Tiga Rahasia Kekuatan Perlawanan Ummat Islam

Ilustrasi, Rahasia kekuatan perlawanan Umat islam
Ilustrasi, Rahasia kekuatan perlawanan Umat islam
Ilustrasi, Rahasia kekuatan perlawanan Umat islam
Ilustrasi, Rahasia kekuatan perlawanan Umat islam

An-Najah.net – Umat Islam memerlukan kekuatan untuk meraih kemenangan melawan kebatilan. Usaha maksimal untuk meninggikan agama Allah dan menaklukkan ideologi jahiliyah merupakan amanat yang melekat di pundak umat. Bukan kemenangan individu, tapi kemenangan umat Islam melawan kaum jahiliyah.

Masalah bermula dari sini. Bagaimana merangkai kepingan-kepingan potensi umat hingga menyatu utuh menjadi sebuah kekuatan dahsyat. Umat terdiri dari beragam bangsa, suku, bahasa, budaya, dan tingkat pemahaman agama berbeda-beda. Tidak mudah mempersatukan mereka, meski tidak mustahil juga melakukannya dengan izin Allah.

Saat umat Islam tercerai-berai dihantam kekuatan tentara Salib pada abad pertengahan, umat Islam bisa bangkit bersatu membangun kekuatan. Hasilnya, tentara Salib bisa dikalahkan dan Palestina kembali ke pangkuan umat Islam.

Karakter Perjuangan

Kini keadaan umat tak jauh berbeda dengan zaman itu, bahkan mungkin lebih parah. Umat Islam belum pernah mengalami kekalahan dan kemunduran separah sekarang. Karenanya diperlukan pemahaman tentang bagaimana konsep membangun kekuatan agar umat kembali meraih kemenangan. Setidaknya dengan mengetahui caranya, kita bisa menapakainya. Pilar kekuatan umat terangkum dalam ayat berikut:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيانٌ مَرْصُوصٌ
Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan rapat-rapi laksana bangunan yang kokoh. (QS 61/as-shaff: 4)

Ayat ini memberi pesan tiga pilar kekuatan umat:

Pertama; Kebenaran sebagai imam tertinggi.

Pilar ini disarikan dari kata ( فى سبيله ) – di jalan Allah. Perang dan apapun yang dilakukan manusia harus dibingkai kalimat di jalan Allah untuk menjamin terkawal oleh kebenaran. Jika perjalanan hamba tak dikawal dengan kebenaran, sia-sia seluruh daya upayanya. Kebenaran juga bisa berfungsi sebagai garis besar haluan perjalanan, siapa yang mencoba memasukkan analisa, pemikiran, syahwat, kesesatan, kemunkaran dan kemaksiyatan akan segera terendus. Hasilnya, perjalanan umat kembali bersih dari segala noda dan hawa nafsu. Tentu tolok ukur kebenaran adalah wahyu; Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Kedua; Persatuan.

Pilar ini disarikan dari kata ( صفا كأنهم بنيان مرصوص ) – dalam satu shaff atau barisan yang rapi dan solid laksana bangunan kokoh yang antar bagiannya saling mengikat dengan kuat. Barisan saja tidak cukup, tapi perlu saling bergandeng tangan agar tidak buyar saat mendapat serangan. Persatuan yang dilandasi persaudaraan, saling melindungi, saling bela dan senasib sepenanggungan. Persatuan juga diumpamakan dengan satu tubuh, jika ada salah satu organ sakit, seluruh tubuh akan terasa meriang karena manahan sakit. Persatuan ini harus dibingkai kebenaran, bukan asal bersatu seperti zaman Jahiliyah.

Ketiga; Rela berkorban.

Pilar ini disimpulkan dari kata ( يقاتلون ) – berperang. Kesediaan seseorang berperang membela Islam tentu dilandasi semangat berkorban yang tinggi. Sebab dalam perang ada resiko kematian, luka atau tertawan, termasuk terkurasnya waktu, tenaga, pikiran, uang dan kesedihan keluarga yang ditinggalkan. Berperang merupakan puncak tertinggi pengorbanan sebab semua yang berharga milik manusia menjadi taruhannya. Tanpa pengorbanan, kebenaran dan persatuan menjadi tak bermakna, hanya menjadi energi yang tersimpan dalam diri.

Ketiga pilar ini harus terangkai menyatu agar menghasilkan daya pukul yang hebat. Salah satu hilang, akan sirna kekuatan Islam yang pernah menyapu imperium Romawi dan Persia. Kebenaran plus persatuan tanpa pengorbanan, macan ompong. Kebenaran plus pengorbanan minus persatuan, hanya berputar tanpa ujung. Persatuan plus pengorbanan minus kebenaran, jahiliyah. Begitulah pilar kekuatan umat harus terpenuhi tiga unsur sekaligus, sesuatu yang amat berat dicapai. Tapi bila berhasil mencapainya, tak akan ada kekuatan dunia yang sanggup menghadangnya.

Semuanya terpulang pada itikad dan kesungguhan internal umat Islam sendiri, tentu dengan izin Allah. Wallahua’lam bis-shawab.

Sumber : Telegram islammulia

Editor : Anwar