Wanita Tangguh Dibalik Jihad Diponegoro

Diponegoro
Diponegoro

An-Najah.net – Dibalik orang hebat ternyata ada wanita hebat dibelakangnya. Para leluhur pria Diponegoro memberi pengaruh besar secara pribadi dan sebagai sumber inspirasi Diponegoro. Namun para kerabat wanita nampaknya lebih berpengaruh dalam membentuk pandangan hidupnya selama masa anak-anak dan remaja.

Pandangan hidup yang khas itu berakar pada keyakinan agama yang mendalam dan hubungan yang luas dengan masyarakat santri Jawa, hubungan yang tidak biasa bagi seorang kerabat keraton seperti Diponegoro. Keyakinan agama dan hubungan sosial itulah yang akan mempengaruhi kharisma dan gaya kepemimpinan Diponegoro selama perang Jawa.

Diponegoro dibesarkan di bawah asuhan kaum perempuan yang berkepribadian tinggi lagi mulia sampai ia berusia 18 tahun. Hal itu berpengaruh besar pada tumbuh kembang kepribadiannya. Melalui jalur ibu dan kerabat perempuan, diponegoro memiliki hubungan darah dan kekerabatan dengan beberapa kiai terkemuka di Jawa.

Baca Juga : Khilafah di Tanah Jawa, cita-cita Perjuangan diponegoro

Wanita Hebat

Dalam situs www.seraamedia.org  dijelaskan Ibunda Diponegoro, Radan Ayu Mangkorowati, garwo ampeyan Sultan ketiga yang melahirkannya pada usia sekitar 15 tahun merupakan keturunan Ki Ageng Prampelan, seorang tokoh yang sezaman dengan raja pertama Mataram, Panembahan Senopati.

Ki Ageng Prampelan merupakan keturunan ke sepuluh Sunan Gresik atau Sunan Ngampel Denta, salah seorang wali songo yang membentuk sebuah masyarakat Islam di Jawa Timur sebelum berakhimya kerajaan Hindu-Budha Majapahit.

Ibunda Diponegoro lahir di desa perdikan (desa bebas pajak yang diberikan pada pemimpin agama) Majasto yang letaknya dekat dengan pusat Islam di Tembayat. Kedua tempat ini dihuni oleh keturunan Panembahan Kajoran (penentang Amangkurat I, raja mataram yang zalim pada abad ke-17) dan pendukungnya.

Diponegoro juga mendapat dukungan yang besar dari dua daerah tersebut saat meletus perang Jawa. Sebagai satu-satunya anak lelaki Diponegoro sangat dekat dan disayangi oleh ibundanya. Diponegoro di bawah asuhan ibunya sampai usia 7 tahun.

Seorang perempuan lainnya yang ikut berperan membentuk kepribadian dan pandangan hidup Diponegoro adalah neneknya, Ratu Kedaton.

Baca Juga : Wanita-wanita Hebat di dalam islam

Neneknya ini merupakan keturunan panembahan Cokrodiningrat II dari Madura (berkuasa 1680-1707). Kesetiaannya pada Islam yang merupakan ciri menonjol masyarakat Madura, begitu berkesan dan dikagumi Diponegoro. Semangat Maduranya juga menyala-nyala sampai usia senjanya.

Pengaruh terbesar seorang wanita pada pandangan hidup dan kepribadian Diponegoro adalah nenek buyutnya, Ratu Ageng Tegalrejo. Ia dalam pengasuhan Ratu Ageng mulai usia 7 tahun sampai nenek buyutnya meninggal saat Diponegoro berusia 18 tahun.

Diponegoro remaja praktis di bawah didikan seorang perempuan tua berpengaruh, yang kritis dengan perkembangan istana Yogyakarta. Ratu ageng merupakan putri seorang kiai terkemuka di Sragen, dan merupakan keturunan Sultan Bima di Sumbawa, sebuah kesultanan Islam yang begitu kuat menjaga kedaulatannya di kepulauan Nusantara Timur. Diponegoro juga dekat dengan kerabat ratu Ageng yang banyak menjadi pejabat keagamaan di istana.

Ratu Ageng merupakan seorang perempuan yang sangat tangguh. Ia mendampingi sultan pertama dalam semua pertempuran melawan Belanda (1746-1755) sebelum perjanjian Giyanti. Bahkan ia melahirkan anaknya (yang kemudian menjadi sultan ke-2) di lereng gunung Sindoro. Setelah kesultanan Yogyakarta berdiri pasca perjanjian giyanti, Ratu Ageng menjadi panglima pasukan pengawal perempuan, semacam korps srikandi kerajaan.

Baca Juga : Gaya Militer Utsmani dalam Struktur Pasukan Diponegoro

Ratu Ageng juga terkenal ketekunannya dalam mempelajari dan menjalankan nilai-nilai ajaran Islam. Ia suka membaca kitab-kitab agama dan tekun menjaga adat keraton. Usianya sudah enam puluh tahunan ketika ia mulai mengasuh Diponegoro yang saat itu baru berusia tujuh tahun.

Ibu Ideologis

Ternyata benar, ibu itu merupakan pendidik pertama dan yang paling utama. Wanita-wanita diatas adalah manusia-manusia hebat dibalik kehebatan diponegoro. Mereka bisa menanamkan keshalihan pada diponegoro.

Oleh karena itu, lahirnya pemimin yang hebat itu tidak langsung turun dari langit. Akan tetapi, melalui sebuah tarbiyah pendidikan dari ibu yang faham akan visi dan misi dari sebuah perjuangan.

Sudah sepantasnya para ummahat untuk bisa mengambil ibrah, pelajaran dari wanita-wanita hebat dibalik diponegoro. Tugas kita adalah berusaha semaksimal mungkin, allah Swt yang akan menentukannya.

 Penulis : Anwar

Editor : Miqdad