Wanita-Wanita Hebat Dalam Islam

Wanita Sholihah
Wanita Sholihah

An-Najah.net – Wanita hebat akan melahirkan anak-anak yang hebat. Wanita inilah yang akan menjadi madrasah bagi anak-anaknya, sebagaimana ungkapan syair;

‘Seorang ibu adalah madrasah bagi para putranya. Mempersiapkannya adalah mempersiapkan bangsa yang mulia. Seorang ibu adalah taman. Jika kau rawat dia, niscaya tumbuh subur menghijau. Seorang ibu adalah guru dari guru yang pertama. Gerak geriknya mempengaruhi seluruh ufuk’.

Peran wanita untuk menghadirkan generasi hebat hari ini menjadi langka. Tanpa sadar mereka dijauhkan dari  peran sesungguhnya, mendidik anak-anaknya. Mereka lebih senang beraktivitas di luar rumah, menghabiskan hari-harinya di tempat kerja. Senang, bangga dan terkesan prestise saat menjadi wanita karier yang sukses dalam dunia. Mereka melupakan peran sesungguhnya, melahirkan dan mendidik anak untuk menjadi generasi penerus risalah ilahiyah.

Berikut, sebagian kisah wanita hebat pada masa Rasulullah yang berjuang, berjihad dan mampu mendidik anak-anaknya tegar membela agama-Nya. Pelajaran yang tak pernah terlupakan dalam sejarah.

Ummu Imarah

Ummu Imarah adalah wanita Anshar. Ia memiliki keutamaan dan kebaikan, suka berjihad, pemberani, kesatria dan tidak takut mati di jalan Allah. Pada Perang Uhud, ia berperang bersama suaminya, Ghoziyah bin Amru dan dengan kedua anaknya Abdullah bin Zaid dan Hubaib bin Zaid.

Pada siang hari, Ummu Imarah memberikan minum bagi kaum muslimin yang terluka, namun saat melihat kaum muslimin porak poranda, ia segera mendekati Rasulullah SAW dengan membawa pedang untuk melindungi dan menjaga keselamatan Rasulullah. Ia berperang dengan dahsyat, menyerang musuh dengan anak panah dan menggunakan ikat pinggang hingga terluka sebanyak tiga belas tempat.

Putranya, Abdullah bin Zaid menuturkan; ‘Aku terluka pada saat itu dengan luka yang parah dan darah tidak berhenti mengalir. Maka Nabi bersabda; “Balutlah lukamu!”. Sementara ketika itu, ibuku sedang menghadapi musuh, tatkala mendengar seruan Nabi tersebut ibu menghampiriku dengan membawa pembalut dari ikat pinggangnya. Lantas dibalutlah lukaku sedangkan Nabi SAW berdiri, ketika itu ibu berkata kepadaku, “Bangkitlah bersamaku dan terjanglah musuh!”. Hal itu membuat Nabi SAW bersabda:  “Siapakah yang mampu berbuat dengan apa yang engkau perbuat ini wahai Ummu Imarah?”

Kemudian datanglah orang yang tadi telah melukaiku, maka Rasulullah SAW bersabda: “Inilah yang memukul anakmu wahai Ummu Imarah!” Ummu Imarah bercerita: “kemudian aku datangi orang tersebut kemudian aku pukul betisnya hingga roboh.”

Al Khansa’

Keberhasilan Al Khansa’ adalah contoh keberhasilan menjadikan madrasah bagi anak-anaknya. Setelah mengenal Islam, dengan kepiawaiannya membuat syair, ia mengobarkan semangat anak-anaknya untuk membela agama Allah.

‘Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian telah masuk Islam dengan ketaatan. Kalian telah berhijrah dengan sukarela. Demi Allah yang tiada ilah kecuali Dia, sesungguhnya kalian adalah putra-putra dari seorang wanita yang tidak pernah berkhianat kepada ayah kalian. Kalian juga tidak pernah memerlukan paman kalian, tidak pernah merusak kehormatan kalian dan tidak pula berubah nasab kalian. Kalian mengetahui apa yang telah Allah janjikan bagi kaum muslimin berupa pahala yang agung bagi yang memerangi orang-orang kafir. Dan ketahuilah, negeri yang kekal lebih baik dari negeri yang fana’.

‘Ketika datang waktu esok, dan Allah menghendaki kalian masih selamat, persiapkanlah diri kalian untuk memerangi musuh dengan penuh semangat. Memohonlah kepada Allah untuk kemenangan kaum muslimin. Jika kalian melihat perang berkecamuk, api telah berkobar, maka terjunkanlah kalian di medan laga. Bersabarlah kalian menghadapi panasnya perjuangan, niscaya kalian akan berjaya dengan ghanimah dan kemuliaan atau syahid di negeri yang kekal’.

Begitulah Al Khanza’ memberikan semangat kepada keempat putranya untuk berperang di jalan Allah menghujan dalam diri anak-anaknya. Dengan semangat mereka berjuang, sampai akhirnya semuanya terbunuh di medan laga. Saat berita kematian keempat anaknya disampaikan kepada Al Khanza’, lahirlah ucapanya yang cukup masyhur dan tercatat dalam tinta sejarah umat Islam. ‘Segala puji bagi Allah yang memuliakan diriku dengan syahidnya mereka, dan aku berharap kepada Rabb-ku agar Dia mengumpulkan diriku dengan mereka dalam rahmat-Nya’.

Ummu Mahjan

Ummu Mahjan dapat dikatakan wanita yang tidak diperhitungkan bagi kebanyakan manusia. Dianggap wanita yang lemah, berkulit hitam tidak ada kemampuan untuk ikut andil dalam menguatkan masyarakat Islam. Ia adalah seorang wanita yang miskin, tubuhnya lemah, orang di sekitarnya mengaggap biasa. Namun, Rasulullah SAW justru menganggap dia seorang yang istimewa.

Diceritakan, ia setiap hari hanya membersihkan masjid. Membersihkan dari kotoran dan dedaunan. Ia menjaga rumah Allah agar tetap bersih, karena di sanalah para pejuang berkumpul, ulama dan berbagai aktivitas sentral kehidupan manusia.

Ummu Mahjan tidak kendor dengan semangatnya, ia terus bekerja dengan tekun hingga beliau meninggal. Saat meninggal, para sahabat menguburkan jenazahnya di malam hari setelah menyolatkan, tanpa memberitahu Rasulullah SAW karena dianggap akan mengganggu tidurnya.

Pagi harinya ketika Rasulullah SAW tidak mendapatinya, Beliau bertanya kepada para sahabat dan dijawabnya bahwa Ummu Mahjan telah meninggal. Seketika itu, Rasulullah SAW meminta para sahabat untuk menunjukkan kuburnya dan Rasulullah akhirnya mensholatinya bersama para sahabat.

Apa yang bisa dipetik dari kisah Ummu Mahjan tersebut, seorang wanita yang tekun dengan pekerjaannya, gigih dan ikhlas dalam beramal. Kelak dari sanalah akan lahir orang-orang besar yang membimbing umat di jalan Allah.

Wanita Wanita Hebat

Dari kisah Ummu Imarah, Al Khansa’ dan Ummu Mahjan tiga wanita di antara sekian banyak wanita-wanita hebat pada masa Rasulullah. Mereka dengan gigih berjuang, beramal dan menghadirkan generasi-generasi pilihan yang tercatat dalam tinta emas sejarah umat Islam.

Lahirnya generasi hebat sangat ditentukan oleh wanita-wanita hebat di belakangnya. Ibu-ibu yang mengasuhnya. Sayangnya, hari ini wanita-wanita hebat telah tergerus oleh perputaran zaman. Mereka lebih suka di luar rumah dengan gemerlapnya dunia, sementara tugas mendidik anak ditinggalkan, kadang diserahkan kepada orang lain.

Jika ini berlanjut, wanita hebat tinggal kenangan. Anak-anak hebat tinggal impian. Kejayaan dan kemuliaan akan jauh dari harapan. Maka saatnya, kembalilah wanita-wanita hebat dengan fitrah kalian, mendidik dan melahirkan generasi hebat. Wallahu ‘alam bish showab.

Penulis : Mulyanto

Sumber : Majalah An-najah Edisi 147 Rubrik Usratuna

Editor : Anwar