Umat Islam Akhir Zaman Seperti Hidup Setelah Ashar

Umat Akhir Zaman
Umat Akhir Zaman

An-Najah.net – Jarak diutusnya Rasulullah SAW hingga kiamat nanti adalah waktu yang sangat dekat jika dibandingkan umur dunia yang sudah sangat lama, sejak sebelum Adam menempatinya bersama Hawa. Rasulullah SAW bersabda:

“Perumpamaan kalian dan dua ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) adalah seperti seorang yang menyewa pekerja-pekerja. Ia berkata: “Siapakah yang mau bekerja untukku dari pagi hingga tengah siang dengan upah satu qirath?” Maka bekerjalah Yahudi. Lalu ia berkata: “Siapakah yang mau bekerja untukku dari tengah siang hingga shalat ashar dengan upah satu qirath?” Maka bekerjalah Nasrani. Kemudian ia berkata: “Siapa yang mau bekerja untukku dari ashar hingga tenggelam matahari dengan upah dua qirath?” Maka (bekerjalah suatu kaum, dan kalianlah mereka.Marahlah Yahudi dan Nasrani. Mereka berkata: “Kenapa kami yang lebih banyak pekerjaannya tetapi pemberiannya lebih sedikit?” Allah berfirman: “Apakah Aku mengurangi sesuatu dari hak kalian? Mereka berkata: “Tidak.” Allah berfirman: “Itulah keutamaan-Ku, Aku berikan kepada siapapun yang Aku kehendaki.” (HR. Al-Bukhari no. 2268)

Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّمَا أَجَلُكُم فِي أَجَلِ مَنْ خَلَا مِنَ الْأُمَمِ مَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعَصْرِ وَمَغْرِبِ الشَّمْسِ

“Sesungguhnya ajal kalian dan ajal umat-umat yang telah lalu hanyalah seperti masa antara shalat ashar dan tenggelamnya matahari.” (HR. Al-Bukhari no. 3459)

Hadits-hadits di atas semuanya menunjukkan bahwasanya apa yang tersisa dari umur dunia dibandingkan umurnya yang telah lalu adalah waktu yang sangat sedikit. Umat Muhammad SAW adalah kaum terakhir yang hidup di muka bumi. Sebagaimana Rasulullah SAW adalah rasul terakhir yang Allah subhanahu wa ta’ala utus kepada manusia.

Rasulullah SAW memberikan perumpamaan bahwa sisa umur umat Islam seperti sisa waktu ashar hingga terbenamnya matahari. Karena dalam riwayat lain disebutkan bahwa umur orang Yahudi seperti jarak antara waktu Shubuh dengan Dhuhur, sedang umur orang Nashrani seoerti jarak antara waktu Dhuhur dengan waktu Ashar. Maka terbenamnya matahari bisa bermakna berakhirnya umur umat Islam, yaitu ketika datangnya angin lembut yang mencabut setiap nyawa yang di dalam hatinya ada keimanan walapun sebesar biji sawi.

Batas waktu tersebut menggambarkan jarak  yang sangat dekat dengan peristiwa kiamat. Yang tersisa di muka bumi tinggal orang kafir. Sehingga kiamat dalam bentuk kehancuran alam semesta akan menimpa kepada mereka. Dengan demikian waktu maghrib adalah waktu dekatnya kiamat dan waktu setelahnya bisa juga bermakna hari akhir atau kehidupan akhirat. Wallahu a’lam bish shawab.

Pesan Tersirat

Lalu apa pesan yang tersirat di balik perumpamaan umur umat Islam seperti sisa waktu antara Ashar hingga Maghrib?

Ada yang menarik untuk direnungkan ketika Rasulullah SAW menggambarkan bahwa kehidupan kita sekarang seperti kondisi bada Ashar. Pada saat yang sama Allah SWT mengingatkan manusia akan pentingnya memperhatikan waktu Ashar.

Allah berfirman yang artinya: Demi waktu Ashar (wal Ashri). Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (QS. Al-Ashr: 1-3)

Para ulama menjelaskan bahwa apabila Allah SWT bersumpah dengan makhluk-Nya, itu merupakan isyarat agar manusia memperhatikan apa yang menjadi objek sumpah tersebut. Karena pasti hal itu sangat penting untuk dan memiliki makna yang sangat mendalam. Maka, dalam hal ini Allah menginginkan agar manusia memperhatikan waktu Asharnya.

Kalau kita perhatikan secara umum, ternyata perilaku kebanyakan manusia dalam menggunakan waktu bada ashar sangat tergantung dengan rencana dan planning di waktu isya dan setelahnya. Jika mereka memiliki rencana, program dan pekerjaan penting, mereka akan menggunakan waktu Asharnya untuk menyiapkannya. Namun bila mereka tidak memiliki rencana dan planing besar untuk bada isya-nya, kebanyakan kita cenderung santai dan menggunakan waktu Ashar untuk hal hal yang tidak bernilai.

Jika hal itu kita kiaskan dengan perbandingan umur umat Islam dan perjalanan waktunya. Bisa kita simpulkan bahwa sikap hidup manusia di dunia (tentang bagaimana mereka menggunakan usia dan mengisi kehidupannya) sangat tergantung dengan rencana dan program dia nanti dalam kehidupan alam barzakh dan akhiratnya.

Karenanya, visi dan paradigma manusia tentang kehidupan di dunia sangat tergantung dengan rencana dan planning tentang kehidupan akhirat.

Bagi orang beriman, karena dia akan merencanakan kehidupan akhirat yang terbaik (surga), dia akan mengisi waktu dalam kehidupannya untuk memperbanyak bekal bagi kehidupan akhiratnya. Seorang mukmin sadar bahwa surga sangat mahal, harus ditebus dengan amalan spesial yang bisa mendatangkan rahmat Allah SWT.

Allah mengingatkan orang-orang beriman untuk tidak meniru gaya dan lifestyle orang kafir. Umumnya orang kafir menjadikan dunia seperti taman bunga yang membuat mereka tergoda untuk memetiknya.

Allah berfirman:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Rabb kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.  (QS. Thaha 131)

Maka, bagi orang kafir dunia seperti bunga yang merah merona, segar, cantik, indah dan bau harumnya menggoda seseorang untuk memetiknya. Namun, begitu bunga tadi dipetik, tak berapa lama bau harumnya akan hilang, keindahannya akan pudar, merah segarnya akan segera layu, lalu mengering dan hilang ditiup angin.

Begitulah kehidupan orang kafir, semua capaian materi duniawi yang berhasil mereka peroleh, seperti bunga yang bentuk dan bau harumnya menggoda. Namun setelah mereka mencapai semua kenikmatan materi tadi, maka dunia yang mereka peroleh harus ditinggalkan begitu saja saat ajal telah mendatanginya.

Adapun bagi orang beriman, dunia adalah ladang amal, negeri bercocok tanam. Bunga bukanlah hasil akhir. Musim bunga bukanlah waktu untuk memanen. Justru masa itu merupakan permulaan untuk menjadi buah yang kelak akan dipanen.

Penulis : Abu Fatiah Al Adnani

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 147 Rubrik Akhir Zaman

Editor : Anwar