Urgensi Kepemimpinan dalam Islam

Ilustrasi, Halal dan haram kepemimpinan dalam islam
Ilustrasi, Halal dan haram kepemimpinan dalam islam
Ilustrasi, Halal dan haram kepemimpinan dalam islam
Ilustrasi, Halal dan haram kepemimpinan dalam islam

An-Najah.net – Islam adalah agama yang sempurna.Salah satu wujud kesempurnaan itu ialah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik yang berhubungan dengan Allah SWT (Hablum minallah), maupun hubungan dengan manusia (Hablum minannas) termasuk di antaranya masalah kepemimpinan.

Rasulullah SAW bersabda

وَلَا يَحِلُّ لِثَلَاثَةِ نَفَرٍ يَكُونُونَ بِأَرْضِ فَلَاةٍ إِلَّا أَمَّرُوا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ

“Tidak diperkenankan bagi tiga orang yang berada di padang luas melainkan mereka mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin.” (HR. Ahmad)

Hadits di atas mengisyaratkan tidak dibolehkan seseorang hidup tanpa pemimpin meskipun dalam jumlah kecil, hanya tiga orang saja. Maka, suatu keharusan ada satu orang yang diangkat sebagai pemimpin dalam komunitas tersebut.

Dalam hadits tersebut Rasulullah SAW menekankan pentingnya kepemimpinan dalam kehidupan umat Islam. Bahkan agama tidak akan tegak tanpa adanya kepemimpinan dan urusan manusia tidak akan berjalan lancar tanpa pemerintahan karena antara satu dengan yang lain saling membutuhkan.

Kepemimpinan Pada Masa Sahabat

Begitu wajibnya mengangkat pemimpin dalam Islam, sampai-sampai para sahabat Rasulullah SAW mengundur penguburan jenazah Rasulullah SAW. Hingga mereka memilih pemimpin yang menggantikan beliau. Lewat pertemuan alot, para sahabat sepakat memilih Abu bakar As-Shiddiq. Mereka pun membaiat Abu Bakar RA sebagai pengganti Rasulullah SAW. Setelah baiat selesai, Rasulullah dimakamkan oleh para sahabat yakni pada hari Rabu, dua hari setelah beliau wafat. Ini menunjukkan betapa pentingnya kepemimpinan dalam Islam.

Urusan manusia, apalagi bangsa, tidak akan baik tanpa dibimbing dalam bingkai kepemimpinan. Pakar ushul fikih Abu Hamid al-Ghozli menjelaskan urgensi imamah (kepemimpinan) dalam Islam,

“Sesungguhnya dunia tidak akan aman, keamanan untuk nyawa maupun harta tidak bisa diraih tanpa diatur oleh kekuatan pemerintah.”(Al-Iqitshad fil I’tiqod, hlm. 199)

Hal yang sama ditegaskan oleh Syaikhul Islam IbnTaimiyah RHM. Beliau menulis dalam kitab Maj’mu Fatawa, “Sesungguhnya umat manusia tidak akan baik permasalahan dunia maupun akhiratnya tanpa berkumpul dan saling tolong menolong. Mereka harus terkoordinasi untuk meraih kemaslahatan agama maupun dunia mereka.”(Al-Hisbah, hal. 8).

Banyak hukum Islam yang tidak bisa dilaksanakan tanpa dilindungi oleh institusi pemerintahan, baik Negara atau Khilafah. Tentu saja institusi ini adalah institusi yang menerapkan syariat Islam secara kaffah. Kalaupun Negara sekuler memberi ruang kepada umat Islam untuk menerapkan perda syari’ah, seperti di Indonesia, pasti pelaksanaannya terbatas dan tidak bisa secara kaffah, yaitu selama tidak bertentangan dengan nilai atau undang-undang sekuler di negeri tersebut.

Misalnya hukum hudud, jizyah, jihad melawan orang kafir, amar makruf nahi mungkar, dan menghilangkan kesyirikan dan kebid’ahan. Masih banyak aturan ilahi lainnya yang tak bisa ditegakkan. Syariat Islam ini, hampir mustahil dilaksanakan secara paripurna di Negara sekuler. Karena ajaran ini bertentangan dengan nilai sekularisme yang dianut oleh Negara.

Padahal pelaksanaan hukum-hukum ini membawa kemaslahatan yang luar biasa bagi masyarakat. Rasulullah SAW bersabda,

حَدٌّيُعْمَلُ بِهِ فِي الْأَرْضِ خَيْرٌ لِأَهْلِ الْأَرْضِ مِنْ أَنْ يُمْطَرُوْا أَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا

“Sebuah hukum yang ditegakkan di bumi lebih baik dari hujan selama lima puluh hari.” (HR. An-Nasa’i)

Dalam menjelaskan hadits ini, Imam Ibnu Taimiyah berkata, “Hal ini bisa demikian, sebab kemaksiatan adalah sebab berkurangnyarizki, memunculkan ketakutan terhadap musuh. Sebagaimanatermaktub dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah. Jika hudud ditegakkan, ketaatan kepada Allah semakin meningkat, sebaliknya kemaksiatan berkurang. Sehingga rezeki dan pertolongan akan diraih.” (Assiyasahasy-Syar’iyyah, hal. 68)

Sumber : Majalah An-najah Edisi 103 Rubrik Tema Utama

Penulis : Akram Syahid

Editor : Anwar