The Miracle of Shadaqah

Bismillah, bukan maksud hati saya menulis judul di atas untuk mengikuti tren buku-buku yang sekarang lagi marak di pasaran. Bukan juga untuk ikut-ikutan seorang ustadz yang sedang naik daun di seantero Nusantara hari ini. Berkat ceramahnya yang menginspirasi ribuan orang untuk banyak bersedekah, beliau menjadi tenar dengan ustadz ‘shadaqah’. Memang beliau ini, Ustadz Yusuf Mansur, dikenal sebagai ‘ustadz spesialis shadaqah.’

Sekali lagi, saya menulis judul oase kali ini bukan karena itu. Tapi, saya terinspirasi dengan beragam kisah yang saya dapatkan; baik lewat bacaan, cerita, bahkan pengalaman pribadi berkenaan shadaqah.

Tentang buku yang membahas shadaqah dan keutamaannya telah banyak dicetak, dan laris di pasaran. Tentang ustadz spesialis shadaqah juga telah ada. Namun yang paling menginspirasi saya untuk menulis ini adalah cerita seorang kawan beberapa bulan lalu.

Kisahnya, dalam perjalanan ke salah satu tempat kajian di Klaten (Jawa Tengah), saya bertanya kepada kawan yang membonceng saya saat itu. “Mas, Antum punya pengalaman-pengalaman yang ajaib nggak…?” Tanya saya. “Maksudnya..?” Teman itu balik bertanya. Saya jawab, “Maksud ana, mungkin Antum pernah mendapatkan keajaiban-keajaiban saat melaksanakan ibadah atau saat berinteraksi dengan pelanggan.” Maklum teman ini punya dua mini market yang cukup ramai didatangi pembeli.

“Oh begitu.” Sahutnya tanda paham. “Kalau itu banyak Tadz, tapi yang sangat berkesan dan mungkin tidak akan ana lupakan sepanjang hidup saya ada satu. Dulu, pernah di pasar tempat ana kerja diserang oleh hama tikus yang sangat banyak, siang malam,” ia mulai bercerita.

“Mungkin karena toko antum dekat dengan persawahan?” Tanya saya. “Bukan karena itu Tadz, bukan sekedar toko saya. Wabah tikus menyerang seluruh pasar kecamatan itu. Bahkan sampai ke desa-desa sebelah. Barang-barang dagangan banyak digerogoti tikus. Kardus-kardus menjadi sasaran, bahkan menjadi sarangnya. Banyak cara kami lakukan untuk mengusir tikus. Mulai dari meracun, memasang perangkap hingga mendatangkan pawang tikus. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada perkembangan apa-apa, justru tikus kian hari kian bertambah banyak,” ujarnya serius.

“Terus, mengusirnya dengan apa?” Tanya saya. “Setelah berbagai macam cara ini kami lakukan, kami hampir putus asa. Di saat asa yang hampir hilang, tiba-tiba saya teringat sesuatu. Yaitu shadaqah. Saya bilang ke istri saya, mungkin kita harus banyak-banyak shadaqah. Istri sayapun menyetujui. Lalu kami bagikan sebagian rizki yang Allah anugerahkan kepada kami, kepada beberapa fakir miskin di sekitar kami,” tuturnya.

Ia melanjutkan, “Beberapa hari kemudian, tikus-tikus tersebut hilang dari toko saya. Bak ditelan bumi. Padahal di toko-toko sekitar kami masih dilanda wabah tikus. Sungguh ajaib, Tadz,” ungkapnya mengakhiri kisah nyata yang ia alami.

Sungguh ini merupakan miracle of shadaqah, mukjizat shadaqah. Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Lewat lisan rasul-Nya, Allah menjanjikan siapa saja yang meringankan beban saudaranya maka Allah l akan meringankan bebanya.

Rasulullah n bersabda

وَ اللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِـيْهِ

“Dan Allah senantiasa menolong seorang hamba, selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

Makna yang dapat dipahami dari hadits ini, siapa saja yang meringankan beban saudaranya, maka Allah l akan meringankan bebannya. Entah apapun beban yang ia hadapi, selama dalam kebaikan, jika ia membantu saudaranya, niscaya Allah akan membantunya. Hukum ini berlaku baik di dunia maupun di akhirat.

Shadaqah, adalah salah satu cara yang disepakati untuk meringankan beban derita yang dialami oleh orang lain. Bahkan para ulama menjelaskan, shadaqah merupakan amal ibadah yang berbalas kontan, di dunia. Dan di akhirat ia tetap mendapat pahalanya.

Tabungan Perjuangan

Ada persepsi yang salah, banyak aktifis Islam mengira bahwa shadaqah dianjurkan bagi orang-orang kaya. Bahkan ada yang menganggap, shadaqah itu hanya bagi mereka yang awam. Sedangkan aktifis ada rukhshah untuk tidak shadaqah. Apalagi ditambah alasan, aktifis telah menyediakan waktu dan tenaganya untuk Islam. Walau pada sebagian orang dapat dimaklumi, karena atba’ul ambiya aktsaruhum fuqara’, mayoritas pengikut para nabi (baca: aktifis Islam) adalah fakir.

Tapi jika enggan bershadaqah berangkat dari nalar yang salah diatas, tentu ini sangat memprihatinkan. Karena para aktifislah yang lebih membutuhkan pertolongan Allah. Merekalah yang sangat haus keajaiban-keajaiban dalam memperjuangkan Islam. Karena perjuangan menegakkan Islam, lebih membutuhkan kekuatan dan ma’unah dari Allah, ketimbang menegakkan tulang punggung.

Abu Darda’ a berkata

أَيُّهَا النَّاسُ عَمَلٌ صَالِـحٌ قَبْلَ اْلغَزْوِ فَإِنَّمَا تُـقَاتِلُوْنَ بِأَعْمَالِكُمْ

“Wahai manusia, perbanyaklah amal shalih kalian sebelum berperang. Karena kalian akan berperang dengan (senjata) amal kalian.”

Siapa tahu kemudahan dalam perjuangan dapat terwujud dengan memperbanyak shadaqah. Bukankah Ali a diberi kemampuan oleh Allah l untuk mengangkat benteng Khaibar, karena tangan beliau selalu ringan untuk menginfakkan hartanya di jalan Allah l?

Dan mungkin saja, Syaikh Usamah rhm begitu tegar di dunia jihad. Kokoh menghadapi berbagai rintangan di jalan jihad. Rela meninggalkan kemewahan dunia. Berani menantang negara adikuasa, Amerika. Dan keberaniannya ini beliau buktikan hingga beliau syahid –insyaAllah-. Semua kelebihan beliau ini, bisa jadi anugerah dari Allah karena kedermawanan beliau menyedekahkan hartanya untuk perjuangan Islam.

Yah, kalau memang secara materi, tidak bisa dilaksanakan sama sekali. Minimal bershadaqah dengan melempar senyuman kepada saudara Muslim lain, terutama senyum kepada para mad’u. Ini sangat ringan, tidak membutuhkan biaya banyak.

Hanya saja, amalan ringan dan mudah, jangan terlalu berharap mendapatkan balasan yang banyak dan melimpah. Jika seorang Muslim menyedekahkan hartanya dalam kondisi dia sendiri butuh dan banyak, pahala dan ganjaran tentu lebih banyak. Tapi jika yang disedekahkan “hanya” senyum, mungkin ia hanya mendapat balasan senyum, selebihnya tambah kenalan.

تَبَسُّمُكَ فِيْ وَجْهِ أَخِيْكَ صَدَقَةٌ

“Senyumanmu untuk saudaramu adalah shadaqah.” (HR. Ibnu Hibban)

Wallahua’lam bish showab.* (Izzul)