Kewajiban Mengangkat Pemimpin berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah

kewajiban mengangkat pemimpin dalam islam
kewajiban mengangkat pemimpin dalam islam
kewajiban mengangkat pemimpin dalam islam
kewajiban mengangkat pemimpin dalam islam

An-Najah.net – Dalil yang menjadi acuan para ulama dalam berkesimpulan bahwa membentuk kepemimpinan itu wajib berasal dari Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma, Qiyas, dan mashlahahmursalah, serta pendapat para ulama. Salah satu dalil dalam Al-Qur’an adalah firman Allah SWT:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulilamri di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 59)

Ada dua pendapat tentang ulil amri dalam ayat di atas. Ada yang mengatakan mereka adalah para ulama, ada juga yang mengatakan mereka adalah para umara’ (pemimpin). Imam Ath-Tbhobary merojihkan bahwa ulil amri dalam ayat di atas adalah para pemimpin, (ath-Thobary, 7/497).

Sedangkan imam Ibnu Katsier mengatakan, “Nampaknya –wallahu A’lam- ayat ini memaksudkan para umara’ sekaligus para ulama’.” (Ibnu Katsier, 3/303).

Logika dalil dalam ayat ini ialah, Allah memerintahkan umat Islam untuk menaati ulil amri, yaitu para pemimpin dan penguasa mereka. Perintah untuk taat berarti perintah untuk mengadakan dan mengangkat ulil amri. Jadi hukum membentuk dan mengangkat pemimpin adalah wajib. (al-Imamah al-Udzma,hal. 47)

Dalam ayat lain Allah memerintahan umat Islam untuk berhukum kepada Islam secara kaffah,(Qs, Al-Maidah: 83 & 49),dan pelaksanaan hukum Islam secara utuh hampir mustahil tanpa ada sebuah institusi Islam yang menaungi pelaksanaannya. Di sinilah kewajiban memilih dan mengangkat pemimpin menemui relevansinya.

Sunnah Nabi Dalam Kepemimpinan

Adapun dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda,

مَنْمَاتَوَلَيْسَفَيعُنُقِهِبَيْعَةٌمَاتَمِيْتَةًجَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang mati, dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati seperti matinya orang jahiliyah.” (HR. Muslim).

Ini juga hadits yang menuntut muslimin untuk mengadakan kepemimpinan. Jika, tidak maka kewajiban untuk membaiat pemimpin tidak akan terlaksana. Jadi perlu diadakan pemimpin agar kewajiban itu gugur.

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda, “Haram bagi tiga orang yang menetap di sebuah ladang di muka bumi ini, kecuali salah seorang dari mereka menjadi pemimpin teman-temannya.” (HR. Abu Dawud).

Mengenai hadits ini, syaikhul Islam Ibnu Taimiyah RHM berkata, “Jika di komunitas yang sedikit dan perkumpulan beberapa orang saja, Rasulullah SAW memerintahkan untuk mengangkat pemimpin. Maka tentunya ini menjadi dalil bahwa perkumpulan besar dari itu, lebih wajib untuk mengangkat pemimpin.” (Al-Hisbah, hal. 11)

Adapun contoh perbuatan Rasulullah SAW, bisa dilihat dari dakwah beliau semenjak di Makkah hingga pembentukan daulah Islamiyah di Madinah. Di mana beliau membentuk sistem pemerintahan yang bertujuan untuk mengatur kehidupan masyarakat dengan Syari’at Islam.

Ustadz Abdul Audah berkata, “Rasulullah SAW telah mengajarkan dan membentuk sistem perpolitikan Islam. Kemudian membentuk pemerintahan Islam untuk umat Islam –kala itu-. Beliau sendiri menjadi imam dan pemimpinnya. Tugas pokok beliau ada dua: (1) Tabligh, menyampaikan wahyu Allah SWT, dan (2) Menegakkan perintah Allah SWT dan mengarahkan syariat Allah ini untuk bisa menjadi sistem perpolitikan.” (Al-Islam wa Audho’una As-Siyasah, hal. 128)

Selain itu, para ulama, terutama sahabat Rasulullah SAW berijma’ atas wajibnya imamah ini. Seperti ijma’nya untuk mengangkat Abu Bakar RA sebagai khalifah pengganti Rasulullah SAW, (Asy-Syahrastani, Nihayah Iqdam, hal. 480).

Ijma’ ini telah dinukil oleh imam An-Nawawi dalam syarh shahih muslim (12/205), juga imam al-Haitami dalam ash-Shawa’iq al-Muharriqohfie Rod ‘Ala Ahli Bida’ wa Zandaqoh (Hal.7), Ibnu Khaldun dalam muqoddimah-nya(hal. 191). Imam al-Mawardi berkata, “Kewajiban mengangkat pemimpin bagi yang memiliki kelayakan adalah wajib berdasarkan ijma’.” (Al-Ahkam As-Sulthoniyah, hal. 5)

Selain itu, berangkat dari kaidah fiqih‘MaaLaaYutimmu al-wajibuillabihifahuwa wajib’, (kewajiban yang tidak bisa sempurna tanpa sesuatu hal, maka hal itu menjadi wajib) para ulama berkesimpulan,

“Pelaksanaan syari’at-syari’at Islam adalah wajib dan tidak mungkin terlaksana tanpa dipayungi oleh kekuatan, sistem dan institusi yang kuat. Hadd, jihad, mapun syariat yang bersifat kemasyarakatan hampir mustahil dilaksanakan tanpa itu semua. Oleh karena itu mengangkat pemimpin dan membentuk Negara Islam itu wajib, karena ia sarana demi terlaksananya beberapa syari’at, (Al-Imamah al-Udzma, hal. 58)

Sumber : Majalah An Najah Edisi 103 Rubrik Tema Utama

Penulis : Akram Syahid

Editor : Anwar