Tak Seindah Dongeng

156297-mug-couple

Ukhti Fulanah tersenyum-senyum membayangkan betapa indahnya sebuah pernikahan. Akan ada sang suami yang menjadi belahan jiwa, pelepas rindu dan gejolak hasrat. Tempat melabuhkan kasih sayang dan cinta, merajut kemesraan dan meluapkan perasaan yang terdalam.

Ada canda yang menyegarkan, ada kehangatan yang menyejukkan, ada cinta yang melambungkan perasaan. Curahan perhatian, perlindungan, kasih sayang, berpadu dalam kumpulan rasa yang susah untuk dilukiskan ataupun diungkapkan. Ah, indah nian menikah! Demikian sang akhwat membangun imajinasinya tentang pernikahan.

 

Cinderella Syndrome

Sebagian besar kita, mungkin sangat familiar dengan sosok putri Cinderella dan sepatu kacanya. Dongeng tersebut bercerita tentang seorang gadis yang hidup susah merana bernama Cinderella. Ia kemudian bertemu dengan pangeran impiannya. Sang pangeran menikahinya tanpa peduli dari mana ia berasal. Pada akhirnya, Cinderella hidup bahagia sebagai seorang putri di sebuah kerajaan antah berantah.

Gambaran dongeng tersebut telah banyak memenuhi ruang imajinasi anak-anak perempuan. Membayangkan bisa menjalani episode kehidupan layaknya Cinderella. Punya suami sang pangeran tampan nan gagah, tinggal di istana mewah dan megah, serta hidup tanpa masalah. Persis seperti quote terakhir dalam dongeng-dongeng tersebut. Happily ever after! Hidup bahagia selamanya.

Cinderella Syndrome tersebut ternyata juga bisa menjangkiti para akhwat dalam bentuk yang lain. Berharap untuk dipersunting sosok ikhwan prince charming dan hidup bahagia penuh suka cita bak putri di negeri dongeng. Padahal, pernikahan yang sesungguhnya sangat jauh dari bayangan tersebut.

Kehidupan pernikahan pun seharusnya tak dimaknai dengan kesenangan-kesenangan semata. Pernikahan, sungguh bukanlah kisah dongeng ataupun drama. Berisi tentang romantisme picisan maupun khayalan yang membuai penikmatnya.

 

Bukan bebas konflik

Perjalanan pernikahan tentu tak semulus jalan tol. Misalnya, di sebuah rumah terjadilah perang dingin sepasang suami istri penghuninya. Isak tangis istri mewarnai konflik mereka. Tidak hanya sekali dua kali perselisihan terjadi di antara mereka.  Namun, meski belasan tahun mereka menikah dengan diwarnai riak-riak kecil problematika rumah tangga, keluarga mereka masih utuh dan bahtera rumah tangga mereka pun terus berlayar.

Gambaran di atas menunjukkan bahwa yang namanya berumah tangga, pasti ada gesekan dan friksi internal. Sepertinya hampir mustahil jika ada rumah tangga yang bebas konflik dan tanpa masalah sama sekali. Yang terpenting adalah bagaimana mengatasi konflik dengan cantik. Mengatasi masalah tanpa masalah.

Acap kali kita temui, banyak pasangan suami istri yang justru ‘berdiam diri’ ketika berselisih. Kalaupun diamnya hanya beberapa saat untuk meredakan gejolak emosi dan menenangkan pikiran, mungkin tidak masalah. Tapi kalau diamnya berbuntut saling mendiamkan satu sama lain dalam waktu yang lama (berhari-hari atau berminggu-minggu), pasti tidak akan menyelesaikan masalah. Aksi diam hanyalah jalan buntu yang membuat keduanya kesulitan mencari jalan keluar.

Setiap pasangan harusnya memiliki kedewasaan dan keseimbangan emosi. Meski kadang banyak juga yang maunya menang sendiri dan gengsinya tinggi. Hal tersebut bisa di minimalisasi, jika bisa menyampaikannya dengan bahasa yang dikemas apik dan tidak menyinggung.

Rumah tangga yang eksis bukan berarti bebas konflik. Karena yang namanya berselisih pendapat itu biasa. Bukankah menikah adalah menyelaraskan warna-warni dua jiwa untuk menjadi satu warna terpadu? Asal masing-masing memahami manajemen konflik dan beritikad baik untuk mencari solusi mengatasinya, insyâAllah  tidak ada konflik yang berkepanjangan.

Bagi sepasang suami istri yang hampir setiap hari bertemu, bertatap muka, makan bersama dan tidur bersama, sangat membutuhkan pola komunikasi yang baik. Tanpa ada komunikasi yang baik, yang terjadi adalah ‘tersumbatnya kran’ karena air tak bisa leluasa keluar.

Suami memang punya andil besar dalam menjembatani komunikasi dengan istri. Karena seringkali istri yang menyesuaikan ritme suami. Namun, jika suami tak kunjung berinisiatif mendobrak sekat penghalang yang membuat jarak, maka para istri lah yang mendobraknya. Tak harus menunggu suami. Ajak suami untuk berbicara dari hati ke hati. Bisa juga dengan membawa secangkir minuman penghangat suasana. Yang jelas, komunikasi yang tersumbat hanya akan menghambat kita untuk mengalirkan rasa saling memahami, saling percaya dan saling mengerti antara suami dan istri.

 

Kembali pada Visi Islam

Hal terpenting dalam menyelesaikan konflik yang menyapa biduk rumah tangga adalah komitmen menjalankan konsep Islam. Mengembalikan segala sesuatunya dalam mizan syar’i dan menanggalkan egoisme yang maunya menang sendiri. Suami istri yang hidup dalam nuansa syariah dan berorientasi pada mardhatillâh (ridha Allah), serta membangun rumah tangganya atas dasar takwa, akan berusaha untuk saling menasehati dan bermusyawarah atas permasalahan yang terjadi.

Dengan adanya tujuan yang sama dan referensi pemecahan masalah yang sama, segala macam problematika akan lebih mudah menemukan solusinya. Bukankah ridha Allah adalah tujuan yang sama, dan Al-Qurân dan As-Sunnah adalah rujukan pemecahan masalah bersama? Yang tak boleh dilupakan pula, adalah pondasi ketakwaan yang dibangun dalam diri suami istri sekaligus menjadi pondasi jalinan rumah tangga mereka. Dengan  ketakwaan, segala masalah akan mudah memecahkannya.

Allah Ta’ala telah berfirman, “Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan jalan keluar baginya.” (Ath-Thalaq: 2), dan “Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (Ath-Thalaq: 4). (Ummu Aman)

Diambil dari majalah Islam An-Najah Edisi 90 April 2013 rubrik Sakina.