Ujian Pewaris Nabi

Ujian pewaris nabi
Ujian pewaris nabi

An-Najah.net – Ulama adalah pewaris para nabi. Ulama adalah rujukan bagi umat Islam sebagai tempat belajar dan bertanya tentang kehidupan di dunia, khususnya persoalan agama. Ulama sebagai perantara antara Allah Ta’ala sebagai Pencipta dengan yang dicipta, yakni manusia.

Namun, para pengembang kebenaran tersebut harus rela menerima cobaan, ujian yang amat berat. Musibah yang menimpa mereka untuk mengangkat derajat mereka, menunjukkan kepada umat tentang kesabaran mereka, dan menjadi teladan bagi manusia dalam menghadapi ujian.

Baca juga: Teladan Hebat dari Para Sahabat

Sa’ad bin Abi Waqqash pernah bertanya, wahai Rasulullah, Siapakah manusia yang paling keras ujiannya? Maka beliau Saw bersabda:

الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الْعَبْدُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صُلْبًا، اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ، ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ، حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ، وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ

“(Orang yang paling keras ujiannya adalah) para nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya, diuji seseorang sesuai dengan kadar agamanya, kalau kuat agamanya maka semakin keras ujiannya, kalau lemah agamanya maka diuji sesuai dengan kadar agamanya. Maka senantiasa seorang hamba diuji oleh Allah sehingga dia dibiarkan berjalan di atas permukaan bumi tanpa memiliki dosa.” (HR. At-Tirmidzi: 2398, Ibnu Majah: 4023, Al-Albani mengatakan Hasan Shahih dalam bukunya, At-Ta’liqot Al-Hasan)

Ujian dan cobaan yang dialami dan dinikmati para pewaris kebenaran di antaranya;

Imam Ahmad bin Hambal

Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal Asy-Syaibani, ujian dan tantangan pada masanya adalah hempasan badai filsafat atau paham-paham Mu’tazilah.

Para penguasa, tepatnya di masa al-Makmun memunculkan pendapat dan menyerukan bahwa AI-Qur’an adalah makhluk, serta memaksakan. Kepada siapa saja untuk mengikuti keyakinan tersebut. Siapa pun yang menolak dan melawan akan berhadapan dengan kekejaman khalifah.

Imam Ahmad dengan gigih mempertahankan pendirian dan mematahkan hujah kaum Mu’tazilah serta mengingatkan akan bahaya filsafat terhadap kemurnian din Islam. Beliau berkata tegas kepada penguasa bahwa Al-Quran bukanlah makhluk, tetapi ia adalah Kalamullah.

Baca juga: Tiada Maaf, Bagi Pelaku Istihza Terhadap Islam

Lantaran itu, beliau dijebloskan ke penjara. Beliau berada di penjara selama tiga periode kekhalifahan yaitu AI-Makmun, Al-Mu’tashim dan terakhir Al-Watsiq.

Imam Ahmad menghabiskan masa hidupnya di dalam penjara dan dikucilkan dari manusia. Namun, beliau tetap bertahan pada pendiriannya dengan segenap kegigihan, keteguhan dan kesabarannya.

Sementara banyak ulama lebih memilih berdiplomasi, berpura-pura mengiyakan pendapat penguasa (tauriyah) ataupun hijrah menghindari penangkapan dan penyiksaan karena fitnah ini. Dengan kesabaran menghadapi penyiksaan itu, akhirnya, beliau dibebaskan dari penjara oleh penguasa pengganti al-Watsiq Al-Mutawakil.

Kesabaran dan keistiqamahannya dalam memegang prinsip “AI-Quran adalah Kalamullah dan bukan makhluk” beroleh keharuman di tengah-tengah umat Islam, bahkan hingga saat ini. Ajarannya makin banyak diikuti orang. Tidak lama kemudian beliau meninggal karena sakit dan luka siksaan dari penjara. Ketika beliau wafat, tidak kurang dari 130.000 Muslimin menshalatkannya dan 10.000 orang Yahudi dan Nashrani masuk Islam. Allahu akbar!

Ibnu Taimiyah

Abul Abbas Taqiyuddin Ahmad bin Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyah al Harrani, atau biasa di sebut lbnu Taimiyah adalah seorang dai yang tabah, ahli ibadah, wara’ lagi zuhud.

Beliau juga seorang pemberani yang ahli berkuda dan berperang. Beliau adalah pembela tiap jengkal tanah umat Islam dari kezhaliman musuh dengan pedangnya seperti halnya pembela akidah umat dengan lidah dan penanya.

Ketegaran, keberanian dan kelantangan beliau dalam menyampaikan dan mengajak kepada kebenaran, justru membakar kedengkian serta kebencian para penguasa, para ulama (ulama suu’) dan orang-orang yang tidak senang kepada beliau.

Orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit (orang-orang munafik), meniupkan racun-racun fitnah terhadap beliau di depan penguasa. Wal hasil, beliau harus mengalami berbagai tekanan di dalam penjara, disiksa, dibuang, dan diasingkan.

Baca juga: Ibnu Taimiyyah Tujuh Kali Dipenjara: Ideologi yang Tak Pernah Terbui

Saat berada dalam penjara, beliau berkata, “Sesungguhnya aku menunggu saat seperti ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan besar.” Suatu kali, beliau pun pernah berucap, “Aku, surga dan tamanku ada di dalam dadaku. Kemana pun aku pergi ia seIaIu ada bersamaku, tidak meninggalkanku. Jika aku dipenjara, bagiku itu adalah khalwah (bermesraan dengan Allah). Jika aku dibunuh, bagiku itu adalah syahadah. Jika aku diusir dari negeriku, bagiku itu adalah siyahah (jalan-jalan).”

Dan masih banyak kisah para ulama yang mendapatkan ujian dan cobaan yang tak sebanding dengan ujian dan cobaan yang kita hadapi hari ini. Jika hari ini kita masih mengeluh saat berdakwah dan beriqomatuddin, maka apa yang harus kita jawab kelak di akhirat di saat kita bertemu dengan para ulama yang tegar, sabar menghadapi cobaan tersebut. Apakah kita tidak malu!

Saudaraku, yakinlah pertolongan Allah Ta’ala akan tiba pada saatnya. Allah Ta’ala ingin melihat keseriusan, kesabaran, dan ketabahan kita saat berjuang. Bayangkanlah surga abadi yang sedang menanti, dengan berbagai gemerlapan, kenikmatan yang hakiki. Tetap semangat dan Berjuang! Wallahu Ta’ala ‘Alam

Penulis             : Ibnu Jihad

Editor              : Ibnu Alatas