Trik Liberalisasi Untuk Hancurkan Islam

Liberalisasi, ghazwul fikri
Liberalisasi, ghazwul fikri
Liberalisasi, ghazwul fikri

An-Najah.net – Ada beberapa metode atau lebih tepatnya perangkap bagaimana liberalisasi diterapkan dalam agama Islam. Yang paling penting dan diyakini sangat efektif adalah sebagai berikut:

  1. Menyebarkan Doktrin Relativisme

Doktrin ini mengajarkan bahwa disana tidak ada lagi kebenaran muthlak. Semuanya bersifat relative. Agama manapun, termasuk Islam ‘diharamkan’ mengklaim mempunyai kebenaran yang muthlak. Ajaran agama akhirnya menjadi sesuatu yang relative, tergantung yang memahaminya. Ini berakhir pada pemahaman bahwa kebenaran itu bersifat relative.

Ini jelas bertentangan dengan Islam dan akal sehat. Sebab, ada sesuatu yang disepakati sebagai sesuatu yang baku, dan ada juga perkara yang bersifat relative. Misalnya, matahari bersinar, ini sesuatu yang pasti dan muthlak. Atau wudhu dengan air, sejak islam ada hingga akhir umat Islam, wudhu tetap  dengan air, bukan dengan oli atau minyak goreng. Ini bersifat baku.

Sedangkan yang relative seringkali ada pada system berjuang atau berdakwah. Seperti memakai senjata sebagai panah.

Target akhir dari faham ini adalah umat Islam tidak lagi meyakini kebenaran Islam. Menyesatkan ulama, atau bahkan sakit hati pada Allah SWT yang menurunkan wahyu, dan menjelaskan mana yang baik dan mana yang buruk, dan hukum alQur’an adalah selalu muthlak.

2. Melakukan Kritik Terhadap al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan sumber kekuatan umat Islam. Dan sebuah kita yang tertandingi oleh maha karya manapun. Dan yang pasti, alQur’an adalah hudan (petunjuk) bagi manusia, selalu terjaga hingga akhir hayat dunia.

Biasanya kritik terhadap alQur’an dimulai dengan mematahkan kesakralan, kesucian dan keagungan alQur’an. alQur’an dianggap tidak jauh beda dengan kitab suci lainnya, atau bahkan dengan karya manusia lainnya. Sehingga tidak mengherankan, jika ada mahasiswa atau dosen fakultas Ushuluddin melempar alQur’an ke lantai kelas.

Sekte liberal seringkali menggunakan metodelogi kritik Bible untuk mengkaji alQur’an. Seperti, menerapkan hermeneutika dalam menafsirkan alQur’an.  Jika sudah demikian, orang-orang akan mempersoakan alQur’an. Tidak lagi meyakini kebenaran yang dibawa alQur’an.

3. Menyebarkan Paham Pluralisme Agama

Sejatinya, paham pluralisme adalah paham yang curiga pada kebenaran. Ia adalah hasil inovasi para agamawan liberal untuk menyebarkan liberalisme. Harapan mereka, semua agama akhirnya berada pada tingkat yang sama. Semuanya sama-sama benar.

Inti doktrinnya adalah menghilangkan ciri khas ummat beragma, khususnya Islam. Puncaknya, seseorang akan menganggap; apapun agamanya pasti masuk surge, pasti benar. Ini adalah cara halus untuk memurtadkan seorang muslim.

4. Mendekonstruksi Syari’ah

Maksudnya, kaum liberal hendak mendesain ulang syari’at Islam, agar sesuai dengan keinginan Barat, jauh dari tauladan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Jika dikaji lebih dalam, dekonstruksi syari’ah bagian dari saran Cheryl Bernard aktifis RAND Corporation, sebuah lembaga think thank Amerika Serikat, untuk menghancurkan Islam.

Bernard mengusulkan kepada Amerika untuk melakukan strategi menghancurkan Islam dan memonopoli dunia. Menghancurkan monopoli fundamentalisme dan tradisionalisme dalam mendefenisikan, menjelaskan, dan menafsirkan Islam. Yaitu dengan cara menafsirkan ulang syari’at Islam. Seperti definisi shalat, puasa, jihad, daulah Islamiyah, khilafah dan selainnya.

Hasil dari upaya ini adalah umat Islam akan memahami Islam tidak sebagaimana yang dipahami oleh Rasulullah SAW, para sahabat maupun para ulama mujtahid. Dan lama-kelamaan, syari’at Islam akan rontok, tidak tersisa lagi kecuali seperti yang dikehendaki oleh Barat.

5. Menyebarkan Faham Feminisme

Yaitu, kaum liberal sekuat tenaga menghilangkan perbedaan-perbedaan syari’at dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan. Kejadian ikhtilath (bercampur baurnya laki-perempuan), kelak akan menjadi biasa di tengah umat Islam.

Diantara hal yang dikehendaki lewat faham feminism ini misalnya; jatah warisan antara laki-laki dan perempuan harus sama, pengharaman poligami, massa iddah tidak hanya bagi perempuan namun juga berlaki bagi suami, talak bisa dijatuhkan oleh pihak istri, pernikahan boleh dilakukan tanpa wali.

Bukan hanya perkawainan, masalah seksual diurus dalam faham feminism, bahkan sampai pada taraf men’sunnah’kan gay, lesbi, dan sejenisnya. Misalnya, Siti Musdah Mulis, feminis yang paling aktif memprotes Allah dan syariat Islam ini menulis;

“Menurut hemat saya, yang dilarang dalam teks-teks suci tersebut lebih tertuju kepada perilaku seksualnya, bukan pada orientasi seksualnya. Mengapa? Sebab menjadi heteroseksual, homoseksual (gay dan lesbi), biseksual adala kodrati, sesuatu yang “given” atau dalam bahasa fikih disebut sunnatullah.” (Islam Rahamatan Lil ‘Alamin, seperti tertulis dalam Majalah Tabligh Muhammadiyah, Mei 2008)

Sumber : Majalah An-najah Edisi 107 Rubrik Tema Utama

Penulis : Akram Syahid

Editor : Anwar