Ukhuwah Islamiyah, Syarat Kesempurnaan Iman

Ukhuwah-Islamiyah
Ukhuwah-Islamiyah
Ukhuwah-Islamiyah

An-Najah.net – Ukhuwah Islamiyah, atau membangun hubungan karena Allah SWT adalah bukti kokohnya keimanan seseorang. Sebab, iman menuntut agar seorang mukmin mencintai dan berbagi dengan saudara muslimnya.

Inilah alasan para salaf membangun kedekatan, kecintaan dan persahabatannya semata-mata karena Allah SWT. Seorang ulama tabi’in bernama Abu Idris al-Khaulani mengisahkan, “Suatu ketika, saya melihat pemuda yang tampan rupawan di masjid Damaskus. Banyak orang yang bermajelis di sekitarnya. Uniknya, setiap kali orang-orang di masjid itu berselisih tentang sesuatu, mereka mendatangi pemuda tersebut. Ia pun menyelesaikan perselisihan mereka dengan baik.”

Lalu saya pun bertanya siapa gerangan pemuda ini. “Ternyata ia adalah sahabat Mu’adz bin Jabal RA. Saya pun berniat menemuinya. Saat beliau melaksanakan shalat, saya menunggunya. Setelah ia salam, saya mendatanginya dan berkata kepada beliau, “Demi Allah, aku mencintaimu karena Allah, wahai Mu’adz.” al-Khaulani melanjutkan ceritanya.

Mu’adz bertanya, “betulkan karena Allah?” sebanyak tiga kali, dan tiap kali itu juga saya jawab, “Iya, karena Allah.” Tiba-tiba ia memegang sorbanku dan menariknya ke dekat telinganya, lalu berkata kepadaku, “Bergembiralah. Sungguh saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Allah SWT berfirman, ‘Cintaku pasti didapatkan oleh orang-orang yang mencintai karena Aku, bersahabat karena Aku dan saling memberi karena Aku.”

Hadits yang diriwayatkan oleh imam Malik dan Hakim ini, menunjukkan tingginya derajat orang-orang yang mencintai dan membangun ukhuwah (hubungan) karena Allah SWT.

Rasulullah SAW menjelaskan, ukhuwah islamiyah, persaudaraan yang dibangun atas dasar Islam adalah ikatan yang sangat kuat. Pernah beliau SAW bersabda kepada sahabat Abu Dzar RA:

أي عُرَىالإيمانِ أوثقُ ؟ قال : اللهُ ورسولُه أعلمُ ؟ قال:الموالاةُ في اللهِ والمُعاداةُ في اللهِ والحًبُّ في اللهِ والبُغضُ فياللهِ

“Wahai Abu Dzar, tahukah kamu, ikatan iman mana yang paling kuat.?” Sahabat Abu Dzar menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih tahu.” Maka beliau SAW menjawab, “(Yaitu) loyalitas karena Allah dan disloyalitas karena Allah. Mencintai karena Allah dan memusuhi karena Allah juga.” (Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Iman tidak akan terasa sempurna nan lengkap tanpa ukhuwah islamiyah. Beliau SAW bersabda:

مَنْ أَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ وَأَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَنْكَحَ لِلَّهِ فَقَدْ اسْتَكْمَلَ إِيمَانَهُ

“Barangsiapa memberi karena Allah, tidak memberi karena Allah, marah karena Allah dan menikah karena Allah, imannya telah sempurna.” (HR. Tirmidzi)

Ukhuwah Islamiyah, Pilar Peradaban Umat

Masyarakat Islam tidak akan kokoh tanpa ada ukhuwah antara mereka. Sebab ia adalah salah satu pondasi dasar sebuah masyarakat Islam. Bahkan, bukan sekedar masyarakat Islam. Bangsa manapun yang tidak terbina atas dasar saling mencintai, menghargai, dan saling memberikan loyalitas-pembelaan sesama masyarakat.

Inilah hikmah dari larangan saling mencela, mengolok-olok, merendahkan antara satu dengan yang lainnya. Sebab perbuatan-perbuatan buruk ini memicu keretakan di tengah masyarakat. Sehingga mereka saling berselisih, lalu saling memusuhi.

Maka Islam mengharamkan perbuatan ini. Allah SWT berfirman:“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Qs. Al-Hujurat: 11)

Syaikh Abdullah Azzam menjelaskan ayat di atas, “Surat Al-Hujurat berisi prinsip-prinsip yang mencerminkan aspek utama pembangunan keluarga dan masyarakat Islam. Karena; sistem masyarakat Islam, pembinaan keluarga muslim, adab berkunjung, adab berpakaian dan sebagainya diambil dari tiga surat. Yaitu, al-Hujurat, an-Nuur dan al-Ahzab.”

Sebuah masyarakat tidak akan bisa tegak, jika mengabaikan prinsip-prinsip yang ada dalam surat Al-Hujurat. Sebab surat ini, menegaskan pilar sebuah masyarakat, yaitu saling menghargai dan bersahabat.

“Sebuah masyarakat terbentuk dari banyak individu. Jika antara individu tersebut tidak ada ikatan yang erat, pertalian yang kuat dan hubungan yang baik, masyarakat tidak akan terwujud. Karena ikatan yang kuat, persaudaraan yang erat inilah yang menjaga masyarakat dari kehancuran,” tulis Syaikh DR. Abdullah Azzam  lebih lanjut.

Kenikmatan Yang Agung

Allah SWT berfirman:

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنْ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103)

Allah SWT menyebut ikatan persaudaraan di atas iman sebagai sebuah kenikmatan dan anugerah dari-Nya. Karena dengan ukhuwah islamiyah, Allah menghilangkan berbagai macam tradisi jahiliyah yang menyebabkan keretakan hubungan, kegoncangan jiwa. Kebencian dan permusuhan sirna seketika.

Baca juga  makalah (Mempertegas Makna Ukhuwah Islamiyah)

Inilah yang dirasakan oleh sahabat Aus dan Khazraj, dua kabilah dari Madinah. Sebelum Islam datang, mereka adalah musuh bebuyutan. Saling berebut pengaruh, saling mengalahkan. Tidak berlalu bulan kecuali terjadi persengketaan atau peperangan antara mereka. Akibatnya, mereka tidak bisa fokus mendidik anak, membangun masyarakat dan gagal menata kehidupan generasi penerus. Sebab tidak ada ketentraman, seakan-akan rasa aman telah hilang dari jiwa mereka. Ketakutan dan kekhawatiran selalu menghantui mereka.

Namun, setelah Islam datang. Mereka bersatu dalam naungan Islam, saling berkasih sayang di bawah naungan iman. Kecintaan antara mereka tumbuh laksana ilalang di musim hujan. Bersemi dan indah. Ukhuwah islamiyah begitu menawan di hati mereka.

Di antara kenikmatan ukhuwah islamiyah adalah dengan ini seorang muslim bisa merasakan manisnya iman. Rasulullah SAW bersabda:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّار

“Tiga sifat yang jika ada pada diri seseorang, ia akan meraih manisnya iman: pertama, Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya. Kedua, ia mencintai seseorang, tidaklah mencintainya melainkan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketiga, ia membenci untuk kembali kepada kekafiran—setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkannya darinya—sebagaimana ia benci apabila dilempar ke dalam api.” (HR. Muttafaqun ‘Alaihi)

Walhasil, ukhuwah islamiyah adalah nikmat yang tidak terkira nilainya. Ia merupakan pilar pembangunan masyarakat. Semoga ukhuwah islamiyah ini bisa diterapkan pada kehidupan umat Islam. Agar terbentuk jalinan iman yang memunculkan loyalitas, pembelaan dan cinta terhadap sesama muslim.*

Sumber : Majalah An-najah Edisi 116 Rubrik Tema Utama

Penulis : Akram Syahid

Editor : Anwar