Ucapan Kata, Salah Satu Pintu Kemaksiatan

Ucapan salah satu pintu kemaksiatan
Ucapan salah satu pintu kemaksiatan

An-Najah.net – Cara menjaga ucapan kata adalah dengan tidak mengeluarkan kata-kata yang sia-sia, tidak berbicara kecuali diharapkan ada keuntungan dan nilai lebih dalam hal agamanya.

Mu‘adz pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw mengenai suatu amalan yang bisa menyebabkannya masuk surga dan menjauhkannya dari neraka. Beliau kemudian menjelaskan tentang pokoknya, tiangnya dan puncaknya agama.

Kunci Pintu Surga

Selanjutnya beliau bersabda. “Maukah engkau bila aku beritahukan kepadamu tentang sesuatu yang menjadi kunci kesemuanya itu?” Dia menjawab, “Tentu, ya Rasulullah.” Beliau kemudian memegang mulut sambil bersabda, ‘Tahanlah yang ini!’ (mulut). Mu‘adz bertanya, “Apakah kita akan juga disiksa disebabkan apa yang kita bicarakan?” Beliau menjawab, “Aduhai Mu‘adz, tidaklah manusia itu diseret muka mereka atau leher mereka malainkan karena lidah mereka.” (HR. At-Tirmidzi: 2616)

Baca juga: Lisan, Pedang Tak Bertulang Yang Mematikan

Anehnya, manusia sering kali menganggap remeh dan tidak berhati-hati dalam menjaga diri dari makanan yang haram, kezhaliman, zina, pencurian, minuman keras dan melihat yang haram dan sebagainya. Di samping itu, dia juga kesulitan untuk menjaga lidahnya.

Marilah kita simak hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya yang berasal dari sahabat Jundub bin ‘Abdullah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw, pernah bersabda,

أَنَّ رَجُلًا قَالَ: وَاللهِ لَا يَغْفِرُ اللهُ لِفُلَانٍ، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ، فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ، وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ

Ada seseorang yang mengatakan: “Demi Allah, Allah tidak akan memberikan ampunan kepada si Fulan. Maka Allah Ta’ala pun berfirman, “Siapa yang berani mengatakan bahwa Aku tidak akan memberikan ampunan kepada si Fulan? Sungguh, aku telah memberikan ampunan kepadanya, dan sebaliknya Aku telah menghapus amalanmu!” (HR. Muslim: 2621)

Jangan Remehkan Lisan

Ahli ibadah ini telah melakukan amalan ibadah sedemikian rupa, namun seluruh amalannya terhapuskan oleh kata-kata yang diucapkannya. Hanya karena sebait ucapan yang ia lontarkan menjadikan seluruh amalannya menghilang.

Baca juga: Tangan dan Kaki Akan Menjadi Saksi

Bahkan dengan satu kata yang dilontarkan seorang hamba bisa menjerumuskannya kedalam neraka-Nya Allah Ta’ala. Maka benarlah sabda Rasulullah Saw yang riwayat dari Abu Hurairah bahwa beliau Saw bersabda,

إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara hanya dengan satu kata yang diridhai oleh Allah Ta’ala tanpa dia pedulikan, namun dengan satu kata itu Allah Ta’ala berkenan mengangkatnya beberapa derajat. Sebaliknya, seorang hamba ada yang berbicara dengan satu kata yang dimurkai oleh Allah tanpa dia pedulikan, namun dengan satu kata itu Allah memasukkannya ia dalam neraka Jahannam. (HR. Bukhari: 6478)

Sedangkan dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ، يَنْزِلُ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang tidak dia sadari makna yang dikandungnya, namun kata-kata itu menyebabkannya masuk ke dalam neraka dengan jarak lebih jauh dan batas antara timur dan barat. (HR. Muslim: 2988)

Islam mengajarkan untuk berkata-kata yang baik, jika tidak bisa maka lebih baik diam. Nabi Muhammad Saw bersabda,

مَنْ كانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيصْمُتْ

Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berbicarayang baik atau  jika tidak, lebih baik diam. (HR. Al-Bukhari: 6018, Muslim: 47)

Berbicara atau Diam?

Para ulama salaf maupun khalaf berbeda pendapat mengenai apakah semua perkataan itu dicatat oleh malaikat, atau yang dicatat hanya yang baik dan buruk saja? Pendapat yang lebih kuat adalah yang pertama. (Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al-Fatawa, jilid 7, hal. 49)

Manusia itu mempunyai dua celah penyakit yang besar. Jika, dia bisa terselamatkan dari salah satunya, maka dia tidak bisa selamat dari yang satunya lagi. Celah itu adalah berbicara dan diam. Bisa jadi salah satunya lebih besar dosanya daripada yang lain dalam waktu yang sama.

Demikian juga sebaliknya. Orang yang diam dari kebenaran adalah setan bisu, durhaka (bermaksiat) kepada Allah Ta’ala, serta riya’ dan penjilat jika dia tidak takut kepada dirinya sendiri.

Baca juga: Jangan Menjadi Setan Bisu

Adapun orang yang berbicara dengan kata-kata yang batil adalah setan yang berbicara dan durhaka kepada Allah Ta’ala. Kebanyakan makhluk Allah Ta’ala melakukan penyimpangan dalam hal perkataan atau diamnya. Mereka selalu berada di antara dua hal tersebut.

Abu Ali ad-Daqqaq pernah berkata, “orang yang diam tidak mengatakan kebenaran adalah setan bisu. Sedangkan orang yang menyuarakan kebatilan adalah setan yang berbicara.”

Semoga Allah Ta’ala selalu membing kita di jalan-Nya hingga akhir hayat. Sehingga segala anggota tubuh kita -termasuk lisan- tidak bermaksiat kepada-Nya, amin. Wallau Ta’ala ‘Alam [] Ibnu Alatas