Ulama’ Robbani Dalam Kancah Pergerakan

Muhammad Al Fatih, Pembebas Konstatinopel
Muhammad Al Fatih, Pembebas Konstatinopel
Muhammad Al Fatih, Pembebas Konstatinopel
Muhammad Al Fatih, Pembebas Konstatinopel

An-Najah.net – Kehadiran da’i dan ulama’ robbani dalam pergerakan Islam adalah mimpi yang sangat menakutkan bagi jama’ah dan kelompok yang menyimpang dari akidah-tauhid.

Karena, para ulama akan mengawal setiap langkah perjuangan Islam dengan ilmu dan bashiroh. Nasehat dan arahan mereka menjadi power yang membangkitkan gairah juang bagi pemuda dan harokah Islam. Bashiroh ulama mampu menyingkap setiap munafik dan zindik yang menyusup ke dalam tubuh umat Islam. Inilah yang ditakutkan oleh aliran, kelompok dan ormas menyempal dari akidah serta ibadah shohihah.

Ulama robbani ini memadukan antara keberanian menyampaikan kebenaran dengan kezuhudan terhadap dunia. Ilmu yang mendalam membuat mereka hanya takut kepada Allah swt.

Tentang sifat ini, Allah menjelaskan

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (Fathir: 28)

Ulama robbani ini telah hadir dalam medan perjuangan Islam di masa lalu dan akan senantiasa hadir bersama pejuang kebenaran dimanapun mereka berada, hingga akhir zaman. Rasulullah  saw menjelaskan

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku, selalu unggul di atas kebenaran. Orang-orang yang membenci mereka tidak akan mampu membahayakan mereka. Keadaan mereka akan senantiasa seperti itu, hingga ketentuan Allah (kiamat) datang.” (HR. Muslim)

Pada masa Sultan Nuruddin Zanki, ulama robbani hadir mengawal beliau dalam berjuang menegakkan Islam. Beliau adalah syaikh Abdul Qodir Jaelani. Ulama kharismatik penyebar akidah ahlu sunnah.

Keluhuran akhlak dan kegagahan Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk kota Konstatinopel, tidak lepas dari jasa alim robbani, Syaikh Syamsuddin ‘Aaq. Sejak muda, Sultan al-Fatih dididik dengan akhlak mulia oleh Syaikh ‘Aaq. Beliaulah yang mensuport dan memberikan arahan-arahan kepada Sultan Muhammad al-Fatih dalam penaklukan Konstatinopel.

Saat pasukan Islam merayakan kemenangan atas Byzantium, mereka berhasil merebut kota Konstatinopel, Sultan al-Fatih berkata, “Kegembiraanku bukan karena kita mampu menaklukkan kota ini, akan tetapi kegembiraanku adalah karena adanya laki-laki ini –Syaikh ‘Aaq- pada zamanku.”

Syaikh Aaq, mengingatkan Sultan dan pasukan Islam untuk tidak berlarut dalam kemenangan, dan tidak terlena dengan dunia. Pernah suatu hari, Sultan al-Fatih mengirim 1000  dinar emas kepada beliau sebagai hadiah, namun dengan halus beliau menolaknya. Di sini kezuhudan beliau teruji.

Pun keberanian dan keistiqomahan Sultan Ageng Tirtayasa berjihad melawan kafir belanda, tidak lepas dari bimbingan Syaikh Yusuf, ulama mujahid mantan panglima Sultan Hasanuddin.

Dan kegigihan pangeran Diponegoro yang bergelar, khalifatullah Amirul Mukminin Panotogomo ing Tanah Jawi, berkat jasa ulama mujahid, Kiyai Mojo dan Ghozali dari Solo. Kemurnian akidahnya menjadikan beliau tidak sudi bekerja sama dan tunduk dibawah kekuasaan Kristen Belanda. Kedalaman ilmu diennya, membuat beliau menuntut Belanda agar hengkang dari tanah jawa, sehingga umat Islam bebas menerapkan syari’at Islam.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 76 Rubrik Tema Utama

Penulis : Akram Syahid

Editor : Anwar