada wajib seperti telah bernazar untuk udhiyyah, maka seluruh bagiannya, baik dagingnya, kulitnya dan rambutnya adalah wajib untuk disedekahkan kepada fakir/miskin. (Al-Majmu’, 8/399).

Keempat, adapun kebolehan menjual kulit udhiyyah dan hasilnya dibelanjakan untuk kepentingan udhiyyaah adalah pendapat yang gharib (asing). (Kifâyat al-Akhyâr, hal, 637).

Kelima, daging dan kulit udhiyyah yang telah disedekahkan, mutlak menjadi milik si penerima sedekah. Apabila daging, boleh untuk dimakan ataupun dijual. Demikian pula kulitnya, boleh dimanfaatkan, atau dijual. (Mughnil-Muhtâj, 4/387).

Keenam, sebagian ulama’ ada yang membolehkan menjual kulitnya lalu hasil penjualannya disedekahkan. Ini adalah pendapat sahabat Ibnu Umar, Imam Ahmad dan Ishaq. (Al-Majmu’, 8/398).

Ketujuh, berdasarkan penjelasan di atas, apabila tidak ada fakir/miskin yang mau menerima kulit-kulit udhiyyah yang terkumpul atau tidak dimanfaatkan oleh pemiliknya, sebaiknya dijual dan hasil penjualannya disedekahkan kepada kaum fakir/miskin.

Adapun untuk dibelikan kambing oleh panitia kurban dengan tujuan udhiyyah, kedudukan panitia kurban adalah wakil dari mudhahhi (orang yang berkurban), dan bukan mewakili orang-orang fakir/miskin yang layak mendapatkan sedekah kulit udhiyyah. Mereka juga tidak punya wewenang dalam menjual atau menukar kulit-kulit tersebut dengan hewan udhiyyah; disamping kepemilikan seluruh kulit-kulit tersebut tidak jelas siapakah pemiliknya bila dikalkulasi seluruhnya? Kulit-kulit tersebut hanyalah barang shadaqah yang diamanahkan kepada panitia kurban dan belum disalurkan kepada pemiliknya yang berhak. Padahal wewenang panitia kurban hanyalah sebatas yang dikatakan oleh Ali ibnu Abi Thalib pada hadits di atas. Tentunya bila itu sebuah kebaikan, pastinya ada sebagian salaf yang sudah mendahului kita untuk mengerjakannya. Wallaahu a’lam. (Anwar/dikutip dari makalah majalah annajah rubrik makalah edisi 118).