Tahun Politik

Tahun 2018, Tahun Politik

An-Najah.net – Tahun 2018 biasa disebut tahun politik. Tahun ini digelar pilkada serentak untuk memilih Bupati, Walikota dan Gubernur. Pendaftaran Capres-Cawapres juga digelar tahun ini.  Artinya, tensi politik semakin panas. Dalam tradisi politik, janji-janji semakin bertebar. Tak sedikit setelah jadi, janji tinggal janji, rakyat kembali gigit jari.

Fahri Hamzah menyebut tahun 2018 adalah tahun politik penuh. Sebab, pada 2019 semua pemimpin nasional dipilih bersamaan, mulai dari DPR, DPD, Presiden dan wakilnya. Artinya tahun 2018 akan penuh dengan dinamika politik. Bagi Jokowi-JK, tahun 2018-2019 sangat krusial untuk dapat terpilih kembali atau cukup sekali.

Maka waspadai beberapa kebiasaan politikus busuk di tahun politik, mengobral janji, tapi lupa setelah jadi. Berikut berapa hal yang sering dilakukan di tahun menjelang pemilihan. Baik Pilkada, Pemilu maupun Pilpres.

Mendekat Ulama

Salah satu ciri tahun politik adalah banyaknya safari tokoh politik. Mereka mengunjungi para ulama yang memiliki basis massa. Dengan bahasa ‘silaturahmi’ dan ‘sowan pada ulama’ mereka berharap mampu mempengaruhi basis massa yang dimiliki ulama tersebut.

Tak jarang mereka menebar janji, memberikan sumbangan, membangunkan gedung dan ikut meresmikan dan berbagai cara yang lain. Cara-cara ini lazim dilakukan oleh tokoh politik, terutama para pejabat yang berkuasa. Foto-foto dengan ulama mereka sebar dengan harapan mampu mempengaruhi pemilih yang mengidolakan ulama tersebut. Padahal, saat berkuasa mereka menjauh dengan ulama. Tak jarang ulama yang lurus dikriminalkan.

Kunjungi  Pesantren

Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Pesantren ini menjadi ladang empuk para politikus. Jumlah santri yang cukup banyak dan tradisi jaringan pesantren yang luas diberbagai daerah menjadi incaran tersendiri. Biasanya, mereka menebar janji dengan memberikan bantuan.

Biasanya pula, kunjungan dikemas dengan bantuan dan santunan. Tidak tanggung-tanggung, sejumlah uang dikucurkan asal mereka bisa berkunjung ke pesantren. Kunjungan ini akan diiringi dengan publikasi massif yang mencitrakan mereka sangat dekat dengan pesantren dan kyainya.

Aktif ke Masjid

Hal yang nampak di tahun politik adalah aktifnya politikus ke masjid yang biasanya tidak pernah mereka lakukan kecuali di hari-hari besar. Pola mereka menyapa jamaah masjid, memberikan fasilitas pengajian, TPQ dan lainnya.

Masjid menjadi sasaran empuk mengingat jumlahnya tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari kota, desa sampai pelosok. Selain itu, jumlah jamaahnya cukup besar menjadi lahan menggiurkan para politisi.

Hadir dalam Kegiatan Keagamaan

Di antara hal yang sering terjadi di tahun politik adalah mulai aktifnya para politikus dengan berbagai kegiatan keagamaan. Pengajian-pengajian mulai tampil. Memberikan janji-janji yang menggiurkan. Padahal sebelumnya tidak pernah hadir dalam pengajian.

Rumah mereka dipersilahkan untuk dipakai pengajian. Mereka mengundang jamaah pengajian untuk mengadakan pengajian di rumahnya. Tak jarang, mereka juga mengundang anak-anak yatim untuk diminta mendoakan.

Memanipulasi Ayat

Tak kalah ramainya adalah munculnya orang yang mengaku ulama atau biasa dikenal ulama-ulama su’. Ulama ini biasanya disewa para politikus untuk memberikan dalil dengan ayat-ayat al Qur’an sebagai bentuk legitimasi terhadap apa yang mereka lakukan, termasuk kebijakan-kebijakan yang diambil saat berkuasa.

Ingat, zaman Orde Baru cukup populer kalimat tauhid dalam Surat Ibrahim diterjemahkan dengan pohon beringin yang akarnya menghujam di tanah serta daun dan rantingnya rindang melindungi siapa saja yang berteduh di dalamnya. Mereka menafsirkan ayat tersebut dengan partai beringin saat itu agar masyarakat memilihnya.

Pola-pola ini akan selalu berulang dengan model dan cara berbeda. Ada ulama-ulama su’ yang mereka menjual ayat untuk mendapatkan legitimasi dari calon yang dipilihnya dengan sedikit imbalan duniawi.

Media Puja Puji dan Survey Pesanan

Apa maksudnya media puja puji? Di tahun politik biasanya muncul media-media baru yang isinya memuja-muji calon yang diusungnya. Apapun nampak baik dengan janji-janji yang muluk. Orang tidak tahu track record, latar belakang dan sepak terjangnya selama ini. Media semacam ini biasanya ada dan pergi seiring dengan kepentingan untuk mempromosikan calon yang diusungnya.

Ada pula survey-survey pesanan untuk mengunggulkan calon yang diusungnya. Hal ini memberikan persepsi positif dan memengaruhi opini masyarakat terhadap calon atau partai yang diunggulkan. Tak sedikit, lembaga survey demi keuntungan prakmatis harus melakukan survey berdasarkan pesanan.

Media Mainstream dan Politik Pencitraan

Media menjadi alat ampuh untuk membentuk opini publik, yaitu mencitrakan seseorang sesuai apa yang diinginkan dengan penuh rekayasa. Orang yang jahat dapat ditampilkan sebagai orang yang baik, penyantun, taat dan sebagainya. Atau sebaliknya, orang yang baik ditampilkan sebagai orang jahat. Biasanya, media mainstream menjadi pelaku utama dalam pembentukan pencitraan seperti ini.

Dalam konteks pemilihan pemimpin, media berperan memengaruhi pemilih dan memengaruhi persepsi pemilih terhadap calon pilihannya. Di sinilah biasanya muncul istilah merakyat, santun, sederhana, peduli. Hari ini pencitraan seakan menjadi menu wajib dalam alam demokrasi.

Ketegasan Sikap dan Edukasi Umat

Dalam kondisi seperti di atas, ketegasan sikap kaum muslimin sangat diperlukan. Ulama harus mampu mengawal umat dengan baik. Mereka sebenar-benarnya pemimpin dalam masyarakat. Tidak terjebak dalam kepentingan prakmatis. Apalagi menjadikan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dunia. Bimbingan ulama sangat diperlukan dalam kondisi kebingungan yang menimpa umat.

Masyarakat harus mampu mengingat dan mencatat dengan baik, siapa pemimpin-pemimpin yang jujur dan ikhlas terhadap rakyatnya. Siapa pula yang hanya memanfaatkan untuk kepentingan pribadi dan partainya. Siapa yang banyak menebar janji. Siapa pula yang banyak memusuhi ulama dan mengorbankan umat Islam.

Coret dengan tinta merah mereka-mereka yang selama ini memusuhi ulama. Menyingkirkan umat Islam. Phobia terhadap Islam dan banyak menyusahkan kaum muslimin. Termasuk mereka yang anti dan tidak ada respek sedikitpun terhadap syariat Islam.

Ulama harus mengedukasi umat bagaimana kepemimpinan dalam Islam. bagaimana syarat-syarat menjadi pemimpin. Bagaimana menjadi pemimpin yang amanah. Tidak  menjalankan praktek-praktek kotor apalagi melanggar syariat Allah.

Edukasi  umat tentang kepemimpinan dalam Islam menjadi urgen. Memberikan contoh-contoh kemuliaan para pemimpin muslim mulai zaman Rasulullah, sahabat dan pemimpin-pemimpin muslim setelahnya. Edukasi ini akan menjadikan orang-orang yang berfikir prakmatis hanya memanfaatkan umat Islam akan tersingkir dengan sendirinya. Wallahu ‘alam

Penulis : Yusuf

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 147 Rubrik Teropong

Editor : Anwar

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.