Tujuh Tahap Menghapus Kemungkaran

Delete
Delete
Delete
Delete

An-Najah.net – Imam lbnu Qudamah dalam kitab Minhajul Qasidhin menetapkan tujuh derajat atau tahapan dalam mengubah kemungkaran. Yaitu:

Pertama, edukasi dan menjelaskan kemungkaran.

Tidak semua umat Islam paham terhadap ajaran agamanya. Banyak yang masih awam dalam agama, terutama yang tinggal di daerah pelosok.

Mereka melakukan beberapa perbuatan mungkar karena tidak tahu atau menyangka perbuatan mungkar termasuk dalam ranah perbedaan ulama.

Kasus seperti ini banyak terjadi di nusantara. Di beberapa daerah pelosok shalat jumat tidak dikerjakan karena minimnya para da’i.

Ada pula tempat yang tidak menyelenggarakan shalat tarawikh di bulan Ramadhan. Mereka baru mengenal syiar tersebut setelah dijelaskan para da’i.

Dalam kasus seperti ini kemungkaran terjadi karena ketidaktahuan bukan faktor yang lain. Sehingga cara mengubahnya dengan memberi edukasi yang tepat.

Kedua, larangan secara lisan dengan bahasa yang santun.

Banyak orang melakukan kemungkaran secara sadar. la tahu bahwa hal itu diharamkan namun tetap mengerjakan. Untuk orang seperti ini dicegah dengan nasehat yang santun atau mauidhah hasanah.

Mereka diberi peringatan dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits. Serta dijelaskan hukuman apa yang akan mereka tanggung jika terus melanggar larangan Allah.

Ketiga, melarang dengan bahasa yang kasar dan keras.

Tidak semua bahasa yang kasar tercela, bahkan dibutuhkan jika pelaku kemaksiatan tetap kekeuh dan bebal. Ketika bahasa santun tidak menembus hati, ucapan kasar dan tegas dilontarkan.

Sebagalmana Nabi Ibrahim mencemooh kemusyrikan kaumnya:

”Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?” (QS. Al-Anbiya: 67)

Keempat. memberi ancaman dengan tindakan atau aksi tangan.

Ketika peringatan lisan tidak mempan, langkah berikutnya dengan memberi ancaman akan melakukan tindakan atau aksi dengan tangan. Diharapkan dengan ancaman ini sang pelaku segera berhenti dan bertaubat kepada Allah.

Kelima, melakukan aksi dengan turun tangan.

Cara lni dilakukan jika cara-cara sebelumnya tidak membuat pelaku mungkar berhenti dan jera. Yaitu dengan memusnahkan alat-alat atau benda-benda haram yang dipakai para pelaku. Namun ada dua syarat yang perlu diperhatikan:

1. Memlliki kemampuan karena manath atau sebab utama yang melegitimasi kewajiban amar makruf nahi mungkar adalah istithoah atau kemampuan.

2. Bisa menganallsa dampak apa yang ditimbulkan setelahnya. Jika hasilnya lebih buruk, lebih baik menunda atau menahan diri.

Keenam, kekerasan fisik kepada pelaku kemaksiatan.

Hukuman fisik kepada pelaku seperti pukulan tangan atau hukuman kurungan diperbolehkan selama ada alasan kuat Cara ini diterapkan untuk pelaku kemaksiatan yang sudah akut.

Ketika cara-cara sebelumnya tidak diindahkan. Seorang qadhi yang memiliki otoritas bisa menjatuhkan hukuman fisik yang menyebabkan luka.

Kendati demikian, pertimbangan maslahat dan madharat tetap diperlukan agar tidak berlebihan dalam melakukan menggunakan cara ini.

Ketujuh. meminta bantuan orang lain untuk menghentikan kemungkaran.

Pelaku kemaksiatan yang terorganisir rapi sulit dicegah oleh satu orang. Dalam kondisi lni seorang muslim dibolehkan meminta bantuan orang lain dalam melakukan aksi taghyirul munkar.

lbnu Qudamah memberi syarat, sebelum melakukan aksi sudah mendapatkan izin dari waliyyul amr. Karena umumnya ketika dua massa berkumpul aksi kekerasan sulit dielakkan. Dampak buruknya tidak terkontrol.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 120 Rubrik Tema Utama

Editor : Helmi Alfian