Syarat-Syarat Pusat ke-Khilafah-an

Khilafah Akhir Zaman

An-Najah.net – Agar nantinya khilafah mampu tegak berdiri, mesti ada penopang. Ada umat yang menjadi modal untuk memberikan pengorbanan bagi wujudnya cita-cita suci tersebut. Umat yang berani dan sanggup membayar harga kemuliaan penegakan syari’at dengan pengorbanan maksimal; dirinya, hartanya, keluarganya, kemapanannya, bahkan darahnya di jalan Allah. Seperti jaminan kaum Anshar pada malam Bai’at Aqobah II.

Untuk tumbuh berkembang harus berada di pusaran arus utama politik dunia, bukan di tempat yang secara politis mati. Dan harus ada dukungan potensi sumber daya alam yang dapat digali untuk mengembangkan dan menguatkan khilafah dalam berhadapan dengan musuhnya. Meskipun mungkin dapat dengan mudah dapat dikuasai, tetapi daerah seperti Sinai atau Darfur, atau Sahara Barat bukanlah tempat yang tepat untuk itu. Sebab untuk bertahan dari gempuran musuh dengan berbagai senjata canggih harus memiliki perlindungan alami yang baik. Tempat-tempat tersebut tidak memiliki syarat untuk itu.

Baca Juga : Jalan Panjang Menuju Khilafah Rasyidah

Potensi sumber daya alam yang dapat digali untuk mengembangkan ekonomi dan persenjataan juga tidak tersedia di tempat-tempat itu atau di Somalia misalnya. Bahkan untuk bertahan hidup jika menghadapi embargo ekonomi musuh melalui lembaga-lembaga internasional bentukan mereka juga tidak mampu karena tidak tersedia sumber air yang cukup, lahan pertanian yang memungkinkan untuk hidup subsisten dll. Harus mempunyai sumber penghidupan yang memungkinkan untuk bertahan.

Selanjutnya untuk mendapatkan legitimasi dan dukungan umat Islam kota-kota suci yang memiliki pengaruh religius harus berada di bawah kekuasaannya. Kota Makkah dan Madinah, juga masjid al-Aqsho mesti di bawah kontrol khilafah.

Setelah memperhatikan dan mempertimbangkan syarat-syarat tersebut, emirat Islam sebagai inti pokok Khilafah seharusnya berada di sekitar Hejaz, dengan dua lengan penopang yang kuat Ahlus-Sunnah Yaman dan Ahlus-Sunnah Syam. Penduduk dua tempat tersebut telah mendapatkan pujian-pujian Nabi tentang sifat baiknya dan peranannya dalam penegakan dien. Umat Islam Ahlus-sunnah di Mesir, Iraq dan negara-negara teluk yang lain menjadi lini kedua terdekat untk berperan dalam proyek tersebut.

Analisa dan prediksi beliau ini mempunyai argumentasi naqli maupun akal sehat. Juga setelah ash-shohwah al-Islamiyah al-jihadiyah menempuh perjalanan panjang dengan segala dinamika, menghadapi berbagai tantangan, gangguan dan hambatan, serta perubahannya dari waktu ke waktu. Lontaran pemikiran ini sekaligus juga sebagai koreksi bagi para pemimpin harokah Islamiyah, jika memang bersungguh-sungguh, bahwa daulah Islamiyah, khilafah tidak berdiri di ruang kosong, jika yang dimaksudkan adalah daulah, khilafah yang riel dan berperan. Memerlukan berbagai syarat dan kondisi, juga kesungguhan dan pengorbanan. Koreksi untuk usaha mendirikan daulah Islamiyah di tempat yang tidak memiliki syarat.

Bagi abnaa’ ash-shohwah al-Islamiyah yang serius, pemikiran ini berarti orientasi baru untuk menghimpun kekuatan dan fokus. Semoga dari titik itu impian untuk menegakkan kembali Khilafah Rasyidah ‘ala Minhaj an-Nubuwah menjadi kenyataan. Tinggal bagaimana kita berpikir dan bertindak dengan sungguh-sungguh menyambut orientasi baru yang mulai menyingsing itu, sebab beda fokus beda pula persiapan teknisnya.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 90 Rubrik I’dadul Uddah

Editor : Abu Khalid