Catatan Tim Hasi V: Birmil Selamat Pagi

Bom Birmil yang tidak meledak degan izin Allah Subhanahu Wa Ta'ala
Bom Birmil yang tidak meledak degan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala

[an-najah.net] – Pagi ini kami sarapan telor ceplok. Teri dan abon menjadi pelengkap. Beras arab yang panjang-panjang dimasak agak lunak menyerupai bubur. Muhandis belum lagi bergabung di teras belakang sebab masih sibuk di toilet yang gelap. Nikmatnya sarapan, membuat saya bernafsu menambah nasi. Abon daging baru saja dituangkan tapi ada keributan di ruang depan. “Tooiroh…tooiroh…” teriak para penjaga klinik. Itu artinya pesawat-pesawat Basyar akan datang. Saya letakkan piring nasi di meja depan. Kami bergegas memakai sepatu dan tas pinggang. Berbeda dengan kemarin saat hujan bom dan mortar, para penjaga klinik terlihat lebih panik pagi ini. Padahal tak ada dentuman sama sekali. Kami keluar ruangan sementara Muhandis belum juga keluar. Ia menyusul kemudian.

Beberapa ikhwan Suriah masih tertidur pulas. Mereka segera melempar selimut untuk bergabung di koridor basement. Jendela-jendela kaca dibuka lebar-lebar untuk menghindari efek getaran. Saya yang tidak memiliki basis militer sama sekali, berdiri di depan pintu tanpa merasa berdosa. Dengan sigap Usamah sang perawat, menarik badan saya dan menggeser ke pinggir dinding. “Jangan di depan pintu, berbahaya..” katanya. Ia melanjutkan, “Agaknya Basyar akan mengirimkan birmil sobahul khoir…” Kami tertawa mendengar istilah ‘birmil selamat pagi’. Jika sejak pagi begini pesawat telah hadir, artinya harus siap-siap menerima tujuh trip paket birmil dalam sehari. Satu trip biasanya ada belasan birmil. Itulah kebiasaan yang diceritakan Usamah dalam kuliah pagi ini.

Kami berdiri di lorong lengkap dengan sepatu boat. Tak lupa tas passport selalu menempel di pinggang.  Beberapa saat kami menunggu dalam siaga. Sayup-sayup raungan pesawat terdengar di kejauhan sana. Berdegup hati ini kalau tiba-tiba saja terjadi dentuman. Tak lama, terdengar suara sepatu menuruni tangga. Pembawa handy-talky itu berteriak, “Kembali ke kamar, keadaan sudah aman..!” Komunikasi penduduk disini memakai handy-talky; menghubungkan front depan hingga belakang. Ketidakfahaman kami akan ammiyah (bahasa pasaran), membuat kami sulit mengikuti info-info yang sepertinya penting. Di posko katibah yang pernah kami lihat, handy-talky cukup banyak jumlahnya. Malam hari saat genset menyala, benda-benda yang lama tergusur handphone itu dicolokkan berjajar-jajar. “Mungkin sebab mendung mereka kembali pulang..” kata Mu’taz, bagian publikasi, yang kameranya pernah terkena peluru dan melukai tangannya. Pagi ini cuacana memang mendung dengan tiupan angin yang sangat kencang.

Saya tidak memasuki kamar, tempat kawan-kawan HASI. Pagi itu kami bergabung di kamar Mustofa, perawat senior di klinik ini. Ia segera mengambil kayu-kayu bakar untuk membuat perapian. Sementara Amjad membuatkan kopi panas untuk kami. “Tasyrob qahwa.., turiid halwa..?” Saya mengangguk mengiayakan. “Kalian biasa meminum kopi tanpa gula dan meminum teh sangat manis.” Ujarku menilai tradisi mereka hari-hari ini. “Aiwa, shohh..” angguk mereka membenarkan. “Wahai Amjad, kamu telah didahului Abdullah..” Gurauku mengejek kebujangannya. Abdullah adalah kawannya sesama perawat yang berakad nikah di kamar kami lima hari lalu. “Siapa bilang, saya lebih dulu menikah” jawabnya tak mau kalah. “Sayalah orang yang pertama kali menikah dalam revolusi..” tegasnya penuh kemenangan.

Lidah saya mengkerut sebab kopi yang terlalu panas. Kembali saya letakkan cawan kopi di pinggir api. Amjad menatap saya dan bertanya “Apa pandanganmu terhadap pernikahan saat revolusi berkecamuk?” Mustofa ikut tersenyum menunggu jawaban saya. Dengan fushah saya menjawab, “Wallahi, az-zawaj ‘inda tsauroh, kaanna al-hayaata mustamirroh..” (menikah saat revolusi mengindasikan kehidupan terus berlangsung). Mereka nampak suka mendengar itu. Saya menceritakan bagaimana romantika dalam “Turkistan Negeri yang Hilang” nya Kailani. Romantisme dalam revolusi sepertinya sangat indah.

“Jadi istrimu kamu letakkan dimana wahai Amjad?” Tanyaku. “Di sebelah kamar ini.” Jawabnya. Mustofa menceritakan bahwa Amjad jatuh hati dengan apoteker yang bekerja di klinik ini. Cinta bersemi sesama sejawat kerja yang setiap hari berjumpa. Perawat bertemu apoteker. Dalam kecamuk perang, mereka melangsungkan pernikahan beberapa bulan lalu. “Walaakin, umruha akbar minni..” (tetapi umurnya lebih tua dari saya) sambung Amjad.

“Dia adik saya tapi saya belum menikah” ujar Mu’taz dalam ammiyah. Ia duduk di sebelah Amjad. Ternyata, dua orang ini adalah adik kakak. “Jadi kalian berasal darimana…?” Tanyaku. “Nehna min Jablah..” Jawabnya. Mu’taz agak sulit berbicara dalam fushah kendati dia engginer kapal laut. Seperti yang pernah kubaca dalam artikel-artikel, Jablah yang masuk Propinsi Lattakia adalah basis Nusairiyah. Dan benar saja.., Mu’taz membuka cerita di pagi ini. Semalam ia mengontak keluarganya yang kini terisolasi di tengah-tengah kaum Nusairi. Ia mendapat cerita bahwa tadi malam orang-orang Nusairi berkonvoi di jalan-jalan. Mereka berteriak-teriak “Ini wilayah kami.. ini wilayah kami…, Kaum Sunni… hengkanglah dari sini…!”  Kalimat itu diteriakkan berulang-ulang di jalan-jalan.

Saya jadi teringat kisah Jalal beberapa hari lalu bahwa Lattakia akan diproyeksikan sebagai benteng akhir Nusairi. Informasi-informasi intelejen yang sulit dikonfirmasi menyebutkan adanya pemindahan senjata-senjata ke pegunungan oleh Kelompok Basyar. Wacana tentang pembagian Negara menjadi Sunni dan Nusairi Alawiyah juga pernah muncul di media-massa. Saya kesulitan melacak dari mana ide itu muncul; dan sampai dimana perkembangan ide itu? Apalagi koneksi internet disini tidaklah mudah. Untuk berlangganan internet satelit, mujahidin disini harus merogoh kocek 1000 dolar setiap bulan. Angka 10 juta rupiah di Indonesia tentu sudah sangat tinggi hanya untuk akses internet.  Semoga kawan-kawan yang membaca tulisanku ini bisa mendalami sendiri.

“Kamu tau kenapa mereka selalu menjatuhkan birmil dan bom?” Tanya Jalal suatu ketika. “Kenapa?” jawabku. “Sebab target mereka membuat PR jangka panjang…” katanya. Saya tak mengerti maksud kalimat itu sampai Jalal kembali menjelaskan, “Jika nanti Nusairiyah berpindah ke Lattakia, dan misalnya sampai membuat Negara baru, recovery dari bangunan yang hancur lebur itu memerlukan waktu lama. Kami akan dibuat sibuk hingga lupa memerangi Israel…” urai Jalal. “Apa kamu tidak tau bahwa sebenarnya Basyar itu kawan Israel..?” tutup Jalal. Statement terakhir ini hampir menjadi pengetahuan umum disini. “Joulan dijual oleh Hafed Asad..” kata Usamah yang masih memakai selimut. Misteri penjualan Dataran Tinggi Gholan memang banyak diceritakan oleh kawan-kawan Hafed Asad; termasuk mantan PM Jordania pada zamannya.

Mustofa gembira sebab usahanya menyalakan api tidak sia-sia. Kayu-kayu yang masih agak basah memerlukan waktu lama untuk menjadi bara. Seperti cara saya menyalakan perapian sate di Indonesia, ia juga menggunakan plastik dan tissue untuk pemantik. Ruangan kami menjadi sangat hangat. Dua cawan kopi pekat telah memenuhi perut ini dan saya tak berani menambah lagi. “Dimana istrimu bertempat tinggal wahai Mustofa..?” tanyaku.”Di Turki..” jawabnya. Ia punya anak perempuan yang masih bayi. “Anak saya lahir bertepatan dengan pembebasan Salma oleh mujahidin” katanya. “Jadi, kamu beri nama anakmu Salma?” tanyaku. Ia menggeleng sambil tersenyum. Anaknya yang masih bayi agaknya menjadi sebab istrinya mengungsi.

 

“Kamu berasal dari mana Mustofa?” tanyaku. “Saya dari Syam ..” jawabnya. Dia memahami kebingungan saya dan bertanya, “Kamu tidak tau Syam?” Saya menjawab bahwa pemahaman saya Syam itu terdiri dari empat Negara: Palestina, Jordania, Suriah dan Lebanon. “Itu Biladus Syam..” kata Mustofa mengoreksi. “Jika disebut kota Syam, maka yang dimaksud adalah Demaskus” tambahnya. Pagi ini, saya mengerti apa beda kota Syam dan negeri Syam. Mustofa bercerita bahwa bapaknya berdinas di militer Hafed Asad. Dinas militer membuat keluarganya diboyong ke Lattakia sejak ia beranjak dewasa.

“Apakah Bapakmu Jenderal?” tanyaku. “Tidak, dia hanya perwira menengah.  Sangat sulit bagi sunni bisa menjadi Jenderal” Jelasnya. Mustofa menceritakan pengalamannya mengadu nasib berkarir di militer. “Saya dulu tergolong pelajar pintar dan berprestasi; nilai akademik saya bagus,” jelasnya. Penjelasannya soal ‘pintar’ sebab ia sedang membandingkan dengan umumnya Nusairiyah yang  IQ-nya jongkok. Saya jadi teringat kata-kata Umar kemaren hari. Tetangga paman Basyar di Lattakia itu berkata, “Kaum Nusairi itu seperti donkey, sangat bodoh..” Kami tertawa mendengar pengucapan ‘donkey’ yang aneh di telinga.

Dan Mustofa mendaftarkan diri ke angkatan darat, laut, juga udara. Saat menunggu hasil penerimaan, Ia dipanggil perwira senior, “Melihat prestasimu kamu berbakat menjadi Jenderal. Sayang sekali, kamu Sunni dan dari Salma.”  Mustofa ditolak sebab Sunni dan berasal dari Salma. Orang Salma –kata Usamah- masuk garis merah sebab dahulu pernah menjadi basis Ikhwanul Muslimin. “Bibi saya dipenjara enam tahun oleh rezim Assad.” Kata Mustofa. Kami segera telibat dalam diskusi soal buku-buku Sayyid Qutb. Gagal di militer, Mustofa kemudian berkarir dalam dunia medis sebagai perawat assisten bedah. Pengalamannya dalam dunia bedah sudah lebih dari sepuluh tahun. “Saya biasa membedah perut orang dan memperbaiki organ dalamnya dalam keadaan senang.” Kini ia menjadi andalan saat terjadi korban luka di klinik Salma.

 

 Jabal Akrod, 5 Pebruari 2013

Abu Zahra, Tim Relawan Kelima HASI untuk Suriah