Tiga Permasalahan Udhiyah Yang Harus Diketahuai

Permasalahan Udhiyah
Permasalahan Udhiyah

An-Najah.net – 3 permasalahan udhiyah yang harus diketahui. Tidak lama lagi kaum Muslimin akan memasuki Bulan Dzulhijah. Bulan di mana seseorang dapat memperbanyak amalan. Bulan di mana seorang dapat melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu. Bulan di mana terdapat amalan shiyam sunnah Arafah di dalamnya. Dan bulan disembelihnya hewan kurban dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Dalam penyembelihan hewan Udhiyah banyak sekali permasalahan-permasalahan yang harus diketahui, dalam makalah singkat ini, kita akan membahas 3 permsalahan yang jarang diketahui kaum muslimin, berikut rinciannya;

1. Apakah Janin Dalam Rahim Juga Diudhiyahkan?

Jawab: Tidak disunnahkan berkurban untuk bayi yang masih di rahim ibu. Sebagaimana perkataan Ibnu Umar (atsar) yang berbunyi:

لم يكن يضحي عما في بطن المرأة

Tidak disebut berudhiyah bagi janin yang masih di rahim ibu (Imam Malik, Al-Muwadho’, cet I, jilid 3, hal 695, no. 1776)

Sulaiman al-Baji menjelaskan, Janin yang masih di dalam rahim tidak bisa diikutsertakan anggota udhiyah. Sebagaimana hukum warisan dan wasiat, yang mana si janin tidak mendapatkan jatah, kerena kakikatnya dia belum hidup.

Namun apabilah si janin lahir di waktu udhiyah (10, 11, 12, 13 Dzulhijjah, batasan terakhir sebelum matahari tenggelam) maka dia bisa diikutsertakan anggota yang berudhiyah. Begitu juga sama halnya orang kafir yang masuk Islam di hari tersebut, maka dia diperbolehkan untuk berudhiyah. (Abul Walid Sulaiman al-Baji, Al-Muntaqo’ Syarhu Muwatho’, cet I, Jilid 3, hal. 100)

Baca juga: Gunakan Istilah Udhiyah!‎

2. Apakah Memotong Rambut Setelah Berudhiyah Disunnahkan?

Jawab: Tidak disunnahkan memotong rambut setelah berudhiyah. Sebagaimana kejadian udhiyahnya Ibnu Umar di Madinah. Ketika itu Nafi disuruh oleh Ibnu Umar untuk membeli hewan udhiyah. Setelah mendapatkan diberikannya hewan tersebut kepada Ibnu Umar. Lantas umar mencukur rambutnya setelah menyembelih hewan udhiyahnya.

Namun di tahun setelahnya Ibnu Umar tidak bisa menyembelih hewan udhiyahnya dikarenakan sakit. Maka Ibnu Umar seraya berkata:

لَيْسَ حِلاَقُ الرَّأْسِ بِوَاجِبٍ عَلَى مَنْ ضَحَّى

Mencukur rambut setelah berudhiyah tidaklah sebuah kewajiban (namun beliau pernah melakukannya) (Imam Malik, Al-Muwadho’, cet I, jilid 3, hal 689, no. 1763)

Ibnu Abdil Barr menambahkan, bahwa tidak ada ulama ahli ilmi yang berpendapat mencukur rambut setelah berudhiyah adalah sunnah, menurut sepengetahuanku. Ujar beliau. (Ibnu Abdil Barr, Al-Istidzkar, cet I, Jilid 5, hal. 222)

Baca juga: Berudhiyah, Bukan Sekedar Kuantitas

3. Utama Mana Langsung Menyembelih Sekaligus Atau Membagi Jumlah Hewan Udhiyahnya Selama 4 hari

Jawab: Ulama berselisih dalam permasalahan ini. Imam an-Nawawi menuliskan dalam bukunya Raudhatut Tholibin;

Ar-Rauyani berkata, barangsiapa yang mempunyai banyak hewan yang akan diudhiyahkan, maka hendaknya dia membaginya beberapa hari.

Imam an-Nawawi mengkomentari pendapat ar-Rauyani, memang perbuatan itu bisa membahagiakan orang miskin, namun perbuatan itu menyelisihi sunnah Rasulullah Saw. Karena Rasulullah Saw pernah berudhiyah seratus onta dalam sehari. Maka sunnahnya adalah mensegerakan dalam berbuat baik. (Imam An-Nawawi, Raudhatut Tholibin, cet III, jilid 3, hal. 228) Wallahu Ta’ala ‘Alam

Penulis             : Ibnu Jihad

Editor              : Ibnu Alatas