Tantangan Kemerdekaan

Tantangan kemerdekaan
Tantangan kemerdekaan
An-Najah.net – Islam mengajarkan kemerdekaan yang hakiki. Kemerdekaan merupakan hak ‎segala bangsa. Begitulan kalimat pembuka dalam UUD’ 45 yang menjadi dasar bagi NKRI. ‎Semua umat manusia merindukan kemerdekaan. Bahkan karenanya revolusi di berbagai belahan ‎dunia terjadi.‎

Islam megajarkan Kemerdekaan yang hakiki

Umat Islam, dengan meneladani Rasulullah Saw melontarkan tantangan fair play (bermain ‎dengan adil) kepada ahli kitab, sebagai perintah dari Allah Ta’ala. Tantangannya sebagai berikut:‎
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ ‏دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Katakan (wahai Muhammad): “Hai Ahli Kitab, marilah (kita mengacu) kepada prinsip yang ‎sama antara kita (kami dan Anda); bahwa kita tidak mengabdi kecuali kepada Allah, tidak ‎menduakan Allah dengan sesuatu dan tidak (pula) sesama kita saling menuhankan untuk ‎menandingi Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, ‎bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”  (QS. Ali Imran: 64) ‎
Ada tiga tantangan yang diajukan Rasulullah Saw dalam ayat ini kepada kaum Yahudi dan ‎Nasrani yang jika diterima tantangan itu, tak ada salah satu pihak yang mendapat keuntungan ‎politik sama sekali. ‎
Pertama, sama-sama mengabdi hanya kepada Allah Ta’ala. ‎
Kedua, sama-sama tak menduakan Allah Ta’ala dengan sesuatu. Allah Ta’ala diberi loyalitas ‎dan ketundukan bulat dan eksklusif (kekhususan), tak ada share dengan yang lain. ‎
Ketiga, sama-sama tak saling menuhankan. Manusia tak boleh menjadi tuhan untuk manusia lain, ‎dengan semua variasi maknanya. (Syamsuddin al-Qurthubi, Al-Jami’ Lil Ahkamil Qur’an, cet II, ‎jilid 4, hal. 105, versi syamila)‎
Tantangan ini bisa dianggap sebagai ajakan untuk merdeka dari penghambaan sesama manusia, ‎untuk secara total hanya menghamba kepada Allah Ta’ala, Sang Pencipta dan Rabb segala-‎galanya. ‎

Ketuhanan Yang Diperebutkan

Tapi sayang ajakan fair (keadilan) ini cenderung ditolak oleh mereka. Patut dicurigai, siapa yang ‎menolak ajakan merdeka berarti punya agenda tersembunyi; ingin tetap bisa mencengkeram umat ‎manusia dengan penghambaan. ‎
Maklum, diberi loyalitas, pengabdian, layanan, pengorbanan, cinta buta, pembelaan dan ‎sejenisnya adalah kandungan makna ‘dituhankan’, bagian menonjol dari kenikmatan dunia yang ‎diperebutkan umat manuaia. ‎Dalam hal ‘manusia menuhankan manusia lain’ terdapat dua kezaliman; zalim kepada manusia, ‎dan zalim kepada Allah Ta’ala Sang Pencipta. ‎
Kezaliman kepada manusia karena lahirnya ketimpangan di tengah masyarakat; ada yang ‎hidupnya serba mudah (terlalu merdeka); mobil mewah, rumah megah, harta melimpah dan di sisi ‎lain ada yang serba susah (terpasung); kebutuhan tak terpenuhi, ujian ekonomi seli berganti, ‎membuatnya tercekik hampir mati. Itulah fakta yang terjadi.  ‎
Sementara Allah Ta’ala terzalimi dalam hal ketuhanan yang seharusnya khusus hanya milik Allah ‎Ta’ala semata, tapi dirampas oleh manusia yang takus dan dusta. Kerenanya, menolak tauhid ‎pasti karena menolak merdeka. ‎

Jeritan Rakyat

Jika memang kita sudah “merdeka”, mengapa banyak rakyat jelata yang sengsara menjerit, ‎menahan “siksa”. Bukankah negeri ini ngeri kaya, semua kita punya; minyak bumi, batu bara, ‎tambang emas, tembaga dan semuanya ada di Indonesia. ‎

Akan tetapi? Kemakmuran ibarat panggang jauh dari bara; yang kaya semakin kaya, yang miskin ‎semakin miskin papa (sangat miskin). Mayoritas rakyat kita sama halnya ‘ayam mati di lubung ‎padi’, menuai sengsara di atas bumi pertiwi.‎

Baca juga: Fitnah Akhir Zaman, Merebaknya Kebohongan

Saudaraku, keadilan tidak bisa kita dapatkan, yang benar terus dipersalahkan, yang salah terus ‎dibenarkan. Orang-orang asing mereka muliakan, sementara pribumi mereka bunuh perlahan-‎lahan. Sungguh mereka bener-benar mengudang murka Tuhan (Allah Ta’ala). ‎
Allah Ta’ala berfirman:‎
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya ‎Allah Ta’ala merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka ‎kembali (ke jalan yang benar (QS. Ar-Rum: 41) Wallahu Ta’ala ‘Alam
Penulis ‎: Ibnu Jihad
Editor ‎: Ibnu Alatas‎