Tipu Daya

“Banyak orang siap ke Gaza, tapi sedikit yang memiliki mental perlawanan.” Tutur Dr Joserizal kepada saya suatu ketika di kantor Mer-C. Saya mencoba mencerna apa maksud kalimat itu, sebelum akhirnya beliau meneruskan: “Seharusnya, para relawan Indonesia yang menjadi korban dalam insiden kapal Mavi-Marmara, tidak berhenti setelah kepulangannya. Banyak ruang ‘perlawanan’ yang masih bisa dilakukan.”

Dr. Jose kecewa saat beberapa relawan cenderung ‘menikmati’ servis Deplu RI. Menurutnya, mereka harus mengucapkan terimakasih tapi juga harus kembali ke fokus perlawanan. Sangat disayangkan, sepulang dari Gaza pemeriksaan kesehatan relawan dilakukan di RSPAD Gatot Subroto. Menurutnya, tempat itu tidaklah netral. Publik mafhum, Negara ini belumlah mandiri. Ada tangan panjang Amerika-Israel disini. Ia khawatir banyak data penting yang bisa digunakan untuk ‘memukul’ Israel tidak bisa diakses. Padahal, ada tempat pemeriksaan kesehatan yang lebih netral semisal RS Cipto.

Dan kekhawatiran itu terjadi. Hingga kini, jenis proyektil yang menembus tubuh relawan, tidak bisa diketahui. TPM juga kesulitan untuk mendapat salinan rekam medisnya. Bersyukur, untuk pemeriksaan darah sebagian kembali bisa dilakukan. Paling tidak, ada rekam medis yang masuk ke ‘Aliansi Elemen Islam’ di Jakarta. Dan hasilnya sudah kita ketahui; ada kadar arsen (racun) yang tinggi dalam tubuh para relawan. Kuat dugaan bahwa mereka diracun oleh Israel.

Kita tidak menyangsikan keikhlasan para relawan. Kita juga tidak ragu militansi mereka. Kita tidak sedang mencela mereka. Poin penting dari muhasabah ini adalah; ada knowledge dan sense yang kadang berbeda pada setiap orang. Dalam persoalan ini, di benak orang semisal Dr. Jose, ada banyak varian perlawanan yang harus disadari oleh aktivis Islam. Dan perlawanan itu seharusnya multi-dimensi. Ada opini, ada hukum, ada politik. Itulah kenapa Bapak Mahendradata, Ketua TPM, bertekad: “Kami akan membawa kasus Mavi-Marmara ke jalur hukum Internasional, bukan untuk menang, tapi untuk menunjukkan kepada dunia dan PBB akan kedhaliman Israel.”

Issu ‘teroris’ ternyata juga tidak sunyi dari persoalan ini. Banyak ‘pilihan sikap’ para tertuduh teroris yang membuat banyak pihak mengkernyitkan dahi, misalnya, tidak memberikan kesaksian di pengadilan bahwa ia disiksa, lebih memilih ‘pengacara polisi’ ketimbang TPM, tidak melakukan upaya perlawanan hukum sampai titik terakhir, kurang waspada terhadap muslihat, dan seterusnya. Bagi pelaku, tentu ada alasan dan asbab tersendiri.

Meski demikian, dari perspektif lain, ada banyak ranah ‘perlawanan’ di medan ini. Publik mafhum, banyak pelanggaran yang dilakukan kepolisian dalam menangani kasus terorisme; mulai dari prosedur penangkapan dengan pola penculikan, penyiksaan, main tembak, pemaksaan BAP, sampai pada rekayasa pengadilan. Jika fakta-fakta itu dibuka, tentu bisa meluruhkan kredibilitas polisi. Yang bisa membuka, tentu adalah korban, juga keluarga korban.

Sekadar pembanding, mental aktivis kiri kadang lebih “straight” dalam ranah semacam ini. Mereka lebih terbiasa. Mereka bisa mendemonstrasikan kemarahan kepada lawan secara terbuka. Mereka sangat bersemangat untuk mencari bukti hukum sekecil-kecilnya buat menjerat lawan. Pendek kata, mereka akan selalu mempergunakan setiap peluang dalam disiplin sipil untuk bisa melawan. Mungkin ada penilaian bahwa bagi orang kiri hal itu mudah karena tidak ada beban nilai. Mereka tak punya aqidah wala’-bara’. Tapi bukankah Rasulullah, dengan tidak mengorbankan aqidah, juga pernah memanfaatkan sistem perlindungan arab jahiliyah?

Fenomena ini, mengingatkan kita bahwa dalam dogma pergerakan, ada dua elemen penting dalam perjuangan yang tidak boleh dilupakan. Elemen itu adalah kefahaman akan nash sebagai dasar normatif, dan kefahaman akan realitas. Realitas hidup, ternyata begitu luas dinamikanya. Secara teori Ini bukan hal baru tentunya. Tetapi secara penjiwaan belum tentu kelompok pergerakan sudah mahir. Sinergi antara nash dan waqi’ memang memerlukan pembiasaan. Pembiasaan akan melahirkan kultur. Kultur akan melahirkan insting. Nash sangat penting agar kita tidak kehilangan arah. Waqi’ sangat penting agar nash yang kita yakini tidak menyentuh ruang hampa.

Saatnya, selain pengajian dan ta’lim rutin, jagad aktivis mulai memikirkan jenis pendidikan perlawanan dalam ranah semacam ini. Saatnya di halaqah pengajian ada materi seni menghadapi interogasi, agitasi, mengelola opini, networking, juga, materi semisal wawasan hukum agar aktifis mengenali belantara hukum. Ketidakfahaman akan belantara semacam ini, akan membuat aktifis gampang diperdaya dan tersesat. Bukankah orang jujur dan ikhlas juga ada yang bisa diperdaya?

Jakarta, 15 Juli 2010

Bambang Sukirno