Tradisi Nyadran dalam Pandangan Islam

Nyadran

An-Najah.net – Islam memiliki sifat-sifat dasar yaitu kesempurnaan, penuh nikmat, diridhai dan sesuai dengan fitrah. Sebagai agama, sifat-sifat ini dapat dipertanggungjawabkan dan menjadikan pengikutnya dan penganutnya tenang, selamat dan bahagia dalam menjalani segala aspek kehidupan.

Agama Islam ini telah merangkum semua bentuk kemaslahatan yang diajarkan oleh agama-agama sebelumnya. Agama Islam yang beliau bawa ini lebih istimewa dibandingkan agama-agama terdahulu karena Islam adalah ajaran yang bisa diterapkan di setiap masa, disetiap tempat dan di masyarakat manapun.

Di Indonesia khususnya orang jawa. Banyak sekali seni budaya, adat dan tradisi (kebiasaan) yang menyebar luas di kalangan masyarakat. Ada yang bernafaskan keislaman yang bermanfaat bagi penyebaran dan syi’ar agama Islam.

Namun ada sebagian masyarakat Jawa khususnya orang Islam yang mempunyai tradisi atau adat seperti tradisi Nyadran  yang diyakini sebagai ajaran dari agama Islam, padahal tradisi itu adalah tradisi orang Hindu.

Faktor Permasalahan Tradisi Nyadran

Lantas apakah Tradisi Nyadran dibernarkan dalam ajaran Islam. Mari kita simak bebarapa faktor penyebab Tradisi Nyadran dipermasalahkan.

Ketika memahami tradisi Nyadran mulai dari sejarah yang melatar belakanginya, hingga perjalanannya, pertanyaan apakah Nyadran termasuk ajaran Islam?

Baca juga (Mengenal Sekilas Apa Itu Tradisi Nyadran)

Pertama, Salah satu fenomena akhir zaman, yang dialami umat Islam, membeo kepada orang kafir dalam tradisi dan dan ritual mereka. Rasulullah Saw bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ

Sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan kaum sebelum kalian, sama persis sebagaimana jengkal tangan kanan dengan jengkal tangan kiri, hasta kanan dengan hasta kiri. Sampai andaikan mereka masuk ke liang biawak, kalian akan mengikutinya.” (HR. Bukhari 3456, Muslim 2669 )

Meskipun konteks hadis ini berbicara tentang orang yahudi dan nasrani, tapi secara makna mencakup seluruh kebiasaan kaum muslimin yang mengikuti tradisi dan budaya yang menjadi ciri khas orang kafir.

Sementara, Rasulullah Saw telah memberikan kaidah, meniru ritual orang kafir, apapun bentuknya, berarti telah meniru kebiasaan mereka. Dan tindakan ini telah melanggar peringatan dalam hadis dari Ibnu Umar ra, Nabi Saw bersabda,

 

«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»

“Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (HR. Abu Daud 4031).

Kedua, nyadran dilakukan di waktu tertentu, yaitu bulan Sya’ban (Ruwah).

Ada keyakinan yang melatarbelakangi, kenapa masyarakat memilih waktu ini, tentu tidak sembarangan. Jika tidak, mereka akan melakukannya di sepanjang tahun tanpa membatasi pada waktu tertentu. Dan karena itulah mereka menyebut bulan Sya’ban sebagai bulan ruwah. Bulan untuk mengirim do’a bagi para arwah leluhur. Bagian yang perlu kita garis bawahi di sini, Nyadran dilakukan di setiap bulan Sya’ban.

Dalam hadis dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda,

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا، وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا

Janganlah kalian menjadikan rumah kalian sebagaimana kuburan. Dan jangan jadikan kuburanku sebagai ‘ied.” (HR. Ahmad 8804)

Pada hadis di atas, Rasulullah Saw melarang umatnya untuk menjadikan kuburan beliau sebagai ‘ied. Pertanyaannya Jika kuburan beliau dilarang, apalagi kuburan selain beliau hukumnya lebih terlarang.

Ibnu Madzur menjelaskan dalam bukunya Lisanul ‘Arab, “Kalimat ‘Id berasal dari kata‘ada – ya’uudu (yang artinya kembali), karena masyarakat selalu kembali melakukannya. Ada juga yang mengatakan, turunan dari kata Al-Adah (adat), karena masyarakat membiasakannya. Bentuk jamaknya, a’yaad. (Ibnu Mandzur, Lisanul ‘Arab, cet:3, jilid 3, hal, 319)

Syaikhul Islam dalam Al-Iqtidha mengatakan, ‘ied adalah istilah untuk menyebut kegiatan kumpul-kumpul karena kebiasaan, yang selalu dilakukan berulang, baik tahunan, setiap pekan, maupun bulanan. (Ibnu Taimiyyah, Tahdzib Iqidha ash-Shirat Al-Mustaqim, jilid 1, hal.75)

Berdasarkan keterangan di atas, dapat kita simpulkan bahwa suatu kegiatan bisa disebut ‘ied, jika memiliki kriteria, adanya perkumpulan dan dilakukan pada waktu dan tempat tertentu.

Karena itulah, kegiatan kaum muslimin di hari jumat disebut ‘ied. Karena mereka berkumpul pada hari itu, dan menjadi tradisi kaum muslimin. Berbeda dengan acara kajian yang dilakukan setiap hari tertentu. Semacam ini tidak disebut ‘ied, karena mereka berkumpul bukan atas motivasi tempat atau waktu, tapi karena mengikuti kajian.

Ketiga, dalam kegiatan Nyadran ada unsur ritual tertentu

Ritual ini tidak lebih hanya meminjam istilah dalam islam untuk melengkapi acara semacam ini. Agar bisa diterima kaum muslimin sebagai bagian ajaran islam. Tentu saja ini adalah tindak kriminal terhadap Rasulullah Saw. Beliau tidak pernah mengajarkan demikian kepada umatnya. Bagaimana mungkin bisa diyakini sebagai bagian dari islam. Bukankah ini sama halnya dengan berdusta atas nama beliau? Itulah yang dimaksud tindakan kriminal terhadap Rasulullah Saw.

Imam Malik pernah mengatakan, “Siapa yang melakukan perbuatan bid’ah dalam islam, dan dia anggap itu baik, berarti dia menganggap Muhammad Saw berkhianat terhadap risalah.” (Abu Bakar al-Jazairi, Al-Inshaf fima Qiila fil Maulud Minal Ghulu wal Ihjaf, jilid 1, hlm. 47).

Mungkin sebagian kaum masih mempertahankan tradisi ini dengan memberikan beberapa alasan. Diantaranya:

Pertama, Bukankah ziarah kubur sesuatu yang disyariatkan, mengapa dilarang? Benar, ziarah kubur disyariatkan. Rasulullah Saw bahkan memberi motivasi untuk berziarah kubur

فزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الْمَوْت

“Lakukanlah ziarah kubur, karena ziarah kubur akan mengingatkan kalian terhadap kematian.” (HR. Nasa’I 2034)

Dalam keterangan yang kami sampaikan sedikitpun tidak ada larangan untuk melakukan ziarah kubur. Yang dipermasalahkan bukan ziarahnya tapi tradisi Nyadran-nya. Karena tradisi ini, dari beberapa sisi melanggar beberapa aturan syariat. Dan apakah dalam tradisi Nyadran adanya motivasi ingat mati, sampai-sampai dari mereka ada yang menagis sedih memikirkan dosa. Yang ada justru sebaliknya, mereka pesta makan-makan di kuburan dengan senang gembira.

Kedua, bukankah dalam tradisi Nyadran ada kegiatan mendoakan jenazah, yang mana itu adalah perintah Rasulullah Saw? Benar, mendoakan jenazah sangat disyariatkan. Namun kami belum pernah menjumpai dalil bahwa itu dilakukan secara berjamaah di bulan tertentu. Padahal kita tahu, mayit butuh doa setiap saat dan tempat, dan syariat membolehkan kita mendoakan jenazah di semua tempat. Dan doa itupun bisa sampai kepada jenazah.

Ketiga, bukankah dalam tradisi Nyadran ada kegiatan mengirim pahala sedekah untuk jenazah, yang mana itu sampai kepada si mayit? Benar, pahala sedekah bisa samai ke mayit. Namun sedekah tersebut tidak harus berupa makanan tertentu (yang memiliki simbol tersendiri) dan tidak harus dilakukan di kuburan. Kita bisa sedekah atas nama orang yang sudah meninggal dalam bentuk apapun, tidak harus makanan. Bahkan bersedekah dalam bentuk benda yang lebih permanen, seperti infak untuk pembangunan masjid, pesantren, sekolah dan semisalnya. Nilainya lebih baik dan lebih lama dibandingkan makanan yang pengaruhnya cepat habis.

Semoga Allah Ta’ala melindungi seluruh kaum Muslimin dari berbagai subhat yang merajalela di era zaman ini. Dan memberi keistiqomahan dan kepercayaan hingga akhir hayat menjemput. Wallahu ‘alam

Penulis: Ibnu Jihad

Editor: Abu Mazaya