Tiap Jiwa Mempunyai Cerita Aksi 212, Hingga Ibrah pun Terpetik Karenannya

bela Islam
bela Islam

An-Najah.net Jakarta, 2 Desember 2018. Pria, wanita, tua renta hingga tak sedikit para balita. Dari para “jawara” berbadan kekar hingga saudara kita yang mempunyai fisik kurang sempurna ikut memeriahkan aksi bela Islam jilid II. Di antara mereka ada yang tuna netra, sampai yang cacat kakinya sehingga dia harus berjalan dengan menggunakan lututnya.

Berjuta manusia dari penjuru Nusantara tumpah ruah memadati Monas dan sekitarnya. Bila ada yang mengatakan jumlahnya kurang lebih 40 ribu saja, mungkin yang dimaksudkan adalah jumlah tentara yang pada saat itu berjumlah 52 ribu yang siap siaga mengamankan acara.

Baca juga: Fitnah Akhir Zaman, Merebaknya Kebohongan

Yang Tercecer

Banyak peristiwa mengiringinya hingga ibrah pun terpetik karenanya. Namun masih banyak momen berharga yang tertinggal di sana karena tiap jiwa mempunyai cerita.

Beserta rombongan Semarang, dari Masjid Cut Mutia berpagi jalan menuju Monas. Pukul 03.40 ada sosok mungil berbaju putih, berkerudung putih yang tak lupa ikat kepala bertulis kalimat tauhid melingkar di kepalannya.

Sekitar usia kelas 1 SD tertangkap oleh mataku. Sontak aku buru, karena ia membawa bendera dengan warna yang mencolok, PINK. Ketika aku ambil gambar, ayahnya bilang, “Benderanya diangkat….”

“Adik, namanya siapa…?” tanyaku sembari mendekati adik syantik yang malu-malu menjawabnya.

“Shellyn….” yang menjawab ibunya, setelah ditunggu beberapa waktu adik tersebut hanya tersenyum dan menatap lekat wajah ibunya.

“Adik asalnya dari mana? Tanyaku sambil tersenyum melihatnya

“Tangerang…” kembali ibunya menimpali. Akhirnya kami pun berlalu.

Adzan Subuh dilanjutkan sholat berqunut, lama. Namun tak sedikit ada suara sesenggukan di sela jawaban “aamiin”.

Batang Tugu Monas yang berkedip warna-warni merupakan objek sasaran kamera yang paling laris hingga mentari menyemburkan sinarnya. Saat salah seorang teman berbisik kepadaku, “Eh, di belakang kita itu bukan orang sembarangan lho. Ia keluarga pejabat tinggi, desak temanku.

Baca juga: Tiga Alasan Mengapa Kami Membela Kalimat Tauhid

“Masa sih…” lantas kutengok barisan belakang ada beberapa ibu-ibu dan salah satunya seseorang yang tidak begitu asing raut wajahnya. Tapi memang sekilas hanya seperti para pengunjung kebanyakan, rombongan tersebut mengenakan alas shalat dari plastik yang kebanyakan jamaah lainnya juga menggunakan alas seperti itu.

Sementara di belakangnya ada lelaki tegap baju takwa putih dengan topi corak doreng bertuliskan kalimat tauhid, terselip mikrofon kecil di dadanya. Mungkin pengawalnya. Sejurus kemudian teman yang berbisik tadi sudah berbincang dengan lelaki berbadan kekar tadi, ternyata temanku minta ijin foto bersama. Setelah itu rombongan tersebut terlihat menuju arah podium.

Naungan Allah Ta’ala

Sembari tiduran sekitar pukul 07.30 dengan iseng aku bidikkan kamera Handphone ku ke arah langit dekat tugu Monas. Baru sadar ternyata di antara hasil gambar tersebut ada bentuk awan yang menyerupai lafadz Allah Ta’ala. Di saat Monas di tinggikan, namun ada yang lebih tinggi dari segalanya. Ya, itu adalah Dzat pemilik segala-galanya.

Di bawah terik mentari yang mulai menyengat terasa di kulit. Berjejal manusia ingin meninggalkan Monas pergi menyusuri sekitaran Monas. Sementara ada juga sebagian lain yang masih baru mendatanginya hingga jalan berpapasan. Jalanan macet. Namun bukan cacian dan umpatan yang aku dengar, melainkan seperti dikomando mereka melantunkan sholawat bersama-sama dan meneduhkan suasana.

Rombongan kami sepakat menepi untuk menunggu lalu lintas pejalan kaki agar terurai sepi. Duduk di pinggir trotoar. Tak kuduga….! Di antara lalu lalang pejalan kaki, tiba-tiba ada lelaki kecil seusia kelas 4 SD jongkok tepat di hadapanku dan meneguk minuman sementara bapaknya menjaga di belakannya. “Masyaa Allah…!”. Terlihat adab seorang muslim ketika minum dengan posisi duduk.

Baca juga: Akhlak Cermin Keimanan Seseorang

Tentu masih banyak lagi kisah dan pelajaran tercecer di Monas pada saat aksi bela Islam kemarin. Semoga Allah Ta’ala selalu meneguhkan ukhuwah kita. Sehingga bukan hanya di Monas kita bisa berkumpul, namun sampai di Jannah-Nya juga kita bisa di kumpulkan bersama. Amin. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber            : Fath, Peserta Aksi 212 Bela Islam Jilid II

Editor               : Ibnu Alatas