Tidak Peduli Ghouta, Tanda Lemahnya Iman

Derita-anak-anak-di-Ghouta
Derita-anak-anak-di-Ghouta
Derita-anak-anak-di-Ghouta
Derita-anak-anak-di-Ghouta

An-Najah.net – Zaman now, merupakan zaman yang penuh dengan digital. Kejadian diluar negeri saat ini, bisa langsung kita saksikan dengan mata kepala kita. Lewat tayangan video atau foto-foto di gadget-gadget kita.

Saat ini saudara kita, kaum muslimin di Ghouta sedang menderita. Hujan bom ditimpakan kepada mereka. Rumah-rumah, sekolah-sekolah bahkan rumah sakit ikut hancur. Jeritan tangisan anak-anak yang kehilangan orang tuanya. Orang tua yang mencari anak-anaknya dipuing-puing reruntuhan. Sungguh menderita mereka.

Tentu sebagai orang yang beriman. Tergerak hatinya untuk empati kepada mereka. Karena mereka adalah saudara kita. Saudara karena iman ini, kepedulian kita adalah panggilan iman. Bukti akan kebenaran iman kita.

Namun, kalau seandainya ngakunya beriman, tetapi tidak peduli terhadap urusan kaum muslimin patut dipertanyakan akan keimanannya. Padahal saat ini, Saudara kita sedang memanggil, meminta bantuan, dan pertolongan ditengah gempuran.

Muhammad Shalih al munajid dalam buku Fenomena Lemahnya Iman. Beliau menjelaskan tanda-tanda lemahnya iman adalah tidak peduli terhadap problematika kaum muslimin.

Alasan kita Peduli Muslim Ghouta

Apa persamaan antara kita dan muslim Ghouta? Iman, iya keimanan lah yang menyatukan kita dan mereka. Tak peduli batas-batas negara, tak peduli jarak ribuan kilometer, mereka adalah saudara kita. Karena kita semua bersaudara. Allah SWT berfirman :

إِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

Artinya, “Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agaka kalian. Dan Akulah Rabb kalian, maka beribadahlah kepadaku.” (Al-Anbiya’ 92)

Ibnu Jarir Ath-Thobari menukil pendapat Ibnu Abbas dan Mujahid bahwa maksud dari umat yang satu adalah agama kalian agama yang satu (yaitu Islam).

Di dalam ayat lain Allah SWT berfirman :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya, “Hanya orang-orang berimanlah yang bersaudara. Maka perbaiki (perselisihan) di antara dua saudara kalian. Dan bertakwalah agar kalian mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat 10)

Imam Al-Qurtubi berkata, “Kalian bersaudara dalam agama dan kehormatan dan tidak karena nasab.” (Tafsir Al-Qurtubi 16/322)

Persaudaraan antara sesama muslim dalam banyak hadits diibaratkan bagaikan satu tubuh, di dalam hadits lain Rasulullah SAW menggambarkannya ibarat jari jemari yang ditautkan. Di antara hak muslim dengan yang lainnya adalah menolongnya ketika mereka butuh pertolongan. Hal ini sebagaimana disampaiakan oleh Rasulullah SAW :

المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يخذله ولا يحقره

Artinya, “Muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Tidak boleh menzaliminya, tidak menyia-nyiakannya dan tidak merendahkannya.” (HR. Bukhori Muslim)

Imam An-Nawawi mengomentari hadits di atas berkata :

وأما لا يخذله : فقال العلماء : الخذل ترك الإعانة والنصر ، ومعناه : إذا استعان به في دفع السوء ونحوه لزمه إعانته إذا أمكنه ولم يكن له عذر شرعي” .

Maksud dari “la yakhdzuluhu” (tidak menyia-nyiakannya) para ulama berkata, ‘makna dari khodzala adalah tidak menolong dan tidak membantunya’. Artinya, “Jika seorang muslim meminta bantuan muslim lainnya untuk menolak hal yang buruk, maka wajib baginya untuk menolongnya jika dia mampu dan tidak memiliki uzur syar’i.” (Syarh Shohih Muslim: 16/120)

Bukankah Rasul juga memerintahkan kita untuk menolong saudara kita yang terzalimi dengan menghindarkan dirinya dari kezaliman?

Merujuk kepada perkataan Imam An-Nawawi, jika seorang muslim memita tolong maka wajib bagi muslim lainnya untuk menolongnya selama dia mampu dan tidak memiliki udzur syar’i.

Pertanyaannya adalah, setiap hari, setiap jam bahkan setiap detik suara suara minta tolong terus mengalir dari Ghouta. Tidak hanya seorang muslim yang meminta tolong, tapi ratusan bahkan ribuan yang setiap hari berhadapan dengan kelaparan dan kematian.

Siapa lagi kalau bukan kita yang menolong mereka. Semoga ini menjadi bukti akan keimanan kita senantiasa peduli terhadap penderitaan saudara kita di Ghouta.

Penulis : Abu Khalid

Editor : Anwar