Walisongo ; Tonggak Kejayaan Dakwah Islam di Jawa

Islamisasi tanah Jawa
Islamisasi tanah Jawa
walisongo, Islamisasi tanah Jawa
walisongo, Islamisasi tanah Jawa

An-Najah.net – Sejauh mana peran Walisongo dalam dakwah di tanah Jawa? Walisongo adalah sebuah majlis atau dewan. Nama, “Sanga” tidak selalu menunjukkan jumlah bilangan “Sembilan”. Secara umum para wali yang tergabung di dalamnya adalah Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati.

Pada era Walisongo, dunia dakwah di tanah Jawa telah sampai pada tahap institusionalisasi syari’ah Islam dalam bentuk negara. Untuk sampai pada fase dakwah ini sudah tentu membutuhkan waktu yang panjang dan tidak secara serta merta dimulai atau final pada masa Walisongo tersebut.

Proses Islamisasi Jawa melewati masa panjang jauh sebelumnya. Boleh dikatakan, Walisongo merupakan salah satu dari mata rantai estafet dakwah yang berjalan.

Namun, harus diakui dunia dakwah. Dakwah Walisongo memang telah mencapai keberhasilan besar pada masa ini. Hampir dipastikan tidak ada daerah strategis di pulau Jawa yang tidak tersentuh Islam. Padahal tantangan dakwah pada masa itu tidak dapat dikatakan mudah. Islam tumbuh dalam wilayah kerajaan Hindu Majapahit yang dianggap berpengaruh di Nusantara.

Founding Fathers Demak

Pasca wafatnya Sunan Gresik, Sunan Ampel diangkat sebagai sesepuh Walisongo yang berperan sebagai mufti dan pimpinan agama se-tanah Jawa. Gagasan awal sekaligus perencana Kerajaan Islam Demak adalah Sunan Ampel. Ia dikenal sebagai Pendiri Kerajaan Islam Demak (Founding Fathers).

Hal inilah yang kemudian dapat digunakan untuk menjelaskan peran Sunan Ampel dalam perencanaan sistem yang mencakup konsepsi, struktur, dan partisipasi dakwah Walisongo di tanah Jawa. Walaupun beliau telah merancang pendirian Kesultanan Islam Demak. Namun, Sunan Ampel membuat fatwa untuk tidak menyerang Majapahit. (Tiar Anwar Bachtiar, Sejarah Nasional Indonesia Perspektif Baru, Jilid I , hal 96)

Alasannya, dari sekian putra Majapahit, hanya Raden Fatah saja yang sesuai untuk menggantikan tahta ayahnya, Prabu Kertabhumi Brawijaya V. Selain itu, jika terjadi serangan Demak atas Majapahit akan menimbulkan fitnah dan presenden buruk di masa yang akan datang.

Fatwa tersebut sempat memantik konflik ringan dengan munculnya faksi Tuban yang terdiri dari karangan ulama muda. Mereka berharap islamisasi Jawa dilakukan secara revolusioner dengan mempercepat runtuhnya Majapahit melalui serangan dadakan. Pertentangan kecil ini dapat diredam, semua pihak akhirnya dapat menerima keputusan fatwa dari mufti besar mereka.

Terkait dengan berdirinya Kesultanan Demak, dewan Walisongo memainkan peran dengan bertindak sebagai lembaga ahlul halli wal aqdi. Majelis dakwah ini menetapkan Raden Fatah sebagai pengemban kekuasaan eksekutif dalam penyelenggaraan negara dan pelaksanaan aturan syari’ah melalui kepemimpinan. Maka Sultan Demak hakikatnya merupakan mandataris majelis Walisongo, yang secara sadar dan ikhlas berada di bawah kontrol dewan ulama tersebut.

Pasca wafatnya Sunan Ampel, kedudukannya sebagai mufti dan sesepuh para wali digantikan oleh Sunan Giri. Fatwa awal yang dikeluarkan oleh Sunan Giri adalah izin untuk melakukan penyerangan terhadap Majapahit sebagaimana pernah diusulkan oleh faksi Tuban terdahulu.

Pada masa Sunan Ampel masih hidup, Sunan Giri termasuk pihak yang mendukung fatwa Sunan Ampel untuk tidak menyerang Majapahit. Namun, pada masa Sunan Giri menjabat sebagai mufti, kondisi kekuasaan telah berbeda.

Rapuhnya pondasi politik dan ekonomi Majapahit telah memancing pihak eksternal keraton melakukan kudeta. Girindawardhana, Adipati Keling, pada tahun 1478 melakukan penyerangan terhadap Majapahit yang saat itu berada dalam tampuk pemerintahan Brawijawa V.

Pasca kudeta itu, terjadilah peralihan kekuasaan. Girindawardhana menggantikan posisi raja sebelumnya dengan menggunakan gelar Prabu Girindawardhana Brawijaya VI. Kekuasaan brawijawa VI tidak berlangsung lama.

Pada gilirannya Girindawardhana VI, terbunuh oleh patihnya sendiri bernama Patih Udara. Patih Udara lantas menggantikannya sebagai raja Majapahit dengan bergelar Prabu Udara Brawijawa VII. Jelasnya, sampai tahun 1518 saat kesultanan Demak telah berdiri, Majapahit masih eksis sebagai sebuah kerajaan di Jawa, meskipun telah mengalami kerapuhan struktural dan surutnya wibawa politik.

Oleh karena itu, serangan ke Majapahit yang hendak dilakukan oleh kesultanan Demak hakikatnya adalah upaya untuk merebut Majapahit agar bisa dikembalikan kepada yang berhak, yaitu Raden Fatah, putra Prabu Kertabhumi Brawijaya V sendiri.

Melihat semakin mapannya pondasi kepemimpinan Kesultanan Demak, Prabu Udara Brawijaya VII merasa khawatir dan terancam kekuasaannya. Brawijaya VII kemudian meminta bantuan Potugis di Malaka.

Melihat gelagat tersebut maka Demak menyerang Majapahit untuk membubarkan persekutuan yang terjadi. Seandainya Majapahit tidak segera diserang pada masa itu, maka dapat dipastikan bahwa Portugis akan menjajah tanah Jawa lebih cepat dari masa agresi Belanda.

Kesuksesan Dakwah Walisongo

Kesuksesan dakwah era Walisongo banyak ditentukan oleh kekompakan gerakan dan kesadaran masing-masing individu untuk mengambil peran serta dalam kerangka dakwah dan jama’ah.

Rahasia kesuksesan tersebut terletak pada kebersamaan kepatuhan terhadap bimbingan ulama, keteladanan yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah, kemampuan, perencanaan yang akurat, pengorganisasian yang matang dan tidak menafikan keberadaan Allah SWT.

Dakwah walisongo hendaknya dipandang sebagai proses. Dakwah Walisongo adalah sebuah seruan yang belum usai. Menggaung di zamannya dan melampui masanya. Namun, butuh sentuhan berkesinambungan yang dimaksud adalah tindakan pada setiap generasi untuk membangun tradisi dakwah. Hakikatnya dakwah adalah proses estafet dan alih generasi dari masa ke masa.

Hukum Sunnatullah terus berjalan, pertarungan antara al haq dan al batil senantiasa ada. Sebagai seorang aktifis dakwah sudah selayaknya menyadari akan ketetapan Allah SWT ini. Maka Kesabaran dan keistiqamahan dalam medan dakwah sangat diperlukan. Namun, tidak boleh ditinggalkan harus berbekal ilmu dan keyakinan masa depan ada di tangan Islam.

Sumber : Majalah An-Najah Rubrik Jelajah edisi 132 Hal ; 28

Penulis : Anwar

Editor : Ihsan