Tetap Sabar di Tengah Fitnah

Di depan Majelis Umum Inggris, Gladstone pernah menyatakan kepada forum, saat itu dia memegang kitab Al-Qur’an, “Sesungguhnya kalian tidak akan pernah mampu mengalahkan kaum muslimin sebelum kalian merobek-robek kitab al-Qur’an ini.”

Tiba-tiba salah seorang di antara anggota majelis merebut kitab Al-Qur’an itu seraya merobek-robeknya. Gladstone tidak berbuat apa-apa kecuali berkata kepada orang itu, “Alangkah bodohnya kamu ini. Yang saya maksud bukan merobek kertasnya, akan tetapi merobek-robek ajarannya dari dalam jiwa kaum muslimin.”

Kata-kata Gladstone tersebut benar-benar telah terbukti hari ini. Kata-kata yang telah diwujudkan dalam sebuah program riil di segala lini kehidupan. Program untuk mencabut Islam dari jiwa kaum muslimin. Menjauhkan pengaruh ajaran Islam dari diri generasi Islam di setiap zaman baik laki-lakinya maupun perempuannya, baik yang tua maupun yang muda, rakyat jelata maupun para pejabatnya, kecuali sebagian mereka yang masih dirahmati Allah.

Ucapan Gladstone bukanlah isapan jempol, tanpa realisasi dan bukti. Lihatlah umat Islam sekarang. Memang, secara kuantitas umat Islam cukup membanggakan. Namun, dari sisi kualitas pemahaman dan amalan mereka terhadap ajaran Islam, sungguh jauh panggang dari api. Apalagi kalau dipandang dari sisi loyalitas terhadap saudara muslim lainnya dan terhadap agamanya, sangat memprihatinkan.

Dari satu milyar kaum muslimin di dunia, berapakah yang bisa membaca al-Quran? Dari sekian juta muslimin yang bisa membaca al-Quran, berapakah yang memahami kandungan isi al-Quran? Dari sekian yang memahami al-Quran, berapakah yang mau mengamalkannya? Dari sekian yang mengamalkan ajaran al-Quran, berapakah yang mengamalkannya secara kafah (total)? Dari sekian yang mengamalkan ajaran al Qur’an, adakah dalam benak mereka untuk merealisasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara?

Musuh-musuh Islam tahu betul, bahwa manakala umat Islam berpegang teguh terhadap al-Quran dan as-Sunnah, maka mereka akan sangat kesulitan untuk menyesatkannya. Namun, manakala umat ini sudah sedikit bergeser ikatannya dari al-Quran dan menjadikan hawa nafsu sebagai pemimpinnya, maka syetan jin dan syetan manusia sangat mudah untuk menggelincirkannya lebih jauh.

Musuh Islam yang berupa syetan dari jin tidak memiliki sifat lelah apalagi putus asa, dalam keadaan bagaimanapun, hingga pun tiba hari kiamat, untuk menyeret manusia menuju kekafiran, atau sekedar untuk menciptakan hal-hal yang melalaikan agar lupa dzikir kepada Allah.

Adapun syetan yang berwujud manusia juga tidak kalah seriusnya dalam membuat rencana dan upaya untuk menghancurkan Islam. Allah berfirman, “Orang-orang kafir berkata, ‘Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada al-Quran ini dan tidak (pula) kepada Kitab yang sebelumnya.’ Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Rabb-nya, sebahagian dari mereka menghadapkan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘Kalau bukan karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman.’ Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah, ‘Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), Sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa.’ Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘(Tidak), sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.’” (QS Saba` (34) : 31-33)

Kaum muslimin yang lemah ikatannya dengan Islam diperangi oleh syetan dengan perangkap program yang memperturutkan dan menyenangkan hawa nafsu. Hiburan, musik yang melalaikan, disertai tarian artis yang mengundang syahwat. Gambar dan video porno, khamr yang memabukkan, perjudian serta segala acara yang menyesatkan lainnya yang selaras dengan selera syahwat.

Apalagi diperkuat oleh perusakan pola pikir dengan menyebarkan pemikiran sesat namun lembut, semisal menciptakan pemikiran yang menyimpang dari Islam. Kaum orientalis, Islam liberal, Ahmadiyah, dan lembaga-lembaga dakwah sesat lainnya yang terus bermunculan. Itu semua tidak lepas dari makar yang diciptakan oleh musuh-musuh Islam.

Sementara kaum muslimin yang kuat ikatannya dengan Islam diperangi dengan tuduhan-tuduhan yang berbau fitnah. Tuduhan sebagai fundamentalis, Islam militan, Islam radikal, Islam ortodok, dan sebutan-sebutan sinis semisal. Sementara para pembela ideologi Islam yang secara serius memperjuangkan demi tegaknya Islam dalam tataran kehidupan bernegara dikatakan sebagai pembuat makar terhadap negara, dituduh sebagai teroris dan diperangi dengan senjata, bahkan diberantas hingga ke akar-akarnya. Wa makaru wa makarallah, wallahu khairul makirin.

Permasalahannya adalah, apakah hal ini semua menyadarkan kaum muslimin, bahwa ini merupakan peperangan yang mereka lancarkan? Ataukah malah mereka termakan oleh makar-makar musuh Islam ini?

Sungguh, makar dari musuh-musuh Islam ini telah banyak menelan korban. Tidak sedikit di antara kaum muslimin yang lemah ikatan dengan Islam terjerumus dan murtad dari Islam secara terang-terangan. Jika tidak sampai murtad secara terang-terangan, tidak sedikit yang memberikan pembenaran terhadap musuh-musuh Islam dan menjadi wali serta mendukungnya sehingga ikut-ikutan memusuhi Islam dan kaum muslimin.

Selain mereka, banyak lagi kaum muslimin yang menjulurkan lidah syahwatnya atas apa yang disajikan oleh musuh-musuh Islam tanpa merasa berdosa.

Barangkali, inilah ujian yang Allah kirimkan untuk mengetahui kualitas umatnya di masa yang penuh dengan fitnah. Memang, umat Islam tidak akan dibiarkan hidup tanpa ujian. Ujian bagi umat Islam mempunyai peranan yang sangat penting. Bahkan, ujian memang harus ada. Gunanya adalah untuk mengukur sejauh manakah loyalitas kaum muslimin terhadap Islam.

“Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sekalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu. Dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka.” (QS Muhammad (47): 31-32)

Allahumma inni as`alukats tsabaata fil amri, wa as`aluka ‘azimatar rusydi, wa as`aluka syukra nikmatik, was shabra ‘ala balaa`ik, wa husna ibadatik, war ridha biqadhaa`ik, wa as`aluka qalban salima, wa lisanan shadiqa. (MTo)