Tangan dan Kaki Akan Menjadi Saksi

Ilustrasi, Kaki dan Tangan Menjadi Saksi di Akhirat
Ilustrasi, Kaki dan Tangan Menjadi Saksi di Akhirat

An-Najah.net – Dering Hp tanda pesan masuk malam itu mengagetkanku. Pasalnya, mata ini sudah susah diajak kompromi untuk jaga, kantuk berat sudah menyerangku. Sebenarnya malas untuk menyentuh HP larut malam begini. Apalagi, biasanya paling sms pertanyaan yang minta segera dijawab.

Walau dengan perasaan malas, Hp ku sentuh juga. Perkiraanku salah. Bukan pertanyaan. Tapi “Mutiara” yang sangat berharga. Sebuah nasehat yang cukup menyentuh kalbu. Sms nya berbahasa arab. Gundul, tidak berharokat. Ku kucek mataku, agar jelas membaca sms tersebut.

Sepertinya aku pernah membaca bahasa arab gundul ini. Betul. Ternyata sms itu dinukil dari salah satu firman Allah swt dalam surat Yaasin. Sebuah surat yang kalau malam jum’at “diwajibkan” baca oleh kiya dan guru ngajiku saat masih kanak-kanak di kampung kelahiranku. Tentu ayat-ayatnya tidak asing lagi bagiku yang dibesarkan di tengah komunitas nahdiyin.

Baca Juga : Pantaskah Diri Kita Disisi Allah Ta’ala?

Biasanya, sehabis sholat maghrib malam jum’at, jama’ah akan dibagikan surat Yasin yang sudah didesain khusus. Mungil, semacam buku saku. Ada beberapa jama’ah maghrib yang tidak mengambil surat Yasin saku itu. Bukan karena ia menganggapnya bid’ah. Tapi ia sudah hafal, saking seringnya. Tentu, pak kiyai, sang imam sholat yang konon menghadiahkan nama untukku, telah hafal surat ini diluar kepala.

Nostalgia masa kecil memang indah. Dulu aku termasuk anak yang paling sering membaca surat ini. Padahal, anak-anak sebayaku setelah salam langsung ambil posisi main petak umpet di halaman masjid. Atau ada yang mempersiapkan bacaan untuk disetorkan kepada pak kiyai nantinya. Atau apalah yang mereka lakukan di luar masjid… Karenanya, banyak orang tua memujiku. Ah, pujian yang kemudian hari sangat kusesali, karena setelah aku masuk pondok ternyata ibadah yang ku lakukan dengan bangga tadi adalah bid’ah.

Baca Juga : Pedagang Jujur, Besok Di Akhirat bersama para nabi, shadiqin dan Syuhada

Ia Akan Menjadi Saksi

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (Yaasin: 65)

Begitu bunyi ayat yang dicopi untuk sms. Artinya sangat menyentuh kalbu. Membuat rasa, semakin bergemetar. Membacanya, menjadikan pikiran menerawang jauh ke depan, menjelajah lorong-lorong waktu, membayangkan wajah yang sakaratul maut, memasuki lubang-lubang gelap kuburan. Berlanjut pada bayangan saat berdiri di padang mahsyar, ditengah lautan manusia yang sedang bingung, harap-harap cemas, menunggu dari arah mana catatan amal diterima. Dalam keadaan telanjang, tidak berpakaian. Bertelangjang kaki. Dalam keadaan belum sunat. Sebelumnya harus berdiri di hadapan raja diraja, rabb semesta Alam. Menghisab manusia satu persatu. Video klip amal selama di dunia ditayang. Segala amal ditampakkan, yang baik maupun buruk. Tidak ada satupun yang bisa menyangkal. Karena datanya valid. Lengkap dengan waktu dan tempatnya.

Semua di dunia akan bersaksi atas apa yang diperbuat oleh jiwa manusia. Mulut dikunci tidak diizinkan berbicara. Yang berbicara dan bersaksi adalah lidah, kaki dan tangan.

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.(an-Nuur: 24)

Bukan hanya kulit tapi seluruh benda apa saja didunia yang berada disekitar tempat seorang hamba berbuat; baju, celana, tembok, pohon, batu, ilalang, kursi, computer, televisi, dan semuanya benda di bumi ini akan menjadi saksi dan akan berbicara dihadapan Allah swt.

“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya,”(Q.s. az-Zalzalzh: 4)

Sms teman ini memang sangat menggugah perasaan siapapun. Bagiku sms ini sangat berharga. Sampai-sampai aku save dalam Hp. Dan sering ku baca saat-saat senggang. Terlebih ketika dalam perjalanan.

Baca Juga : Bakhil Derita Abadi Dunia dan Akhirat

Memang, kawan ini berbeda dengan kawan-kawanku yang lainnya. Sms-smsnya tidak ada canda. Serius. Dan selalu menunjukkan kasih sayang kepada teman-temannya dengan sms-sms nasehat. Catatan-catatannya di FB maupun situsnya selalu berkisar masalah hati, kematian, pahala-siksa. Pokoknya tazkiyatun nafs. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku teman yang soleh ini –nahsabuhu kadzalik wala nuzakki ‘Alallahi ahadan-

Pembicaraan tentang kematian, hisab, neraka, surga, shiroth dan sejenisnya adalah sesuatu yang kurang diantusiasi oleh kebanyakan orang. Sering dilalaikan dan sengaja dijauhi oleh manusia hari ini.

Sangat berbeda dengan kehidupan salaf. Harian mereka tidak terpisah dari mengingat akherat. Ada riwayat yang mengisahkan, Umar bin Khattab ra memiliki sebuah majlis khusus. Beliau mengumpulkan para sahabat secara rutin. Isi majlis beliau mereka saling mengingantkan masalah kematian. Hingga diantara mereka ada yang menangis tersedu-sedu, mengingat panjangnya perjalanan di akherat, membayangkan kesempitan kuburan yang tidak ada sanak kerabat yang menemani, gelap, dan waktunya tidak diketahui secara pasti hingga kapan berakhir. Yang menemani dengan setia hanyalah amal-amal yang pernah diperbuat.

Teringat sabda rasulullah saw

” إِنَّمَا اْلقَبْرُ رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ اْلجَنَّةِ أَوْ حُفْرَةٌ مِنْ حُفَرِ النَّارِ ” . رواه الترمذي

“Kuburan adalah salah satu taman dari taman-taman surge atau lubang dari lubang-lubang neraka”.(HR. Tirmidzi)

Saat itu adalah pengadilan yang maha adil, tidak ada kedzoliman sama sekali. Yang membela seorang hamba bukan pengacara, karena mereka juga akan menjadi terdakwa. Tetapi, amal ibadah-lah yang berfungsi sebagai pengacara.

Baca Juga : Menikmati Jalan Kebenaran

Jika berbicara soal peradilan, kita diingatkan dengan do’a yang senantiasa dipanjatkan oleh nabi saw dan orang-orang sholeh

الَّلهُمَّ إِنِّي أّسْأَلُكَ النَّعِيْمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَ اْلأَمْنَ يَوْمَ الْخَوْفِ اَلَّلهُمَّ عَائِذٌ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا أَعْطَيْتَنَا وَ شَرِّ مَا مَنَعْتَنَا اَللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا اْلإِيْمَانَ وَ زَيِّنْهُ فِيْ قُلُُوْبِنَا وَ كَرِّهْ إِلَيْنَا اْلكُفْرَ وَ اْلفُسُوْقَ وَ اْلعِصْيَانَ وَ اجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ الَلَّهُمَّ تَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ وَ أَحْيِنَا مُسْلِمِيْنَ وَ أَلْحِقْنَا بِالصَّالِحِيْنَ

“Ya Allah, daku meminta dariMu kenikmatan dan rasa aman di hari kiamat. Ya Allah, saya berlindung kepadamu dari keburukan apa yang telah Engkau anugerahkan kepada kami dan keburukan sesuatu yang tidak Engkau anugerahkan kepada kami. Ya Allah,  Jadikanlah iman sesuatu yang kami cintai  dan indah di hati kami, jadikanlah kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan sesuatu yang kami benci. Dan jadikanlah kami golongan yang mendapat petunjuk. Ya Allah, wafat dan hidupkan kan kami dalam keadaan muslimin dan kumpulkan kami bersama orang-orang sholeh. (HR. Hakim, shohih.) …amin ya Rabb.*

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 67 Rubrik Oase Imani

Penulis : Mas’ud Izzul Mujahid

Editor : Miqdad