Wala’ Salah Kaprah

wala' salah kaprah
wala’ salah kaprah

An-Najah.net – Bara’ yang berarti permusuhan dan kebencian mesti total diberikan pada orang-orang kafir yang telah menghinakan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, walau dalam realisasinya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Bukan malah wala’ atau loyalitas yang diberikan padanya dengan alasan kemanusiaan atau karena takut dikatakan Islam radikal, fundamentalis atau sebuatan lain yang senada.

Maka, agar terhindar dari sikap yang salah ini, mesti mengetahui beberapa bentuk-bentuk wala’ kepada orang kafir yang hari ini masih dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dan terkesan dibiarkan bahkan dikembang biakkan.

Pertama, ridha pada kekufuran orang-orang kafir, sama sekali tidak mengkafirkan atau ia ragu dengan kekufuran mereka, atau membenarkan kelompok-kelompok yang sudah kafir.

Karena termasuk dari keyakinan Ahlu sunnah, bahwa loyalitas dan permusuhan hati mesti sempuma. Maka, mereka yang mencintai orang kafir karena kekafirannya berarti dia telah kafir menurut kesepakatan ulama dan tak satu ulama pun yang mengingkarinya.

Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun rasa cinta dan permusuhan yang  ada dalam hati, rasa suka dan benci maka harus sempurna, kalau tidak, maka iman pun tidak sempuma. Adapun perbuatan anggota badan disesuaikan dengan kemampuannya. Maka bila sudah demikan, Allah Ta’ala akan memberikan pahala perbuatannya secara sempuma.

Kedua, menjadikan mereka sebagai teman dekat dan penolong atau mengikuti ajaran mereka. Padahal Allah Ta’ala telah melarang sikap seperti ini.

Allah Ta’ala berfirman, “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu agar terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS. Ali Imran: 28)

Ibnu Jarir ath-Thabari berkata, “Barangsiapa yang menjadikan orang kafir sebagai teman dekat dan penolong, memberikan loyalitas pada ajaran mereka lalu menjauhi orang-orang mukmin, maka ia akan terjauh dari pertologan Allah.

Ia telah berlepas diri dari Allah dan Allah berlepas diri darinya, karena ia telah keluar dari diennya dan mengikuti kekufuran. Kecuali karena memelihara diri dari sesautu yang ditakutkan dari mereka, yaitu takut karena di bawah kekuasaan mereka, lalu terlihat loyalitas dari lisan, tapi hati tetap membenci hal demikian.”

Ketiga, mengimani sebagian ajaran kufur mereka, atau berhukum pada hukum mereka bukan pada hukum Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dan Al-Kitab. Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu Iebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 51)

Keempat, Duduk bersama mereka ketika mencela dan menghinakan ayat-ayat Allah Ta’ala.

Maka Allah berfirman, “Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oIeh orang-orang kafir), makajanganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang Iain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di daIam jahannam. (QS. an-Nisa:140)

Ibnu Jarir berkata, “Dalam ayat ini, dengan jelas Allah Ta’ala memfonis, “Karena saungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.” Yaitu bila kalian duduk bersama orang yang kufur bahkan mencela ayat-ayat Allah, sedangkan kalian mendengarnya. Maka kalian seperti mereka bila tidak langsung meninggalkannya.”

Sumber: Majalah An-Najah edisi 9

Editor: Ibnu Alatas