Tiga Hal yang Menyelamatkan dan yang Mencelakakan

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Ta’ala, yang telah memberikan nikmat Iman dan Islam kepada kita. Aku bersaksi tiada sesembahan yang wajib disembah kecuali Allah Ta’ala. Tiada sekutu bagi-Nya. Dialah yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah utusan Allah. Semoga shalawat dan salam selalu tercurahkan kepadanya, kepada shahabat dan kepada kerabatnya serta pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah Ta’ala

Lewat mimbar jum’ah ini kami mengajak kepada diri saya dan hadirin sekalian untuk meningkatkan iman dan takqwa kita pada Allah Ta’ala. Karena hanya dengan iman dan taqwa yang akan menyelamatkan diri kita di hari yang tidak bermanfaat lagi harta dan anak, yaitu hari akhirat.

Pada kesempatan kali ini kami akan menyampaiakan hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang beliau bersabda :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : ثَلاَثٌ مُنْجِيَات وَثَلاَثٌ مُهْلِكَاتٌ فَأَمَّا الْمُنْجِيَاتُ فَتَقْوَى الله فِي السِرِّ وَالْعَلاَنِيَةِ وَالْقَوْلُ بِالْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالسُّخْطِ وَالْقَصْدُ فِي الْغَنِى وَالْفَقْرِ وَأَمَّا الْمُهْلِكَاتُ فَهَوَى مُتْبَعً وَشُحًّ مُطَاعً وَإِعْجَابُ الْمَرُءُ بِنَفْسِهِ وِهِيَ أَشَدُّهُنَّ

“Tiga perkara yang menyelamatkan dan tiga perkara yang menyesatkan. Adapun perkara yang menyelamatkan adalah taqwa kepada Allah dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan, dan berkata haq dalam keadaan ridha dan marah, dan sederhana dalam keadaan kaya dan fakir. Adapun perkara yang mencelakakan adalah hawa nafsu yang dituruti, dan kekikiran yang dita’ati, dan bangga akan diri sendiri, dan hal ini merupakan yang paling berbahaya.” [ HR. Al Baihaqi ]

Alangkah indahnya ucapan beliau yang mencakup segala jalan kebaikan, memperingatkan dari segala jurang-jurang kehancuran.

Adapun taqwa kepada Allah dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan, maka itu adalah pokok segala perkara. Dengannya kebaikan dapat dicapai, dan kejahatan dapat ditepis. Ia adalah selalu merasa takut kepada Allah selamanya, dan mengetahui dekatnya Zat Maha Raja yang Maha Mengetahui. Sehingga seseorang merasa malu kepada Tuhannya jika Ia melihatnya berada dalam kemaksiatan. Dan mendapatinya tidak berada dalam perkara-perkara yang mendekatkannya kepada ridha-Nya.

Taqwa inilah yang menjadikan diri kita bahagia. Bahkan keluarga dan juga masyarakat serta bangsa kita jika ingin mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan harus menjadi masyarakat yang bertaqwa. Sebaliknya, penduduk negeri yang tidak bertakwa pada Allah Ta’ala akan tertimpa berbagai musibah dan bencana yang bertubi-tubi. Maka sudah seharusnya jika kita berusaha mengajak masyarakat menjadi masyarakat yang bertaqwa agar dijauhkan dari bencana dan didekatkan pada kebahagiaan.

Sedangkan berkata haq dalam keadaan ridha mau marah, maka sesungguhnya hal itu merupakan pertanda kejujuran dan keadilan dan taufik. Merupakan suatu bukti yang paling nyata akan keimanan dan penguasaan seorang hamba atas amarah dan nafsunya. Sesungguhnya tidaklah selamat dari nafsu itu kecuali orang-orang yang jujur. Sehingga kemarahan dan nafsu tidak mengeluarkannya dari kebenaran, dan tidak menjerumuskannya ke dalam kebatilan. Bahkan kejujuran mencakup seluruh keadaannya dan meliputinya.

Yang lebih penting lagi adalah mengatakan kebenaran saat kebenaran itu dibutuhkan ummat. Karena seseorang yang mengatahui kebenaran dan tidak mau menyampaikan pada ummat saat kebenaran tersebut sangat dibutuhkan, ia terancam dengan hadist Rasulullah sallallahu alaihi wasallam :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ:” مَا مِنْ رَجُلٍ يَحْفَظُ عِلْماً فَيَكْتُمَهُ، إِلاَّ أُتِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلْجِماً بِلِجَامِ مِنَ النَّارِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari nabi sallallahu alaihi wasallam berkata : tidaklah seseorang menghafal ilmu kemudian ia sembunyikan, kecuali ia pada hari kiamat akan dikendalikan dengan kendali dari api neraka. [ HR. Ibnu Majah 210 ].

Maka kewajiban bagi orang yang mengetahui kebenaran agar membimbing ummat menuju jalan kebenaran dan tidak takut terhadap celaan orang-orang yang mencela.

Begitu juga kesederhanaan dalam keadaan miskin dan kaya. Sesungguhnya ia merupakan tanda kekuatan akal dan manajemen yang baik. Dan merupakan kepatuhan dan perwujudan dari petunjuk Allah Yang Maha Kuasa, yang terdapat dalam firman-Nya

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak pula kikir, dan teguh berada diantara hal-hal yang demikian.” (Q. S. Al-Furqaan: 67)

Jadi, tiga perkara ini mencakup seluruh kebaikan yang berkaitan dengan hak Allah, dan hak pribadi, serta hak para hamba. Dan pelakunya akan mendapatkan kemenangan dengan kemulian, petunjuk dan bimbingan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Adapun tiga perkara yang mencelakakan, adalah hawa nafsu yang dituruti. Berapa banyak orang yang tersesat dari jalan kebenaran karena memperturutkan hawa nafsunya. Dan berapa banyak orang yang menempuh jalan kekufuran karena memperturutkan hawa nafsunya. Firman Allah Ta’ala

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Dan siapakah yang lebih sesat dari orang yang menuruti hawa nafsunya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun?”. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kaum yang dhalim. (Q. S. Al-Qashash: 50)

Sesungguhnya hawa nafsu membuat jatuh pengikutnya ke dalam jurang yang paling rendah. Hawa nafsu mendorong jiwa ke dalam syahawat-syahawat berbahaya yang menghancurkan. Maka, sudah seharusnya seorang mukmin mengendalikan hawa nafsunya serta diarahkan untuk ketaatan pada Allah dan rasul-Nya.

Adapun yang kedua adalah kekikiran yang ditaati. Manusia itu tabiatnya menuruti kekikirannya. Dan beruntunglah seseorang yang terjaga dari sifat kekikiran ini. Firman Allah Ta’ala

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka ia termasuk orang-orang yang beruntung.” (Q. S. Al-Hasyr: 9)

Barangsiapa yang menuruti kekikirannya, ia termasuk ora
ng yang merugi. Karena sesungguhnya kekikiran itu menyebabkan kebakhilan dan mencegah hak-hak yang lain, dan menyeru kepada madharrat, pemutusan hubungan, dan kedurhakaan. Kekikiran menyeru pengikutnya memutuskan hubungan, maka mereka memutuskannya. Dan mengajak mereka untuk enggan memberikan hak-hak yang wajib atas mereka, maka mereka mematuhinya. Dan memikat mereka dengan muamalat yang buruk seperti mengurangi hak, curang, dan riba, maka mereka melakukannya. Jadi ia menyeru kepada segala perilaku yang hina dan mencegah dari segala perilaku yang baik.

Kikir dan iman tidak akan pernah berkumpul di dalam hati seseorang selama-lamanya. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :

وَلاَ يَجْتَمِعُ الشُحُّ وَالْإِيْمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أبدًا

Dan tidaklah berkumpul kekikiran dan iman di dalam hati seorang hamba selamanya. [ HR. An Nasa’i ]

Sedangkan rasa bangga akan diri sendiri adalah penghancur yang paling berbahaya dan perkara yang paling jelek. Karena rasa bangga akan diri sendiri adalah pintu takabbur, sombong dan tipu daya. Ia merupakan sarana menuju kecongkakan, kesombongan, dan penghinaan atas makhluk, yang merupakan kejahatan besar.

Hendaknya seseorang yang terjangkiti rasa bangga terhadap dirinya menyadari bahwa ia adalah makhluq yang lemah. Kekayaan, kecerdasan, dan juga beberapa kelebihan dunia lainnya hanyalah titipan Allah Ta’ala. Ia akan diambil oleh penciptanya dan tidak tersisa lagi baginya kecuali amal shalih yang menyertainya. Maka sungguh tidak layak jika seseorang itu berbangga dengan dirinya.

Jadi tiga perkara yang menghancurkan ini: Hawa nafsu yang situruti, kekikiran yang ditaati, dan bangga akan diri sendiri; siapa yang menghimpunnya maka ia termasuk orang-orang yang celaka. Dan siapa yang bersifat dengannya maka ia akan mendapatkan murka dari Allah dan berhak mendapatkan azab yang menghinakan.

Berbahagialah orang yang hawa nafsunya mengikuti apa-apa yang diridhai Allah. Dan bahagialah orang yang dijaga dari kekikiran dirinya, sehingga ia termasuk orang-orang yang beruntung, dan mengenal dirinya lalu tunduk pada kebenaran dan baik perilakunya terhadap orang-orang beriman. Semoga Allah mencurahkan akhlaq yang mulia kepada kita semua, dan menjaga kita dari segala akhlaq yang buruk dan bahayanya.

Demikian khutbah jum’ah yang kami sampaikan. Jika ada benarnya datang dari Allah Ta’ala, dan jika ada salahnya datangnya dari saya sendiri karena bisikan setan. Kita berlindung pada Allah dari berbagai kejelakan yang menimpa diri kita.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ.