Browse By

Belajar kisah Musa, Visi Politik Al-Quran

Ilustrasi Musa V Fir'aun, Visi Politik dalam Al Qur'an

Ilustrasi Musa V Fir’aun, Visi Politik dalam Al Qur’an

An-Najah.net – Pasca aksi 212 yang fenomenal, banyak yang mencoba menerawang, ke mana arah politik umat Islam. Apakah cukup dengan membingkai politik dengan Al-Maidah: 51 yang bermakna membangun loyalitas politik sesama muslim dan anti terhadap non muslim? Ataukah ada agenda politik lebih jauh yang akan dituju?

Kegelisahan yang bagus. Berangkat dari kegelisahan, orang akan mencari jawaban. Dan umat Islam tentu akan menjadikan Al-Qur’an sebagai muara segala kegelisahannya. Jika dalam Al-Qur’an tidak ditemukan, bergeser kepada Sunnah Nabi SAW. Begitulah dua pusaka ini niscaya menjadi panduan umat, baik dalam tataran individu maupun jamaah. Semua perbedaan pendapat mesti dirujuk kepada dua pusaka tersebut agar umat selalu dalam persatuan. Tak ada yang ngotot dengan pendapatnya sendiri, tapi sama-sama tunduk terhadap kitabullah.

Keberhasilan menghimpun jutaan umat pada 212 mendesak untuk  dilanjutkan dengan rumusan arah kebangkitan yang jelas. Agar perjalanan umat tidak sekedar sebuah eksperimen. Sebab eksperimen telah Allah suguhkan dalam kisah perjuangan para pendahulu, sejak zaman Nuh, Ibrahim, Musa, Isa AS hingga Muhammad SAW. Semuanya terekam dengan baik dalam Kitabullah. Bahkan spesial untuk kita, deretan eksperimen itu berlanjut dalam buku sejarah, sejak era khulafaur rasyidin, perang salib hingga dinamika modern di berbagai belahan dunia.

Salah satu yang paling menarik adalah kisah perseteruan al-haqq melawan al-batil yang diwakili oleh Musa melawan Firaun. Penggambarannya begitu detail dalam Al-Qur’an sejak nabi Musa masih bayi hingga tenggelamnya Firaun dan bala tentaranya lalu berlanjut dengan dinamika pembangunan sosial internal Bani Israil yang rumit.

Dua Agenda Politik

Tentang misi politik, umat Islam bisa berkaca pada kisah Nabi Musa tatkala diberi tugas oleh Allah untuk menghadapi Firaun. Meski kekuasaan yang sekarang berjalan tidak sejahat Firaun, tapi kita bisa mengambil substansi pertarungan antara Musa melawan Firaun. Bahwa Firaun adalah simbol kekuasaan jahiliyah, kombinasi antara kedurhakaan kepada Allah dan kezaliman kepada rakyat. Sepanjang dua masalah tersebut terdapat pada suatu rezim, cara menghadapinya sama, menggunakan cara yang pernah digunakan Musa dalam menghadapi Firaun. .

Surat Thaha: 47 merekam kisah Musa, yang mendapat bimbingan langsung dari Allah tentang apa yang harus dilakukan. Simak penuturan ayat berikut:

فَأْتِيَاهُ فَقُولَا إِنَّا رَسُولَا رَبِّكَ فَأَرْسِلْ مَعَنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا تُعَذِّبْهُمْ قَدْ جِئْنَاكَ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكَ وَالسَّلَامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى

Maka datanglah kamu berdua (Musa dan Harun) menemui Firaun. Katakan kepadanya, “Kami berdua adalah utusan Tuhan Anda (Allah)yang membawa tuntutan lepaskan Bani Israil bersama kami dan hentikan penyiksaan kepada mereka. Sungguh kami membawa bukti dari Tuhan Anda tentang kebenaran ucapan kami, maka keselamatan bagi siapa yang mengikuti hidayah”. (QS. Thaha: 47)

Inti diplomasi Musa as ada dua hal.

Pertama, Musa as menegaskan posisinya di hadapan Firaun dengan narasi jelas, tanpa basa-basi.

Musa dan Harun datang sebagai utusan Allah, bukan atas nama pribadi. Kalimat ini mengandung pesan menolak ketuhanan Firaun dan menegaskan ada tuhan  hakiki yaitu yang menciptakan langit dan bumi. Tuhan Musa dan tuhan Firaun juga. Tuhan inilah yang memberi mandat Musa dan Harun untuk menghadap Firaun si tuhan palsu. Artinya, legitimasi ketuhanan Firaun diruntuhkan oleh Musa.

Jika misi ini kita tarik pada realita kontemporer, mengandung makna bahwa upaya melawan kekuasaan manapun di muka bumi ini, konten pertama yang harus tersampaikan adalah nilai ideologi al-haqq. Alasan pertama umat Islam melawan rezim adalah karena ideologinya yang jahiliyah, bukan persoalan duniawi.  Umat Islam terbebani amanat ini, sebagai kewajiban melekat dalam misi politik diplomatik terhadap kekuasaan manapun.

Jika sistem hukum, ekonomi, politik dan militernya jahiliyah, umat Islam wajib menggugurkan legitimasinya dan berjuang menggantinya dengan sistem Islam. Demokrasi, riba, hukum Belanda, legalisasi perzinaan, legalisasi judi, miras, narkoba dan sebagainya masuk dalam ranah misi pertama ini. Ringkasnya, merubuhkan bangunan sistem jahiliyah dan menggantinya dengan sistem hidayah.

Kalaupun saat ini baru pada tahap sosialisasi kewajiban loyalitas sesama muslim (spirit Al-Maidah: 51) tapi umat harus sudah mengendapkan mindset tentang kewajiban merubuhkan sistem jahiliyah. Cepat atau lambat wajib mengarah pada misi tersebut. Mungkin atau mustahil itu hanya soal rasa di hati kita, seyogyanya tak membelokkan dari visi besar, sebab Allah yang memerintahkan pasti Allah akan menolong.

Kedua,  melawan kezaliman.

Firaun secara fakta melakukan kezaliman, terutama terhadap Bani Israil. Musa menegaskan misi ini, yaitu permintaan untuk melepas belenggu perbudakan dari Bani Israil dan menghentikan penyiksaan sistematis terhadap mereka. Jika misi ini ditarik pada realita kontemporer, bermakna melawan segala bentuk kezaliman yang dilakukan rezim terhadap rakyat.

Misi ini tidak kalah berat dibanding misi pertama. Mengkritik kelakuan pihak yang kuat saja bermasalah. Apalagi menekan dan memaksa untuk menghentikan kezalimannya. Kekuasaan di manapun bertendensi kezaliman. Dan sejarah dipenuhi kisah memilukan akibat melawan kezaliman kekuasaan.

Korupsi, penjualan aset negara kepada asing, ketimpangan hukum, kesenjangan ekonomi, kezaliman kepada ulama dan sebagainya merupakan contoh-contoh kasus yang termasuk dalam misi kedua ini. Menghentikan kezaliman itu soal itikad baik, bukan soal sistem demokrasi atau kerajaan.

Sistem kerajaan sekalipun, jika rajanya adil maka kezaliman tak terjadi. Karenanya, menjadi kontra produktif dengan misi pertama jika umat Islam dalam seruannya untuk menghentikan kezaliman penguasa menyuguhkan demokrasi sebagai solusi, sambil membagus-baguskan rupanya. Demokrasi adalah sistem politik jahiliyah, obyek yang harus dirobohkan dalam misi pertama, bagaimana mungkin ia dijadikan dewa penyelamat dalam mengemban misi kedua?

Musa as meletakkan dua agenda ini dalam satu tarikan narasi, tidak terpisah apalagi kontradiksi. Bahwa seruan untuk menghentikan berbagai macam kezaliman harus dibingkai dengan ideologi kebenaran yaitu Islam. Jika sudah Islam tapi masih zalim, PR belum selesai. Jika sudah tidak zalim, tapi sistem masih jahiliyah, PR berlanjut. Dan yang paling buruk, sistemnya jahiliyah (demokrasi), dikombinasi prakteknya zalim. Ini ibarat 11-12 dengan Firaun. Perjalanan politik umat Islam baru dianggap selesai jika berhasil merubuhkan sistem jahiliyah lalu diganti sistem hidayah, dan praktek bernegaranya adil tidak zalim. wallaua’lam bis-shawab.

Sumber dari Majalah An-Najah Rubrik Kolom Hal 48

Editor : Anwar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *