Terlena Karena Banyaknya Jumlah

Terlena Jumlah
Terlena Jumlah

An-Najah.net – Melihat sunnatullah pertarungan antara al-haq dengan al-batil selalu menarik. Naluri manusia menyukai tontonan drama menegangkan.

Dan ketegangan itu memang ada di sana. Sangat seru. Kadang tampak jelas pertarungan itu, kadang tersamar di balik hiruk-pikuk rebutan dunia.

Setiap manusia niscaya terlibat dalam drama ini. tak peduli sebesar apa keterlibatannya. Tak ada yang benar-benar menjadi penonton, paling kurang hatinya pasti berpihak.

Ada yang berada pada barisan al-haq, ada yang sebaliknya. Hanya persoalannya, tak semua orang menyadarinya dengan sungguh-sungguh.

Banyak contoh orang terlibat tapi tidak sadar. Orang-orang yang tergabung dalam grup band, yang menjual jasa nyanyian live dan jogetan sensual para biduannya, tanpa sadar ikut terlibat bersama barisan ahlul-batil.

Mereka menjadi ‘anak buah’ setan meski dengan dalih manis; menghibur itu ibadah! Setan punya misi menebar sensualitas dan musik, sementara mereka tim pelaksana misi itu.

Bahkan kalau mau jujur, banyak aparat muslim yang tidak sadar dirinya terlibat dalam drama, berada bersama ahlul-batil. Padahal banyak diantara mereka yang shaleh setidaknya secara Ubudiyah mahdhoh.

Mereka bisa benar-benar tulus membela pluralisme, tradisi syirik yang menjadi jualan beberapa daerah, membela sistem hukum non-syariat dan sebagainya, tanpa menyadari bahwa ia sedang melaksanakan misi ahlul-batil.

Realita ini membuka mata kita, ternyata dimensi pertarungan teramat luas, seluas sisi-sisi kehidupan itu sendiri. Pihak-pihak yang terlibat juga pelangi dan saling-silang.

Boleh jadi ada muslim yang kadang sebagian waktu, tenaga dan potensinya diberikan untuk kemaslahatan ahlul-batil, sadar atau tidak sadar.

Tapi juga sebaliknya, kadang ada non-muslim yang tanpa sadar “membantu” barisan ahlul-haq. Misalnya dalam kasus keberpihakan kepada ahlul-haq itu karena secara kebetulan beririsan dengan kepentingan politik atau ekonominya.

Fenomena Kutu Loncat

Fenomena mudahnya manusia bertukar peran, sekali waktu bersama ahlul-haq dan di waktu lain berpihak kepada ahlul-batil memang menjadi tanda zaman yang khas.

Fenomena yang sudah diperkirakan akan datang, digambarkan oleh Nabi SAW sebagai ‘kekacauan’ (fitnah) seperti malam gulita’. (HR Muslim). Gambaran fitnah yang akut.

Rasanya zaman ini pas dengan penggambaran tersebut. Setiap muslim bingung dengan ikatan loyalitasnya sendiri. Loyalitas iman dan Islam terkikis. Sebaliknya loyalitas atas dasar dunia kian menguat.

Sebenarnya bukan melulu salah umat awam. Wajar saat zaman di dominasi syubhat (syirik, kufur dan paham sesat) dan Syahwat (mungkar, maksiat dan budaya jahiliah) umat awam menjadi rabun memilah al-haq dari al-batil.

Semuanya tertutupi kabut, gelap gulita laksana malam kelam. Ya benar-benar sebuah fitnah dahsyat laksana malam yang pekat.

Dampak kelanjutannya, umat awam akan dengan mudah menukar loyalitasnya atau tertukar secara tak sengaja. Nabi Muhammad Saw memberi gambaran; “… di pagi hari seseorang masih mukmin tapi sore berganti kafir, atau sore hari menjadi mukmin di pagi hari berubah kafir, (karena) menjual agamanya dengan sepenggal kenikmatan dunia”. (HR. Muslim )

Tentu berganti agama dalam hadits ini bukan dalam arti kolom agama yang tertulis di dokumen kependudukan. Siklus sehari; pagi muslim sore jadi kristen lalu pagi muslim lagi, rasanya memang tidak ada.

Tapi jika ‘agama’ yang dimaksud gradasinya diperkecil, maka makna pergantian iman-kufur itu salah satunya adalah loyalitas. Pagi loyalitasnya diberikan untuk ahlul-haq.

Sore diberikan untuk ahlulbatil. Apalagi jika dikaitkan dengan sabda Nabi SAW yang lain, bahwa ad-dinu an-nashihah (HR. Muslim), agama itu esensinya adalah kesetiaan alias loyalitas.

Fenomena kutu loncat dalam hal loyalitas banyak terjadi di tengah umat. Dan zaman sekarang loyalitas terhadap al-haq sangat mudah berganti dalam hitungan jam menjadi loyal terhadap al-batii.

Contoh paling mudah, televisi pagi hari menyiarkan nasehat keislaman, tapi segera disusul dengan acara sensual. Penyebabnya hanya karena mengejar iklan (dunia). Demikian pula dengan radio, surat kabar dan dalam kehidupan secara luas.

Akibatnya, umat awam sebagai penonton terdidik untuk menyukai ‘gado-gado’. Mereka menjadi terbiasa melihat al-haq itu berkolaborasi dengan al-batil.

Betapa mudah mendapati sosok wanita berjilbab di televisi yang ikut heboh berjoget dan melakukan hal-hal yang merusak citra busana muslimah itu sendiri. Penonton menjadi terbiasa.

Demikian pula dalam dunia politik dan pemerintahan. Pejabat muslim tak selalu mengambil posisi membela islam dan umat Islam. Nasionalisme mengaburkannya.

Akibatnya sama, rakyat awam terbiasa melihat longgamya loyalitas iman itu dan pergantiannya dalam hitungan jam.

Perjelas Al-Haqq, Bangun Loyalitas

Berangkat dari kenyataan ini, para dai punya PR berat. Pertama, memperjelas sosok al-haq dan ahlul-haq sehingga tampak nyata bedanya dengan sosok al-batil dan ahlul-batil.

Apapun kreasi dan olahan cara yang bakal dilakukan para dai dan mubaligh, kembalinya kepada ilmu. Sebab ilmu akan melahirkan persepsi atau pandangan terhadap sesuatu.

Jika pandangan ini sehat, gambar yang tampak juga jelas. Ketika gambar sudah jelas, tak lagi samar, diperlukan langkah berikutnya.

Kedua, membangun loyalitas dan keberpihakan yang jelas. Apalah artinya jumlah pemeluk islam yang super jumbo. jika loyalitasnya terhadap Islam super mini.

Dan ketika loyalitasnya mini, artinya porsi loyalitasnya yang jumbo pasti diberikan kepada pihak lain.

Loyalitas adalah kunci kekuatan. Jika kita serius ingin menjayakan islam, loyalitas mesti dijadikan basis kekuatan, bukan jumlah penganut agama islam semata.

Kekuatan tak bisa dibangun di atas ‘husnudhan’ bahwa setiap muslim pasti akan memberikan loyalitasnya secara otomatis kepada islam dan umat islam. Hunsu-dhan ini akan membual dan melenakan.

Yahudi jumlahnya kecil. Tapi loyalitas warga Yahudi terhadap misi Yahudi lebih terjaga, tak ada yang bocor. Kalaupun ada kebocoran, persentasenya kecil.

Yahudi menambah kekuatannya dengan ‘mencuri’ loyalitas dari pemeluk agama dan ideologi lain; Nasrani, Hindu, Komunis, China, Jepang dan pemeluk islam tentu saja.

Ada yang memberikan loyalitasnya secara sadar, ada yang tanpa sadar seperti penyelenggara acara sensual di televisi di atas.

Demikian pula Syi’ah. jumlah mereka kecil jika dibanding Ahlus-sunnah. Tapi mereka mampu menjaga loyalitas pemeluk Syi’ah dan menjaga militansinya.

Lebih dari itu, mereka juga bisa ‘mencuri’ loyalitas dari kalangan Ahlus-sunnah, baik kalangan awam maupun tokoh dengan pendekatan humanis, syahwat maupun uang.

Kekuatan al-haq terletak pada nilai kebenarannya yang cocok-klop dengan naluri manusia. Tapi jika hanya mengandalkan sisi kebenaran sebagai alat membangun loyalitas, terbukti kadang masih bisa kecolongan dengan tawaran duit, senyum ramah, peluang jabatan, gemerlap dunia dan syahwat. Wallahu a’lam.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 115 Rubrik Kolom

Editor : Helmi Alfian