Terpotong Tubuh Ayah, Hanya Bisa Kupunguti dan Kumasukkan Ke Dalam Kaleng

PKI
PKI

An-Najah.net – Jangan lupakan kebengisan dan kebiadaban PKI. Setiap kali memasuki bulan September, lsro’ (saksi kebengisan PKI) selalu merasa, seluruh tubuhnya seperti hancur berkeping-keping dan hangus. Perasaan itu terus menggedor pikirannya sejak ia masih berumur 10 tahun, hingga sekarang.

Baca juga: Komunisme, Ancaman Bagi Seluruh Agama

Barangkali, trauma yang ia alami, tidak akan hilang dari benak lelaki yang kini tinggal di Jawa Timur. Dari mulai pembantaian sampai dimakamkan ayahnya ke liang kubur.

Tragedi Yang Tak Terlupakan

Begitu susahnya ia tidur, karena selalu terbayang peristiwa itu. Saat usianya baru 10 tahun, di pagi hari bulan September 1965, ia menemani ayahnya pergi ke sawah. Dalam perjalanan, keduanya dicegat gerombolan Pemuda Rakyat (underbow PKI) yang memakai atribut Janur Kuning. Lengkap membawa senjata tajam berupa parang dan pedang.

Baca juga: Pasir Dan Air Mauk Menjadi Saksi Bisu Kebengisan PKI

Tiba-tiba, di depan matanya, ayahnya diringkus, diseret ke tengah sawah, dipukuli beramai-ramai tanpa mengetahui apa kesalahannya. Melihat itu, Isro’ sangat takut, dan langsung lari tunggang langgang pulang meninggalkan ayahnya.

la menangis sejadi-jadinya dan takut keluar rumah. Sedangkan nasib ayahnya, ia tidak tahu lagi bagaimana keadaanya, setelah peristiwa itu.

Sampai hari ketujuh setelah peristiwa itu, lsro’ tidak menjumpai ayahnya pulang. Baru pada hari kedelapan, orang-orang kampung mendapati tubuh ayah lsro’ tergeletak di sawah dengan kondisi mengenaskan. Tubuhnya tercerai berai dan seperti habis dibakar.

Tangisan Yang Memilukan

Mendengar itu, Isro’ langsung berlari kencang menuju sawah. Di sana, ia mendapati tubuh bapaknya tercerai berai menjadi kepingan-kepingan kecil dan hangus.

Baca juga: Menginjak-lnjak Al-Quran Seraya bernyanyi dan Menari di Atasnya

Berulang kali ia pingsan. Setelah tersadar, ia menangis dengan tangisan yang memilukan. Seluruh langit mendadak kelam, perasaan hati tak karuan. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk mengembalikan hidup ayahnya.

Saat itu di tepian sawah, ada sebuah kaleng bekas. Ia raih kaleng itu. Ia punguti Jasad ayahnya yang hangus dan tinggal potongan-potongan kecil, lalu ia masukkan ke dalam kaleng. Hanya itu yang bisa ia lakukan kepada ayahnya.

Mungkin, para pembawa parang dan pedang itu merajang-rajang ayahnya, lalu dibakar. Mungkin juga, sebagian dimakan anjing. Entah., apa yang terjadi pada ayahnya.

Kenangan pahit itu terus melekat. Akibatnya, setiap kali mendengar isu bahwa komunisme akan bangkit lagi, lsro’ mengaku sangat sedih dan terpukul.

Sejarah berbicara, begitulah kebengisan dan kebiadaban PKI kepada lawannya. Jangan biarkan paham komunisme tersebut bangkit lagi. Sadarkan kepada umat, sejarah kebiadaban dan kebengisan PKI. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber           : Buku, Ayat-Ayat Yang Disembelih, cet II, hal 195,196

Penulis            : Anab Afifi, Thowas Zuharon‎

Editor              : Ibnu Alatas‎