Syarh Masailil Jahiliyah, Merendahkan Allah SWT

Kaligrafi Lafadz Allah Swt
Kaligrafi Lafadz Allah Swt

نِسْبَةُ النَّقَائِصِ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ، كَالْوَلَد وَالحَاجَةِ وَالتَّعَبِ، مَع تَنْزِيهِ رُهْبَانِهِم عَنْ بَعْضِ ذَلِكَ

“Menisbatkan banyak kekurangan kepada Alloh SWT, seperti memiliki anak, butuh dan lelah. Padahal mereka mensucikan para ulama’ mereka dari sebagian kekurangan yang disebutkan tadi.”

Menuduh Alloh SWT memiliki banyak kekurangan, adalah karakter Jahiliyah pada matan di atas.

Terkadang, ada umat Islam yang menisbatkan kekurangan kepada Dzat Alloh SWT tanpa sadar. Menetapkan sifat-sifat yang tidak layak bagi Alloh SWT, seperti memiliki anak. Terkadang bisa dengan menafikan sebagian asma’ dan sifat Alloh SWT. Misalnya, orang-orang Asy’ariyah yang menafikan sifat wajah dan tangan Alloh SWT. Secara tidak sadar, di sini mereka telah menetapkan kekurangan bagi Alloh SWT, yaitu Alloh tidak memilik wajah dan tangan.

Orang-orang jahiliyah baik Yahudi, Nasrani maupun musyrikin lainnya, seperti musyrik Quraisy, menisbatkan anak untuk Alloh. Mereka meyakini bahwa Alloh SWT memiliki anak. Jelas ini merupakan pelecehan kepada Alloh SWT dengan menyamakan-Nya seperti dewa-dewa kaum pagan.

Orang-orang Yahudi menyatakan, Uzair adalah putra Alloh SWT, sedangkan Nasrani meyakini al-Masih sebagai putra Alloh SWT. Di sisi lain Yahudi dan Nasrani meniadakan anak bagi para pendeta dan tokoh agama mereka. Karena memiliki anak dalam keyakinan mereka adalah sebuah kecacatan, memiliki anak berarti masih setia dengan syahwat biologis yang merupakan sifat hewan.

Memiliki anak berarti ia membutuhkan perempuan. Mereka hendak mengangkat pendeta seperti al-Masih yang tidak menyentuh wanita. Pendeta tidak boleh cacat. Jadi, memiliki anak adalah kekurangan dan kecacatan.Jadi menisbatkan anak kepada Alloh SWT adalah sebuah penghinaan terhadap Dzat Alloh SWT.

Alloh SWT membantah anggapan ini dalam banyak firman-Nya. Salah satunya,

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Alloh” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Alloh.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Alloh mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?”. (At-Taubah: 30)

Jahiliyah Musyrikin Arab

Adapun orang-orang musyrikin Makkah menganggap para malaikat adalah putrid-putri Alloh SWT. Dalam budaya Arab jahiliyah, memiliki anak perempuan adalah sebuah aib dan celaan. Oleh karena itu, mereka seringkali membunuh anak-anak perempuannya.

Bagi mereka, anak perempuan hanya mempermalukan keluarga. Pasalnya, wanita pada zaman dahulu berada di kasta yang paling rendah, ia dianggap hanya membebani orang tua dan sebagai pemuas nafsu laki-laki saja, tidak lebih. Oleh karena itu, pelacuran dan pelecehan seksual pada masa itu sudah menjadi lumrah. Bahkan memiliki gundik adalah suatu kebanggaan, (Tafsir Ath-Thobary, 17/228).

Bahkan sebagian riwayat menyebutkan, terkadang Arab jahiliyah lebih senang mencarikan makan untuk anjing dari pada mencari makan untuk putrinya. Naibnya, justru Arab jahiliyah mengangkat para malaikat sebagai anak perempuan Alloh SWT. Tentu saja ini merupakan pelecehan terhadap Alloh SWT sebagai Dzat Yang Maha Suci.

Dan mereka menetapkan bagi Alloh anak-anak perempuan[831]. Maha Suci Alloh, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki). Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.” (Qs. An-Nahl: 57)

Jahiliyah Yahudi

Yahudi juga mengatakan bahwa Alloh SWT selalu membutuhkan bantuan manusia. Karenanya, menurut Yahudi, Alloh SWT tidak layak disembah. Pernah suatu ketika Abu Bakar RA memasuki Baitul Madaris, yaitu semacam sekolah bagi orang-orang Yahudi. Di sana beliau menemukan kerumunan Yahudi yang sedang mengelilingi seorang pendeta dan seorang tokoh Yahudi. Fanhash nama pendeta tersebut dan Asyya’ nama tokohnya.

“Wahai Fanhash, tercelah kamu, takutlah kepada Alloh, dan masuklah ke dalam Islam! Bukankah kalian mengetahui bahwa Muhammad SAW adalah utusan Alloh SWT yang datang membawa kebenaran untuk kalian? Dan kabar ini ada dalam kitab taurat, kitab suci kalian?” Kata Abu Bakar RA, mendakwahi orang-orang Yahudi tersebut.

Fanhash menjawab, “Demi Alloh wahai Abu Bakar, kami tidak membutuhkan Alloh. Justru, Alloh yang membutuhkan kami. Kami tidak pernah mengemis kepada Alloh, sedangkan Alloh mengemis kepada kami. Kami tidak butuh Alloh. Andaikan Alloh itu kaya, tentu tidak meminta pinjaman kepada manusia, seperti yang disampaikan oleh sahabatmu –Muhammad SAW-. Jika Alloh kaya, tentunya ia tidak mengharamkan riba, tapi Ia malah mengharamkannya.”

Pendeta durjana ini menghina Alloh SWT. Ia menganggap Alloh SWT membutuhkan pertolongan dan bantuan Yahudi. Mereka juga menyebut Alloh SWT sebagai dzat yang kikir.

Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Alloh terbelenggu, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dila’nat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Alloh terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.”(Qs. Al-Maidah: 64)

Jahiliyah dikalangan Umat Islam

Termasuk sifat jahiliyah ini adalah apa yang diyakini oleh sekte-sekte Islam, seperti menyatakan Alloh SWT tidak memiliki wajah, tidak memiliki tangan, kaki, mata dan lain sebagainya. Alloh SWT tidak pernah marah, tertawa, turun, berjalan dan lain sebagainya. Keyakinan-keyakinan ini muncul dari sekte-sekte sesat seperti Asy’riyah, Mu’tazilah dan turunannya.

Menganggap Alloh SWT memiliki cacat dan tidak sempurna juga bisa terjadi dengan mengabaikan hukum Alloh SWT. Yaitu, menganggap hukum Alloh SWT tidak sempurna, tidak universal, sempit, atau seperti perkataan tokoh Reformasi, mantan ketua MPR sekaligus mantan ketum sebuah organisasi Islam besar di Indonesia, bahwa “Baju Islam terlalu sempit,”.

Semua sifat dan keyakinan jahiliyah di atas bertentangan dengan petunjuk Alloh dan Rasul-Nya, Muhammad SAW. Alloh dan Rasul telah menegaskan dalam banyak ayat maupun hadits, bahwa Alloh SWT Maha sempurna, baik sifatNya maupun hukum-hukumNya. Menolak kesempurnaan ini, sama halnya mendaftarkan diri untuk dilaknat oleh Alloh SWT.* (Akrom Syahid)